Tampilkan postingan dengan label info produk baru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info produk baru. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Januari 2016

Youxia X: Rival Tesla Asal China

Youxia X: Rival Tesla Asal China
Youxia, perusahaan mobil asal China menantang Tesla dengan memperkenalkan sedan listrik pertama mereka bernamaYouxia X. Sedan full listrik ini bertenaga maksimal 348 PS dan akan diproduksi mulai akhir tahun 2016.
Mobil yang muncul awal tahun ini, nantinya akan diberi nama One. Meskipun Youxia X memiliki aura Tesla, sedan ini terlihat memiliki desain sangat indah. Menariknya, grille depan mobil ini adalah layar untuk menampilkan logo produsen, lampu siang hari berwarna mewah atau citra apa saja. Layar tersebut diapit oleh lampu utama berteknologi LED. Di bagian belakang mobil terlihat sebuah spoiler di ujung bagasi, dan lampu belakang LED.


Di dalam kabin, aura Tesla malah semakin kental berkat kehadiran layar berukuran 17,3 inci di konsol tengah. Sistem infotainmennya menggunakan basis Google Android, dilengkapi dengan fasilitas hotspot, televise, pengontrol operasi kendaraan dan lainnya. Uniknya mobil ini bisa mengeluarkan suara supercar popular termasuk Jaguar F-Type, Ferrari 488 GTB, Ferrari LaFerrari dan lainnya.
Motor listriknya mampu menghasilkan tenaga 348 PS yang bersumber dari baterai 40 kWh, 60 kWh, atau 85 kWh. Akselerasi 0-100 km/jam dalam waktu 5,6 detik saja. Jarak jelajah maksimalnya mencapai 220 km, 330 km, dan 460 km, tergantung kekuatan baterai yang digunakan. Sedan menawan ini akan diproduksi akhir tahun 2016 oleh Youxia Motors, perusahaan berbasis di Shanghai.

Porsche Mission E, Mobil Sport Listrik Masa Depan

Porsche tampilkan revolusi penciptaan sportscar elektrik untuk masa depan dalam wujud Mission E.
Porsche Mission E, Mobil Sport Listrik Masa Depan
Inilah cara pabrikan sportscar asal Jerman,Porsche, memberikan gambaran mengenai mobilitas masa depan. Muncul perdana di pameran otomotif Frankfurt Internationale Automobil-Ausstellung (IAA) Cars 2015, Porsche Mission E hadir sebagai mobil elektrik pertama buatan Stuttgart dalam sejarahnya, dan hadir berwujud sportscar empat-pintu.
Mission E masih hadir sebagai mobil konsep, namun tetap memberikan karakter tampilan sekaligus tipikal performa khas DNA Porsche. Porsche begitu bangga dengan penciptaan mobil elektrik pertamanya ini, dan mereka memercayai Mission E akan memiliki signifikansi setinggi model 911 yang pertama kali hadir 50 tahun silam dalam menciptakan era baru kendaraan.
Secara ringkas, Porsche memberikan figur singkat mengenai revolusi yang diboyong oleh Mission E: sportscar empat-pintu dengan empat tempat duduk, bertenaga lebih dari 600 hp (440 kW), daya jelajah berkendara lebih dari 500 km, 0-100 kpj di bawah 3,5 detik, all-wheel drive, all-wheel steering, dan yang paling revolusioner, pengisian daya dari 0-80 persen (hingga daya jelajah terisi 400 km) hanya dalam waktu 15 menit saja. Porsche juga menyematkan teknologi inovatif di dalam kabinnya, yaitu panel instrumen yang dapat diatur melalui pergerakan bola mata pengemudi serta gesture-control melalui hologram.
Figur kehebatan Mission E tersebut utamanya datang dari penggunaan sistem penggerak yang dirancang benar-benar baru berbasis keahlian Porsche di ajang balap mobil. Mobil ini menggunakan dua unit Permanent Magnet Synchronous Motors (PMSM) yang sama seperti kepunyaan mobil balap LMP1 919 Hybrid untuk melajukan mobil sekaligus meregenerasi energi pengereman. Dua motor elektrik PMSM di bagian depan dan belakang tersebut menghasilkan daya maksimum 600 hp. Selain figur akselerasi 0-100 kpj, Porsche juga mengatakan Mission E dapat menembus 200 kpj di bawah 12 detik.

Kesan sportscar yang lincah tetap dimiliki oleh Mission E. Meskipun menggunakan motor elektrik, Porsche mengklaim motor elektrik ini bisa menghadirkan tenaga maksimumnya secara berulang-ulang, bahkan ketika baterainya berada pada kondisi kritis sekalipun. Ditambah dengan sistem penggerak all-wheel drive, Porsche Torque Vectoring, dan ketajaman pengendalian all-wheel steering, Mission E diklaim mampu mencatat waktu putaran di Nurburgring Nordschleife di bawah delapan menit.

Kelincahan dan kesigapan Mission E datang dari titik gravitasi rendah berkat penempatan baterai lithium-ion generasi teranyar yang ditempatkan di bagian bawah “tulang punggung” antara roda depan dan roda belakang. Porsche menargetkan Mission E memiliki bobot kurang dari 2.000 kg dengan distribusi 50:50. Panel bodi berbobot ringan dari campuran aluminium, baja, dan carbon fiber reinforced polymer (CFRP) digunakan pada mobil bervelg karbon 21-inci di depan dan 22-inci di belakang ini.
Gebrakan terbesar Mission E tentunya datang dari kapabilitasnya menghadirkan daya jelajah luar biasa jauh dalam waktu pengisian daya luar biasa singkat. Target ambisius tersebut datang dari keinginan Porsche melampaui batas mobil elektrik saat ini dengan pengisian daya tercepat dalam waktu 35 menit. Hadirlah sistem revolusioner Porsche Turbo Charging, membuat Porsche menjadi pionir dalam penggunaan teknologi 800 Volt dalam sejarah dunia. Teknologi ini dua kali lebih tinggi dibandingkan mobil elektrik yang menggunakan teknologi 400 Volt, sehingga mampu mempersingkat pengisian daya dari 0-80 persen dalam 15 menit saja. Slot di dekat fender roda depan menghadirkan informasi status pengisian daya.
Problem yang dihadapi oleh Mission E adalah, saat ini belum ada stasiun pengisian daya 800 Volt di dunia. Pemerintah Jerman sendiri baru mencanangkan infrastruktur tertinggi 480 Volt. Menanggapi problem tersebut, Porsche menyediakan konverter untuk digunakan pada pengisi daya 400 Volt konvensional, namun tentunya akan memperlamban waktu pengisian daya. Baterai akan saling berbagi dengan Volkswagen Group, namun sistem pengisian daya, dan motor listrik buatan khusus Porsche dikatakan akan siap pada tahun 2019.
Berpindah kepada tampilannya, Mission E terlihat seperti “adik” Panamera, namun siluet bagian ekornya menunjukkan bahwa mobil ini lebih cocok disebut sebagai “four-door 911”. Apalagi dengan tinggi hanya 130 cm, Mission E berdiri nyaris setara dengan saudara ikoniknya tersebut. Dengan dimensinya, mobil ini akan ditempatkan di antara 911 dan Panamera. Lampu matrix-LED empat-titik khas Porsche hadir di bagian depan, sementara lampu belakang satu strip memanjang menegaskan keberadaan Mission E di jalanan.
Memasuki kabinnya yang hadir tanpa pilar B dan pintu membuka ala suicide-doors, Mission E menyambut dengan empat racing bucket-seats individual sebagai lokasi untuk menikmati interior berdesain sederhana nan modern yang lapang.
Instrumen digital yang intuitif menyambut di depan pandangan mata pengemudi. Hadir dengan lima segregasi informasi khas Porsche, instrumen berteknologi OLED 3D ini selain bisa dioperasikan melalui tombol di lingkar kemudi juga dapat diaktifkan melalui pergerakan mata dan gestur tubuh pengemudi. Tampilannya akan menyesuaikan dengan posisi jok sekaligus pergerakan tubuh pengemudi saat berkendara, sehingga mengurangi blind-spot dalam menerima informasi dari layar instrumen.
Begitupun dengan pengoperasian infotainment dan fitur-fitur lainnya di tengah dasbor. Selain melalui sistem layar sentuh, sensor juga dapat mendeteksi pergerakan tangan pengemudi ataupun penumpang depan sekaligus arah mata saat ingin mengoperasikan media, navigasi, kontrol AC, dan sebagainya.
Ketika hadir nanti, Mission E diperkirakan akan berhadapan dengan BMW i8 ataupun Tesla Model S. Namun saat ini misi terpenting mereka adalah menciptakan Mission E dalam versi produksi berkelas terbaik di dunia, agar orang-orang penuh keyakinan untuk bisa segera memilikinya.

Volkswagen Bangkit Lewat Phaeton Electric

Manufaktur berusaha merebut kembali kepercayan publik lewat kendaraan elektrik.
Volkswagen Bangkit Lewat Phaeton Electric

Tak mau berpangku tangan lantaran kasus kecurangan emisi yang melilit Volkswagen, kini perusahaan mulai bangkit dengan menghadirkan kendaraan yang secara total ditenagai oleh motor dan baterai. Next-gen Phaeton akan sepenuhnya bertenaga baterai hingga bisa dikatakan kendaran ini nol emisi gas buang.

VW masih sangat minim dalam memberikan informasi detil tentang kendaraan andalan masa depannya. Dan hal ini sepertinya belum membuat Tesla sebagai pabrikan kendaraan listrik tidak begitu gemetar. Volkswagen hanya menjanjikan pengendaraan dengan motor listrik murni dengan kemampuan jarak lebih jauh, konektivitas dan sistem yang lebih canggih serta desain lebih emosional. Menurut sumber yang berbicara kepada Autocar, Phaeton berpotensi akan diluncurkan pada tahun 2020 mendatang. Dan kemungkinan akan mengunakan platform dan powertrain yang sama dengan versi produksi Audi E-Tron Quattro.

Sebuah Phaeton generasi baru itu dikabarkan hampir siap padaawal tahun ini, namun proyek ini dilaporkan dibatalkan untuk lantaran pemangkasan dana. VW kehilangan banyak uang lantaran kasus yang membelitnya. Dan jika sudah diproduksi masal, sedan ini bakal bersaing dengan produk lainnya, seperti Audi A8. Mungkin perusahaan melihat skandal ini sebagai kesempatan yang sempurna untuk mengevaluasi sebuah kendaraan.

Sementara Phaeton EV akan mewakili lineup atas VW masa depan, sistem elektrifikasi juga sepertinya akan muncul pada jajaran produk dibawahnya. Pabrikan bakal menciptakan sebuah platform baru yang disebut MEB khusus untuk EV kompak. VW menjanjikan kendaraan listrik bakal sanggup berjalan saat baterai penuh sejauh 155 mil hingga 311 mil.

Perusahaan otomotif asal Jerman ini fokus pada elektrifikasi kendaraan yangmemungkinkan akan mempengaruhi model saat ini. Proses riset soal kendaraan tersebut juga berhubungan erat dengan rekayasa lebih lanjut dari platform MQB. VW ingin kendaraan kendaraan masa depannya memiliki kemampuan yang lebih hebat dari mobil listrik lain, dan mereka yakin jika sudah menjadi produksi masal dan diterima di pasar maka inilah kendaraan pertama yang berhasil dari strategi baru perusahaan.

Mengapa All new Kijang Innova Masih Pakai Ladder Frame?

Selama 38 tahun perjalanan Kijang. Ada satu ciri yang tidak lekang, yakni sasis ladder/tangga. Mengapa demikian?
Mengapa All new Kijang Innova Masih Pakai Ladder Frame?
38 tahun sudah Toyota Kijang menjadi kepercayaan konsumen di Indonesia. Ia dipercaya karena mampu menjawab kebutuhan konsumen akan kendaraan multi fungsi, kuat dan dapat diandalkan. Kini, generasi keenam sudah diluncurkan di Indonesia, bertempat di Fairmont Hotel, Senin, 23 Nov 2015.
Menariknya, ada satu benang merah yang menjembatani semua generasi Kijang. Ya, semua Kijang memakai sasis tangga atau ladder frame. Menurut sejarahnya, sasis ini sudah dipakai oleh Kijang sejak tahun 1977.

Mengapa Toyota begitu percaya pada sasis jenis ini? "Sasis ini kuat. Lebih besar, Kami mengembangkan sasis baru dan cross-section lebih besar pada all new Kijang Innova generasi terbaru," aku Hiroki Nakajima, Deputy Chier Officer, Product Planning Group Managing Officer, sekaligus orang nomor satu yang bertanggung jawab pada program IMV, kepada autocarindonesia.com saat peluncuran all new Kijang Innova.

"Kami mengelilingi dunia, termasuk Indonesia. Kami ingin rasakan secara langsung kondisi jalan, dan secara langsung mendengarkan masukan yang diberikan oleh konsumen, pengguna dan para dealer. Dengan mengenal kondisi jalan serta mengenal konsumen secara langsung, kami sadar ada arti “kokoh” lain yang perlu diperhatikan. Dalam kondisi jalan yang menantang, tentu saja sebuah kendaraan harus kuat," imbuhnya. Alasan itulah mengapa Toyota masih menggunakan jenis sasis tangga.
Selain kokoh dan kuat, ada kelebihan lain dari ladder frame. Akan lebih mudah membangun sebuah mobil berplatform sama dari sebuah sasis ladder/tangga. Mengapa? Karena hanya perlu membangun bodi mobil berbeda, dan mendudukkannya di sasis sepanjang memiliki dimensi sama. Mobil bersasis ladder frame pun akan lebih mudah diperbaiki jika terjadi kerusakan. 

Bedah Interior New Ertiga Dreza

Dilengkapi dengan head unit berteknologi Android.
Bedah Interior New Ertiga Dreza
Setelah membedah eksterior New Ertiga Dreza, kini kami akan membahas dan membedah bagaimana interior LMPV andalan Suzuki di 2016. Jika kita lihat sekilas. Maka tidak tampak perbedaan antara Ertiga facelift dan Ertiga Dreza, namun jika diperhatikan dengan seksama maka perbedaan akan muncul satu per satu.
Pada dashboard kini terdapat tweeter baru. Ini bertujuan untuk memberikan sensasi berbeda ketika mendengar musik. Pembaruan selanjutnya adalah panel instrument kayu/motif kayu di bagian dashboard. Dashboard-nya sendiri berwarna two tone. Masih di dashboard, bisa dilihat aplikasi head unit baru dengan layar 9 inci untuk tipe GS.
Head unit baru berlayar 9 ini itu, memakai teknologi Android 4.1 dan mampu pula terkoneksi dengan iPhone, iPod dan iPad.

Jok dwi warna (coklat gelap dan coklat melengkapi tema dwi warna pada interior New Ertiga Dreza. Suzuki mengklaim material pembungkus jok lebih mewah, atau lebih berkualitas dari sebelumnya. Aksen trim berpola baru, dan panel kayu hadir menghiasi trim pintu baris pertama.

Empat Kelebihan Interior Honda BR-V


Empat keistimewaan interior Honda BR-V versi Honda.
Empat Kelebihan Interior Honda BR-V
Empat Kelebihan Interior Honda BR-V
Berkonsep desain Premium & Active, Honda berupaya menghadirkan nuansa SUV dengan tampilan tangguh dan premium. Interior Honda BR-V juga menghadirkan kabin yang luas dan kenyaman tertinggi di kelasnya. Kualitas interior tercermin dalam setiap elemen yang memberikan kenyamanan tertinggi dan kemewahan. Semua itu adalah tujuan Honda ketika meracik interior. Nah, menurut Honda ada empat kelebihan interior yang ditawarkan Honda BR-V.

Cabin room
Untuk menciptakan ruang kabin yang luas, bagian lantai kendaraan didesain secara khusus untuk membuat ruang kaki kursi penumpang depan menjadi lebih luas. Ruang ditambahkan di tengah bawah pada posisi AV untuk menambah ruang penyimpan barang.

Package

Honda BR-V menghadirkan ruang lutut dan ruang kepala yang lebih lapang pada baris kedua dan ketiga. Kursi baris ketiga merupakan jenis 50/50 split yang dapat dilipat dengan cepat dan mudah, untuk menciptakan ruang bagasi yang lebih luas.

Rear Air Conditioner
AC belakang berada diantara baris pertama dan kedua untuk memperluas aliran udara ke seluruh area, untuk kenyamanan maksimum bagi semua penumpang.

Electrical components
Untuk menambah tampilan premium, penerangan pada Indikator diterangi dengan cahaya putih. Multi-Information Display menunjukkan informasi seperti konsumsi bahan bakar, tripmeter, suhu di luar, efisiensi bahan bakar, dan jam pada tampilan layar yang lebih besar. Pengemudi dapat mengakses hanya dengan menyentuh tombol.

Perbandingan Honda Mobilio dengan Suzuki Ertiga

Dilihat dari segi performa mesin, fitur, maupun harga. Karena ke tiga hal ini merupakan komponen utama yang dapat dijadikan acuan dalam memilih sebuah mobil. Honda Mobilio dan Suzuki Ertiga merupakan salah satu jenis mobil MPV atau mobil keluarga. Ke dua mobil ini tentunya memiliki variasi harga yang berbeda. Honda Mobilio dibandrol dengan harga 160 juta untuk versi terendah dan 198 juta untuk versi tertinggi. Sedangkan, Suzuki Ertiga memiliki penawaran harga berkisar 180 juta untuk tipe mobil dengan transmisi manual dan 191 juta untuk tipe mobil yang menggunakan transmisi otomatis.
perbandingan Honda Mobilio dengan Suzuki Ertiga
Honda Mobilio

Perbandingan Honda Mobilio Dengan Suzuki Ertiga Dari Segi Performanya

Selain harga, kita juga perlu mengetahui spesifikasi dari masing-masing mobil agar bisa mengerti mobil mana yang memiliki performa paling tinggi. Honda Mobilio menggunakan mesin L15A berkapasitas 1400 cc dengan dilengkapi teknologi i-VTE, SOHC, serta drive my wire. Perpaduan mesin ini menghasilkan tenaga maksimal sebesar 118 PS. Sementara, perbandingan Honda Mobilio dengan Suzuki Ertiga yang menggunakan mesin K14B berkapasitas 1500 cc dan dilengkapi teknologi DOCH dan VVT hanya mampu menghasilkan daya maksimal sebesar 98 PS. Dalam hal ini, berarti performa mesin Honda Mobilio lebih unggul jika dibandingkan dengan performa mesin Suzuki Ertiga

Perbandingan Ford Focus ST2 vs Honda Civic Type R

Duet mobil cepat berpenggerak depan.
Perbandingan Ford Focus ST2 vs Honda Civic Type R
Perbandingan Ford Focus ST2 vs Honda Civic Type R - Terdapat tikungan di ujung trek lurus Bedford Autodrome’s East Circuit: tikungan kanan yang menyempit yang harus dilibas dengan apex ganda. Untuk menambah kesenangan di sini, Anda harus menyeimbangkan mobil begitu keluar dari tikungan sebelum memasuki tikungan tajam ke kiri.
Duet mobil cepat berpenggerak depan seperti dua banteng berebut posisi terdepan di tikungan ini.Tidak ada selain Caterham yang sanggup melahap tikungan dengan tingkat kepresisian tinggi. Dan disini pula perbedaan antara Honda Civic Type R dan Ford Focus ST akan kami ceritakan.
Mari mulai dengan Civic. Sebagai penantang baru Focus, Type R mengarungi kelas ini dengan kelembutan layaknya banteng menghadang matador. Dengan suspensi terkini, damper adaptif, dan differensial mekanik berpadu sangat pas dengan mesin 2.0 liter turbocharger 306 hp, membuatnya seperti terlepas dari kekangan saat melaju di sirkuit. Ubah ke mode R demi mengubah karakter suspensi, respon differensial, dan pedal gas, mobil ini mampu melewati tikungan sulit dengan tingkat ketajaman yang tepat, kontrol bodi jempolan, lalu kembali menghadirkan traksi ultra-lengket kembali setelahnya.

Lingkar kemudi memberikan bobot yang tepat bersamaan dengan bobot yang diterima oleh roda. Jika Anda memaksa untuk memecah traksi rodanya, cukup angkat pedal akselerator ketika mulai terasa gejala understeer, dan mobil akan lurus kembali tanpa mengalami momen lift-off oversteer sekalipun.

Perbandingan All new Toyota Fortuner Melawan All new Mitsubishi Pajero Sport

Mobil lawan mobil. Manakah yang terbaik, all new Toyota Fortuner atau all new Mitsubishi Pajero Sport?
Perbandingan All new Toyota Fortuner Melawan All new Mitsubishi Pajero Sport
Toyota Fortuner terbaru sudah diperkenalkan di Thailand dan Australia hari ini, Kamis (16/7). Di Thailand harga Toyota Fortuner dijual 1,199 juta hingga 1,599 juta Baht atau berkisar Rp 468 hingga Rp 625 juta. Di sisi lain, All new Mitsubishi Pajero Sport pun sudah diluncurkan di Thailand, Agustus 2015. Kedua produk ini akan bertarung di pasar SUV bertubuh besar di Indonesia. Menariknya, kedua produk ini pun segera diluncurkan dalam waktu berdekatan tahun 2016.

Fakta tersebut di atas membuat kami mengkomparasi keduanya. Tujuannya untuk memberi gambaran awal apa saja yang ditawarkan kedua SUV itu kepada konsumen di Indonesia. Nah, mampukah all new Toyota Fortuner mempertahankan reputasinya saat digempur oleh all new Mitsubishi Pajero Sport?

Eksterior
Kami mulai dari eksterior. Di sektor eksterior, All new Toyota Fortuner memiliki bentuk fascia depan yang benar-benar berbeda dari pendahulunya. Dari segi pemilihan desain, kami lebih menyukai bentuk baru Fortuner. Tidak hanya terlihat lebih menarik.
All new Toyota Fortuner versi Indonesia akan memakai jejeran lampu baru, desain grille atas dan bawah baru. Fortuner terbaru juga sudah memakai LED daytime dan Bi-Beam LED untuk varian tertingginya. Tipe terendah memakai Bi-proyektor.
Dari desain samping, all new Toyota Fortuner memiliki garis pinggang tinggi tepat di belakang pilar C. Floating roof design pun dipilih sebagai pelengkap aksen estetikanya. Terdapat pula pijakan kaki guna memudahkan akses masuk dan keluar penumpang.
Di bagian belakang. All new Toyota Fortuner punya roof spoiler dilengkapi LED stop lamp. Garis krom tebal diapit lampu belakang serta logo Toyota berada di tengah. Tampilan buritan ini masih terlihat jejak Toyota Fortuner generasi sebelumnya. Overall, kami juga menyukainya.
Di sektor kaki-kaki, Toyota Fortuner terbaru memakai velg alloy diamond-cut berukuran 18 inci dengan ban 265/60. Di gambar yang kami lampirkan, bisa Anda lihat pula tombol pembuka pintu bagasi (bagian belakang mobil). Artinya, SUV menawan ini memiliki electric tailgate layaknya mobil-mobil mewah masa kini. Namun, jangan bergembira dahulu, fitur ini hanya tersedia pada varian tertinggi saja.
SUV besar generasi terbaru milik Toyota ini, akan dijual dalam enam pilihan warna, yakni White Pearl, Silver, Gray, Atitude Black, Nebula Blue dan Phantom Brown.
All new Mitsubishi Pajero memakai fascia depan terbaru yang disebut ‘Dynamic Shield’. Tampilan dramatis grille tersebut dipermanis dengan lapisan-lapisan krom di front bumper, radiator grille xeganonal, dan lampu depan menyipit disertai lampu siang hari LED.
Tampilan samping tampil unik dengan kehadiran garis pinggang “menggelembung” tepat setelah pilar C. Di bagian belakang, terlihat lampu belakang dengan desain vertikal. Deretan lampu ini terinspirasi dari GR-HEV concept yang pertama kali muncil di Geneva motor Show 2013.
Dari samping, All new Mitsubishi Pajero Sport memiliki fender besar, garis pinggang tinggi dan semacam coakan di bodi untuk keperluan aerodinamika. Sama seperti Fortuner, Pajero Sport terbru memakai side step.

Interior
DI dalam kabin, nuansa interior milik L200 kental terasa. Jok berlapis kulit memberi kesan mewah, begitu pula aksen trim perak dan sistem infotainment. Bagian tengah dashboard dibalur hitam glossy. All new Mitsubishi Pajero Sport.
Beralih pada Fortuner. Di bagian tengah dashboard, tepatnya di bawah kisi-kisi AC, terdapat head unit berlayar sentuh +/- delapan inci diapit oleh bingkai tebal berlapis kulit di sisi kanan dan kiri. Ruang tuas transmisi dikelilingi oleh frame kayu sintetis (plastik) senada dengan warna trim.
Lingkar kemudinya diberikan beragam pengontrol. Bisa dilihat pula kehadiran paddle shift di balik kemudi, lalu ada pula pengatur audio, MID, hingga telepon. Dari segi fitur standar, mobil ini dibekali dengan VSC, traction control dan hill-start assist, dan power tailgate.  Tampak pula digital climate control, dan kluster panel instrumen serupa dengan milik Toyota Camry dilengkapi layar multi-info besar.  

Komparasi Dimensi
Beralih ke dimensi. All new Toyota Fortuner memiliki panjang 4.795 mm, lebar 1.855 mm, dan tinggi 1.835 mm. Sementara All new Mitsubishi Pajero Sport memiliki panjang 4.785 mm, lebar 1.815 mm, dan tinggi 1.805 mm. Dari dimensi, terbukti All new Toyota Fortuner lebih panjang, lebar, dan tinggi dari Pajero Sport terbaru. Pajero Sport terbaru memiliki sumbu roda lebih panjang, dan ground clearance lebih tinggi pula.
All new Toyota Fortuner
All new  Mitsubishi Pajero Sport
Panjang: 4,795 mm
4.785 mm
Lebar: 1,855 mm
1.815 mm
Tinggi: 1,835 mm
1.805 mm
Sumbu roda: 2,750 mm
2.800 mm
Ground Clearance: 193 mm
218 mm
 

Komparasi Mesin
All new Toyota Fortuner akan dijual dalam pilihan mesin diesel 2,4 tipe GD 4x2 bertransmisi manual 6 percepatan. Lalu 2,4 V berpenggerak 4x2 dengan pilihan transmisi otomatis 6 percepatan. Pilihan selanjutnya adalah 2,8 V 4x2 6AT, 2,8 V 4x4 6AT, dan mesin bensin 2,7 V 4x2 bertransmisi otomatis 6 percepatan.
Mesin diesel: 2GD-FTV empat silinder, 2,4 liter, 16 valve, bertenaga puncak 150 PS @ 3.400 rpm dengan torsi 400 Nm pada 1.600-2.000 rpm. Mesin diesel 1GD-FTV, 16 valve, 2,8 liter bertenaga maksimal 177 hp pada 3.400 rpm dan torsi maksimal 450 Nm mulai 1.600-2.400 rpm. Pilihan mesin ketiga adalah 2,7 liter bensin bertenaga maksimal 166 PS pada 5.200 rpm dengan torsi 245 Nm pada 4.000 rpm.
Mitsubishi Pajero Sport terabru memakai mesin 2,4 liter MIVEC turbodiesel disandingkan dengan transmisi otomatis 8 percepatan khusus dicipatakan untuk Pajero Sport terbaru. Tenaga sebesar 154 PS dengan torsi 380 Nm, dan tersedia pula pilihan mesin bertenaga 181 PS dengan torsi 430 Nm. Urusan tenaga mesin diesel, All new Pajero Sport unggul dari Fortuner. All new Pajero Sport tidak dijual dalam pilihan mesin bensin.
Komparasi Mesin dan Girboks
All new Toyota FortunerMesin All new Pajero Sport
Tenaga: 150 PS/148 hp @ 3.400 rpm dan
177 PS/161 hp @ 3.400 rpm 
Tenaga: 154 PS dan
181 PS @ 3.500 rpm
Torsi: 400 Nm @ 1.600 – 2.000 rpm
460 Nm @ 1.600-2.400 rpm
Torsi: 380 Nm dan
430 Nm @ 2.500 rpm
Transmisi: 6- Speed8-Speed
 

Fitur-Fitur
Kedua SUV ini mengusung fitur-fitur menarik. Sebut saja jok kulit, paddle shift, lingkar kemudi multi fungsi, AC digital dengan climate zone. Fortuner memiliki penyesuai jok delapan arah dan glovebox berpendingin, ventilasi AC bagi penumpang belakang, Electrically adjustable door mirrors with power folding function, cruise control dan tombol start stop.
Mitsubishi Pajero Sport terbaru pun memakai Dual zone auto climate control Powered driver seat dan  4-spoke steering wheel that is 4-way adjustable.
All new Toyota FortunerAll new Mitsubishi Pajero Sport
Rem: Cakram (depan dan belakang)Cakram (depan dan belakang)
Ban 265.60 R18, velg alloyR 18, velg alloy
Perangkat keselamatanPerangkat Keselamatan
Dual front airbags7 airbag
Side and Curtain airbags with a driver knee airbag
ABS with EBD and Brake AssistABS + EBD
ESC and TCSForward collision mitigation;
TSC (Tractor Sway Control)Multi-around mirror with feeds from 4 cameras;
Hill Start AssistBlind Spot Warning;
DAC (Downhill Assist Control)Hill start Assist
Reverse camera with parking sensorsUltra sonic misacceleration mitigation system
Kesimpulan
All new Mitsubishi Pajero Sport unggul dalam hal tenaga dan torsi, All new Toyota Fortuner lebih unggul dalam hal dimensi, dan memiliki fitur-fitur lengkap. Tentu pertarungan selanjutnya beralih ke ranah harga jual. SUV dengan harga lebih murah dengan fitur bersaing, sudah pasti akan dapat menyita perhatian konsumen.
Nah, sanggupkah Toyota menempatkan Harga all new Toyota Fortuner lebih murah dari all new Mitsubishi Pajero Sport, atau sebaliknya? Mari kita tunggu jawabannya tahun 2016, ketika kedua SUV ini benar-benar diluncurkan di pasar domestik.

All new Mitsubishi Pajero Sport

So Good
- Mewah - Torsi - Pengendalian
No Good
- Mesin tidak berubah - Peredaman
All New Mitsubishi Pajero Sport
Kami menguji All new Mitsubishi Pajero Sport, penantang All new Toyota Fortuner.

Meski belum diluncurkan secara resmi, namun PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) sudah menyelenggarakan sesi tes drive perdana bagi komunitas dan juga jurnalis nasional. Bertempat di Segarra, Ancol, Jakarta Utara (20/1/2016) Autocar Indonesia juga berkesempatan untuk menguji performa dan keandalan dari SUV Mitsubishi ini.
Meski rute yang disediakan cukup singkat namun kami sudah bisa merasakan seperti apa perubahan dan revisi pada mobil keluarga yang menjadi tulang punggung penjualan Mitsubishi di sektor kendaraan penumpang ini.
Ada tiga model yang disediakan oleh KTB, Dakar 4x2, Exceed 4x2 dan Dakar 4x4. Karena kami sudah mencoba varian 4x4 dengan medan lebih ekstrim di Jepang beberapa waktu silam, maka fokusnya pada Dakar 4x2 dan Exceed 4x2 saja.

Sebagai informasi untuk tampilan luar pembeda antara Dakar dan Exceed adalah pada bagian velg, jika Dakar mengadopsi velg 18 inci dengan dual tone, pada Exceed masih mengandalkan velg 17 inci dengan desain yang tidak jauh berbeda dengan Pajero Sport lama.
Masuk ke dalam kabin, baru kesan mewah Dakar lebih mencolok jika dibandingkan dengan Exceed. Dakar telah dilengkapi dengan sunroof sementara Exceed tidak. Jok kulit berwarna hitam tersedia pada Dakar sementara untuk Exceed masih mengandalkan jok berbahan fabric.
Perbedaan yang sangat signifikan ada dibalik bonnetnya. Karena untuk Dakar Mitsubishi sudah membekalinya dengan mesin baru 4N15 serta transmisi 8-speed yang juga baru. Sedangkan untuk Exceed KTB masih percaya dengan mesin lama 4D56 serta transmisi lama.
Saat mencoba mesin baru yaitu mesin diesel DOHC MIVEC 16v yang telah dilengkapi dengan Variable Geometric Turbocharger tersebut mampu mengeluarkan tenaga sebesar 181 ps dengan torsi 430 Nm. Tenaganya terasa linear saat diuji dengan kecepatan rendah, namun begitu pedal gas diinjak lebih dalam respon mesin langsung seketika bertenaga tanpa terasa adanya perpindahan gear yang mengganggu.

Transmisi 8-speed baru membuat putaran mesin lebih rendah untuk mencapai efisiensi yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Namun yang paling kentara adalah pada peredaman suspensi pada Pajero Sport terbaru ini. Sasis yang direvisi dengan racikan suspensi baru membuat mobil ini terasa jauh lebih lembut dari yang lama namun saat diajak untuk bermanuver mobil ini tetap nyaman dan stabil berkat adanya fitur stabilitas yang disediakan sebagai fitur standar.
Selain itu juga kekedapan kabin mendapat perbaikan sehingga kini suara mesin dapat direduksi sehingga sangat minim masuk ke dalam kabin.
Untuk varian Exceed dari sisi performa mesin tidak ada yang berubah signifikan karena masih mengandalkan mesin dan transmisi lama. Namun untuk sisi suspensi dan kabin sama seperti Dakar dengan peredaman yang lebih lembut dari generasi sebelumnya. Untuk harga dan spesifikasi lengkap baru akan diumumkan oleh KTB pada peluncuran resminya pada tanggal 29/1 mendatang.

All-New Ford Everest

All-New Ford Everest
Tawarkan kendali dinamis yang baik dan kemampuan off-road mumpuni.

Akhir bulan Juli 2015 lalu, PT Ford Motor Indonesia mengundang sejumlah media Indonesia untuk menjajal langsung performa dan ketangguhan All New Ford Everest di Chiang Rai, Thailand, sebelum resmi dipasarkan di Tanah Air. Sebelum memulai perjalanan, pihak Ford memberikan presentasi produk, serta tujuan pengujian yang akan kami lakukan. Pada etape pertama, kami akan mengajak All New Everest ini menuju Canary Natural Resort dengan jarak kurang-lebih 60 km.
Ford Everest 2.2L
Pada kesempatan pertama, kami mendapat kesempatan mencoba All New Everest bermesin 2,2 liter berpenggerak dua roda. Dari tampilan luar hampir tidak tampak perbedaan signifikan dengan varian lainnya, hanya terdapat badge dengan angka 2.2L sebagai pembeda.
Berbekal dimensi 4.882 x 1.862 x 1.837 mm, Everest baru tampil lebih gemuk dan tinggi dibanding pendahulunya, dengan desain yang mencirikan karakter SUV tangguh. Diperhatikan dengan seksama, desain Everest baru memang lebih modern dibanding generasi sebelumnya, dengan grille trapezoidal besar dan bagian depan serta kap mesin yang lebih tinggi dan lekukannya yang tampak kekar, menghasilkan aura lebih tangguh. Desain tersebut sedikit banyak menyerupai sang saudara, Ford New Ranger.
Masuk ke dalam, interiornya berkesan mewah, dan lapang. Ford menawarkan dua pilihan warna interior, warna gelap Basalt dan cerah Flaxen. Keduanya melengkapi kemewahan dan menunjukkan kualitas tinggi dari interior Everest baru. Duduk di bangku pengemudi terasa nyaman, pas, dan dengan visibilitas yang baik ke depan sehingga saya bisa mengetahui ujung depan mobil.

Tekan tombol Start dan mesin mobil menyala dengan halus. Saya langsung menyadari bahwa Everest baru ini menawarkan kesenyapan kabin yang cukup baik. Hal tersebut antara lain berkat penggunaan material kedap suara yang tersebar di penjuru interior serta teknologi Active Noise Cancellation yang menggunakan tiga mikrofon sensitivitas tinggi untuk menangkal bunyi mesin yang masuk ke dalam kabin.
DI kecepatan rendah, bobot kemudi terasa cukup berat. Namun, saat sudah berjalan hal ini justru mendukung pengendalian kemudi yang lebih mantap. Respon kemudi terasa cepat dan presisi, sehingga meningkatkan kepercayaan diri saat mengendarai SUV 7-penumpang bertubuh besar itu secara dinamis. Apalagi, All New Everest kini telah dibekali EPAS (Electric Power Assist Steering) dengan teknologi Pull-Drift Compensation yang menyesuaikan input dari pengemudi dan beradaptasi terhadap kondisi jalan yang berubah-ubah.
Lebih dari 20 mobil berkonvoi menuju Canary Natural Resort. Etape awal ini didominasi jalanan perkotaan, sehingga laju kendaraan kami cukup konstan. Setelah menempuh sekitar 34 km, rombongan berhenti sejenak di Doi Hang Subdistrict Municipality Office untuk rehat dan bertukar pengemudi dan bergantian dengan peserta lain.
Selepas dari Doi Hang Subdistrict Municipality Office, kami disajikan jalanan lokal perkampungan dengan kondisi berbukit, berkelok-kelok, ruas jalan yang tidak terlalu lebar, dan permukaan jalan tak ramah. Saat menemui tikungan yang cukup tajam, saya mencoba sedikit kemampuan Everest dengan tidak mengurangi kecepatan dan hasilnya membuat saya tersenyum karena melebihi ekspektasi saya.
Electronic Stability Control nya bekerja dengan sangat baik menjaga Everest tetap pada lajur yang saya inginkan, bahkan ketika memasuki tikungan dengan kecepatan yang cukup tinggi atau menikung terlalu cepat, Roll Stability Control dan Curve Control dengan sensor deteksi akan mencegah potensi terjadinya understeer ataupun oversteer dengan menerapkan pengereman sekaligus pengurangan limpahan torsi. Peredaman suspensinya juga terasa sangat mantap, cukup empuk sekaligus solid, terasa nyaman ketika melewati jalan tak ramah maupun jalan rusak berlubang

All-New Ford Everest
Ford Everest 3.2L
Setibanya di Canary Natural Resort kami langsung disuguhi medan off-road untuk mengetahui ketangguhan Everest sebenarnya sebagai sebuah SUV. Pada sesi ini kami menggunakan mobil Everest 3.2 L berpenggerak empat roda yang telah dilengkapi dengan Terrain Management System dengan pilihan mode Normal, Snow/Mud/Grass, Sand, dan Rock. Kesempatan pertama saya manfaatkan untuk duduk di kursi penumpang baris kedua selama menuju trek off-road. Menjadi penumpang pada Everest baru juga terasa nyaman, dengan posisi duduk lapang berkat kursi yang dapat disesuaikan.
Tantangan off-road pertama menyambut kami, yakni jalan menanjak dengan permukaan tanah basah dan licin yang diakibatkan hujan lebat yang mengguyur semalaman. Pada kondisi ini kami gunakan mode Mud/Snow/Grass untuk memprioritaskan penjagaan traksi pada permukaan licin. Dan ternyata, kondisi tersebut bukan masalah bagi Everest baru berpenggerak 4x4, kami dapat dengan mudah mencapai puncak tanpa hambatan apapun.
Tantangan berikutnya kami diharuskan menyeberangi sungai dangkal dengan permukaan dasar sungai terisi bebatuan kecil. Beruntung Everest baru memiliki kemampuan Water Wading hingga ketinggian 800 mm dan approach angle 29 derajat. Padankan dengan mengaktifkan mode Mud/Snow/Grass atau langsung menekan Electronic Locking Rear Differential untuk meningkatkan traksi dan mencegah terjadinya slip pada roda belakang. Tantangan tersebut pun dapat kami lalui dengan mudah berkat fitur-fitur dan teknologi pendukung off-road dari Everest baru 3.2L.
Pada sesi off-road, kami juga mencoba fitur Hill Descent Control dengan menuruni jalan yang memiliki permukaan semen. Fitur ini menerapkan pengereman otomatis untuk menjaga kecepatan saat melalui turunan curam tanpa harus menginjak pedal rem. Fitur ini dapat dikombinasikan dengan cruise control sehingga Anda dapat melalui turunan curam dengan kecepatan konstan sesuai dengan yang diinginkan.




DATA FAKTA
Mesin
Instalasi:Duratorq 2.2L. 4-silinder, TDCi, VGT dengan Intercooler/Duratorq 3.2L. 5-silinder

Tenaga:158 hp @ 3.200 rpm/197 hp @ 3.000 rpm

Torsi:385 Nm @ 1.600-2.500 rpm/470 Nm @ 1.700-2.500 rpm
Transmisi
Tipe:6-speed otomatis

Mercedes-Benz GLC

Mercedes-Benz GLC
Perubahan nomenclature pada Mercedes-Benz menghadirkan satu spesies baru, sebuah SUV berbasis C-Class. Kami mengujinya langsung di tiga negara Eropa.

First Drive Mercedes Benz GLC - Pujangga terkenal asal Inggris William Shakespeare pernah menulis, "What's in a name?" Apalah arti sebuah nama? Lalu ada pula yang menyebutkan, nama adalah kekuatan "jiwa" dari benda itu sendiri. Selain menjadi identitas sepanjang hidup, nama konon menyimpan kekuatan misterius. Di Indonesia,  sebuah ritual dilakukan jika seseorang mengubah atau mengganti namanya agar terhindar dari nasib buruk.
Namun apa yang dilakukan oleh Mercedes-Benz dengan mengganti seluruh nomenclature pada keluarga SUV mereka tak perlu ritual apapun. Hanya saja Mercedes-Benz tentu berharap akan ada kesuksesan dibalik penggantian nama tersebut. Setelah GLA-Class yang berbasis pada A-Class dan GLE-Class yang menggantikan ML-Class, kini yang terbaru adalah GLC-Class, SUV berbasis C-Class yang diharapkan dapat mengikuti kesuksesan sedan terlaris pabrikan Jerman ini. Sebenarnya GLC ini merupakan generasi terbaru dari GLK-Class, namun Mercedes-Benz mengganti namanya dengan GLC selain karena berbasis C-Class juga karena kini akan tersedia model setir kanan.
Memang pada generasi pertama GLK, pabrikan Stuttgart ini hanya menyediakan dengan pilihan setir kiri saja, sehingga mobil ini tak pernah ditemui di jalanan Indonesia. Kini, Mercedes mengakui pertumbuhan tren SUV yang kian tinggi di seluruh dunia membuat mereka tersadar dengan melahirkan GLC dengan setir kanan dan kiri. Autocar Indonesia pun diundang oleh Mercedes-Benz Indonesia (MBI) untuk menguji langsung SUV terbaru pabrikan Stuttgart ini. Saya mengujinya dengan menjelajah tiga kota di tiga negara Eropa yaitu Basel di Swiss, Ettenheim, Jerman hingga Strasbourg, Prancis.

Mercedes-Benz GLC
Paradigma Desain Baru
GLC-Class ini memang mengadopsi platform MRA (Modular Rear Architecture) yang sama dengan C-Class, namun berkat modifikasi yang dilakukan, GLC memiliki jarak sumbu roda lebih panjang 33 mm dari C-Class. Sementara jarak pijaknya juga lebih lebar 31 mm di depan dan 47 mm di belakang. Hal inilah yang membuat kabin GLC ini terasa jauh lebih lega dari saudara dekatnya ini.
Mercedes memang mengakui jika GLC merupakan jawaban untuk BMW X3 dan Audi Q5, sehingga secara dimensi hampir serupa dengan X3 dan Q5. Namun jika dibandingkan dengan pesaing beratnya, GLC ini masih lebih unggul sekitar 1 mm lebih panjang, 9 mm lebih lebar dan 21 mm lebih rendah dibanding X3, yaitu 4.656 x 1.890 x 1.639 mm.
Meskipun secara dimensi GLC ini juga lebih besar dari pendahulunya, Mercedes mengatakan jika GLC ini memiliki bobot yang 80 kg lebih ringan dari GLK. Hal ini didapat dari penggunaan campuran baja berkekuatan tinggi pada struktur bodi dengan alumunium pada sayap depan, bonnet dan atap.
Mercedes mengatakan generasi kedua dari GLK ini memiliki gabungan unsur ketangguhan G-Class dengan aura sporty milik C-Class. Bentuk dan lekuk tubuh dari GLC ini berbeda dari pendahulunya, GLK. Ia tak lagi berbentuk kotak dan kaku seperti GLK dan G-Class. GLC dipahat dengan banyak lekukan yang membuat tubuhnya lebih modern dan indah dipandang. GLC juga didukung tingkat aerodinamika yang baik dengan koefisien hambatan angin yang hanya 0,31 cd.
Tampilan depannya menyiratkan bahasa desain terkini dari Mercedes-Benz. Overhang yang pendek, ringkas dan tinggi dipadukan dengan grille palang ganda mengapit logo bintang Mercedes-Benz. Sekilas memang sama seperti C-Class terbaru, mulai dari bentuk grille, lampu depan termasuk bentuk DRL hingga bentuk bumper dan airdam. Hanya saja, pada GLC bentuk bumpernya bisa menyesuaikan dengan pilihan trim yang Anda pilih. Bergeser ke samping, baru terlihat jelas perbedaannya jika GLC adalah sebuah SUV dengan ground clearance sebesar 181 mm. Selain itu rumah kaca GLC nyaris menyerupai tampilan sebuah coupe. Tampilan belakangnya memiliki karakter SUV yang lebar dan berotot dengan pilihan bumper yang juga bervariasi sama seperti bagian depan.
Berubahnya paradigma desain Mercedes tak hanya untuk tampilan luar saja. GLC baru ini juga mendapat perubahan signifikan di bagian interior. Masuk ke dalam kabinnya, langsung terasa seperti masuk ke dalam kabin C-Class generasi terakhir. Tata letaknya sama persis dengan saudara dekatnya itu. Kunci utama dari desain interior ada pada dashboard dan konsol tengah yang membentuk rangkaian segaris yang mengalir mulai dari ventilasi udara tengah hingga ke armrest. Selain itu, touchpad inovatif khas Mercedes-Benz telah dikembangkan sehingga dapat menginput huruf atau angka dengan gerakan jari, layaknya layar sentuh pada smartphone. Sementara layar penampil media yang terintegrasi dengan touchpad diposisikan di atas konsol tengah.  
Kesan lapang dan lega menyambut saya saat masuk ke dalam kabinnya yang ditunjang dengan adanya panoramic roof. Sebagai sebuah SUV posisi duduk pada GLC lebih tinggi ketimbang saudaranya C-Class. Namun aura mewah dan elegan terpancar dari pemilihan material berkualitas premium, seperti jok berlapis kulit nappa dengan trim kayu serta lubang AC berlabur metallic. Semua ini tersaji demi menyuguhkan kenikmatan berkendara tanpa mengurangi keindahan estetika.


Mercedes-Benz GLC
Tiga Jantung Mekanis
Mercedes-Benz telah menyediakan tiga pilihan mesin untuk dicicipi oleh para jurnalis. Dua mesin diesel 4-silinder dengan kapasitas 2.1 liter turbo dan satu mesin bensin 4-silinder berkapasitas 2.0 liter turbo. GLC 220d memiliki tenaga sebesar 170 hp dengan torsi 400 Nm, kemudian GLC 250d dengan tenaga maksimal 204 hp dan torsi 500 Nm. Terakhir adalah mesin bensin GLC 250 yang sanggup melontarkan tenaga sebesar 211 hp dan torsi 350 Nm.
Semua varian ini ditawarkan dengan penggerak empat roda (AWD) permanen atau 4MATIC. Untuk menggerakkan keempat roda tersebut, pabrikan asal Stuttgart ini menyematkan transmisi otomatis terbaru, 9G-TRONIC. Transmisi 9-speed ini mereka klaim memiliki efisiensi bahan bakar yang amat baik.
Perjalanan menjelajah tiga negara dimulai dari Bandara EuroAirport di Basel, Swiss. Saya memilih untuk mencoba Mercedes-Benz GLC dengan varian bensin terlebih dahulu. Karena menurut pihak Mercedes-Benz Indonesia (MBI) kemungkinan besar yang akan masuk ke Tanah Air adalah GLC 250. Etape pertama berjarak sekitar 111 km menuju perkebunan anggur Winery Weber di kota Ettenheim, Jerman. Mayoritas kondisi rute yang dilalui merupakan jalan bebas hambatan, dengan beberapa bagian melewati jalan raya pedesaan dengan kontur pegunungan yang penuh tikungan serta tanjakan dan turunan.
Mesin 2.0 liter turbo bensin menyala tanpa menimbulkan suara yang berarti, mobil pun melaju tanpa hentakan berkat transmisi 9-speed terbaru yang menyuguhkan perpindahan gear sangat halus. Untuk berakselerasi, GLC 250 4MATIC yang menjadi unit tes saya terasa cukup responsif. Namun saya tak bisa menggunakan gaya mengemudi di jalanan Jakarta, karena di Eropa sangat ketat dengan banyak petunjuk mengenai batas kecepatan maksimum. Jadi di sini saya lebih banyak mengeksplorasi fitur dan teknologi yang dimiliki oleh GLC.
Merasakan menjadi penumpang di GLC juga sungguh menyenangkan. Anda akan mendapatkan perasaan yang nyaman dan tenang layaknya sebuah mobil premium. Dengan ruang kaki dan bahu serta kepala yang lega, menempuh perjalanan jauh pun tidak terasa melelahkan. Atap panoramic-nya mampu membuai penumpang belakang sehingga menimbulkan kesan yang semakin lapang. Bagasi belakang berkapasitas 550 liter yang bisa diperluas menjadi 1.600 liter jika baris kedua dilipat.

Mercedes-Benz GLC
Kecanggihan Teknologi ala Jerman
Perlu diketahui, GLC yang saya coba ini dilengkapi dengan berbagai teknologi canggih yang membantu pengemudi terutama dalam hal keselamatan berkendara. Mulai dari Air Body Control, ini adalah SUV pertama di segmen ini yang mengadopsi teknologi suspensi udara multi-chamber. Dikombinasikan dengan Adaptive Damping System Plus (ADS Plus) GLC menyuguhkan pengendaraan yang stabil dan kelincahan dengan tingkat kenyamanan yang optimal.
Suspensi udara Air Body Control ini menyuguhkan bekerja beriringan dengan mode pengendaraan Dynamic Select khas Mercedes. Sistem suspensi ini mengatur secara otomatis tingkat kekakuan dan fleksibilitas suspensi sesuai dengan mode berkendara yang Anda pilih. Dynamic Select pada GLC ini menawarkan lima mode berkendara, Eco, Comfort, Sport, Sport+ dan Individual. Hal yang sama juga berlaku bagi ADS Plus, di mana komputer akan memilih karakteristik peredaman terbaik secara otomatis sesuai dengan kontur permukaan jalan.
Saya merasakan sendiri saat berkendara dengan mode Comfort dan sedikit melakukan manuver cepat, karakteristik suspensi dan peredam seketika terkoreksi menjadi lebih kaku sehingga mobil tetap terasa stabil. Begitu juga saat menggunakan mode Sport dan mobil menghajar lubang, namun kali ini karakternya berubah terbalik karena suspensi udara dan peredam akan jauh lebih lembut pada ban yang menghajar lubang tersebut. Efeknya guncangan terasa sangat minim dan di dalam kabin tetap terasa nyaman. Menurut Mercedes, sistem ini bekerja dengan respon hanya sekitar 60 milidetik.
Karakter yang cukup membuat saya terkesan adalah mode Sport+, karena GLC ini memberikan sensasi seperti mengendarai mobil sport karena ketinggian mobil secara otomatis menjadi lebih rendah 15 mm dan ditambah dengan putaran mesin yang lebih tinggi sehingga respon akselerasi menjadi lebih menyenangkan. Terbukti saat melintasi Autobahn untuk menuju Strasbourg, Prancis saya sanggup memacu GLC hingga nyaris menyentuh angka 200 kpj di spidometer.     
Masih banyak kecanggihan teknologi yang dimiliki SUV medium ini. Yang paling menarik perhatian saya adalah sistem Distronic Plus. Awalnya saya mengira ini merupakan sistem cruise control yang sama seperti cruise control lain yang sudah berkali-kali saya jajal. Namun Distronic Plus ini jauh lebih canggih, menurut Rainer Tiefenbacher selaku Development GLC ini sama seperti teknologi Autonomous. Karena sistem ini ditambah dengan Steer Control dan Stop&Go Pilot sehingga tak hanya menjaga kecepatan mobil sesuai dengan keinginan pengemudi saja, namun juga bisa mengikuti kecepatan mobil yang ada di depannya bahkan dalam kondisi lalu lintas yang padat (stop-and-go).
Saya mencobanya sendiri saat berada di jalan tol, dan memang mobil ini secara otomatis mengurangi kecepatannya saat radar mendeteksi jarak kendaraan di depan dalam batas minimum, bahkan sampai pada saat mobil di depan dalam kondisi berhenti. Semua ini dilakukan secara otomatis oleh komputer tanpa ada intervensi dari saya selaku pengemudi. Canggih bukan? Aspek keselamatan standarnya juga didukung teknologi Collision Prevention Assist Plus, Crosswind Assist, Headlamp Assist dan Attention Assist. Lingkar kemudi GLC pun akan bergetar jika Anda berpindah jalur tanpa memberikan signal.

Mercedes-Benz GLC
Kemampuan Offroad
Puas menguji GLC 250 4MATIC ini pada jalanan mulus dan berliku, saatnya saya menguji kapabilitas off-road dari GLC di trek yang telah dipersiapkan di kawasan perkebunan anggur Winery Weber, Jerman, sepanjang 30 km. Meski mayoritas pembeli GLC saya rasa tak akan membawa SUV ini jauh ke dalam hutan atau ke daerah tanpa jalan aspal, namun Mercedes-Benz tetap menyediakan opsi Off-Road Engineering bagi para pemilik GLC. Untuk itu, Mercedes telah menyulap kawasan perkebunan anggur ini menjadi trek offroad dengan tingkat kesulitan yang cukup menantang dan membuat jantung saya berdetak lebih kencang.
Saya pun masuk ke dalam GLC 250 4MATIC yang telah dilengkapi dengan Offroad Engineering Package ditemani oleh satu orang instruktur dari Mercedes. Mode 'offroad' dipilih sehingga ketinggian mobil naik 50 mm dari standarnya. Oh ya, dalam paket offroad ini terdapat lima mode pengendaraan terpisah dari Dynamic Select, yaitu Slippery, Trailer, Off-road, Incline dan Rocking Assist. Selain itu juga mobil ini mendapat tambahan protektor di bagian bawah untuk melindungi dari medan berbatu. Serta Downhill Speed Regulation (DSR) yang mengatur kecepatan mobil saat turunan tajam, mirip fitur Hill Descent Control.
Tantangan pertama adalah tanjakan tajam di mana saat menanjak yang bisa terlihat hanyalah warna biru dari langit. Di sinilah fungsi kamera 360° yang menampilkan posisi mobil dari segala arah (bird-eye), sang instruktur hanya memberikan arahan untuk melihat kamera tersebut karena ternyata setelah tiba di puncak jalanan harus berbelok patah ke kanan. Dan dengan bantuan kamera ini rintangan tersebut dapat teratasi dengan mudah. Mercedes tidak memberikan low-gear pada paket offroad GLC ini sehingga untuk mendaki Anda harus terus menekan pedal gas secara agresif.
Tantangan berikutnya adalah turunan tajam tanpa menginjak pedal rem, percayakan saja pada DSR dan saya pun meluncur ke bawah dengan aman. Kemudian menuju ke rintangan berikutnya yang menunjukkan kemampuan offorad GLC tidak bisa dipandang sebelah mata. Di sini beberapa kali GLC dipaksa untuk berpijak dengan tiga roda bahkan hanya dua roda, untuk menunjukkan sistem 4ETS (electronic traction system) bekerja dengan baik.
Jika pedal rem dilepas dalam kondisi satu atau dua roda tidak mendapat traksi maka roda tersebut akan terus berputar, namun jika pedal gas diinjak maka roda akan berhenti dan torsi dari roda tersebut akan dialihkan secara otomatis kepada roda lain yang mendapat traksi. Hal ini menunjukkan jika GLC dapat lolos dari lubang berukuran masif tanpa kesulitan berarti. Mungkin di sini lebih baik saya biarkan gambar yang berbicara. Jelas dengan sudut approach dan departure mencapai 30,8° dan 24,8° ditambah dengan sudut breakover 19,7° dan sudut kemiringan hingga 35°, GLC ini masih sanggup untuk melawan Land Rover Discovery terbaru di medan tak ramah.
Saya tidak menyangka jika GLC akan menyuguhkan pengalaman sebaik ini, karena memang generasi GLK sebelumnya tak pernah ada di Indonesia. Namun semua ini saya rasakan dengan spesifikasi tertinggi dari GLC yang akan dipasarkan untuk Eropa. Bagaimana dengan GLC yang akan masuk ke Tanah Air? Sepertinya jika Mercedes tetap mempertahankan segala fitur dan teknologi yang sama dengan GLC yang saya tes ini maka konsekuensinya akan menjadi tanggungan konsumen dengan harga yang tak murah. Pihak MBI sendiri belum mau membocorkan spesifikasi GLC untuk Indonesia.
Kesuksesan Mercedes-Benz dengan penggantian nama dari seluruh line-up SUV mereka tampaknya akan berbuah manis, dimulai dari GLC yang sepertinya akan bisa mengikuti kesuksesan dari saudaranya C-Class. Mungkin tak semua pemilik GLC ini akan menguji mobil mereka dengan cara yang sama seperti ini, namun mengetahui kemampuan sesungguhnya dari GLC ini menghasilkan sebuah simbiosis yang sempurna, sesuai dengan karakteristik dari ketiga negara yang saya jelajahi. Mercedes-Benz GLC memiliki karakter efisien layaknya negara Swiss, sarat dengan teknologi canggih khas Jerman dan membuat Anda menikmati hidup dengan sukacita ala masyarakat Prancis.


MINI Cooper S 5-door

MINI Cooper S 5-door



Kepraktisan dan gaya khas MINI Cooper 5-door terinjeksi tenaga mumpuni.

First Drive Mini Cooper S 5-door - Inilah model terkencang MINI Cooper 5-door saat ini. BMW Group global masih belum menentukan apakah varian John Cooper Works (JCW) akan dibuat untuk model lima-pintu, sehingga Cooper S 5-door adalah pilihan teratas dan terkencang selain model Cooper 5-door bermesin 1,5 liter 3-silinder turbo.
Perubahan tampilan yang mencolok dibandingkan varian 3-door tentu saja terletak pada penambahan akses di baris keduanya. Penambahan ini membuat panjang Cooper untuk pertama kalinya menembus angka 4 meter, tepatnya 4.005mm untuk model Cooper S 5-door, atau 155mm lebih panjang dari Cooper S 3-door. Meskipun mendapatkan tambahan jarak sumbu roda sepanjang 72mm menjadi total 2.567mm, tampilan proporsinya masih khas. Dan di bagian dalamnya, penambahan jarak sumbu roda ini memberikan tambahan ruang kaki sebesar 37mm. Kapasitas bagasi normalnya juga bertambah 67 liter dari varian 3-door menjadi 278 liter, hingga 941 liter ketika kursi belakangnya terlipat dalam konfigurasi 60:40.
Satu-satunya pembeda Cooper S 5-door adalah pada desain velg-nya. Velg berpalang 10 tersebut khusus ditujukan untuk dihadirkan pada model ini saja. Warna biru tersebut juga sangat asosiatif dengan mobil ini, karena warna itulah yang digunakan oleh MINI ketika pertama kali memperkenalkan Cooper S 5-door. Ketika berada di dalamnya, segala tampilan funky dengan teknologi nan canggih masih menyapa pengemudi dan penumpangnya

DATA FAKTA
Rentang harga
Ex-showroom price:Rp 719 juta (OFR)
Mesin
Instalasi:Depan, melintang FWD

Tipe:2,0 liter 4-silinder TwinPower Turbo, bensin
Tenaga:192 hp @ 4.700-6.000 rpm
Torsi:280 Nm @ 1.250 rpm
Transmisi
Tipe:Otomatis 6-percepatan
Dimensi
Volume bagasi:1.240 kg
Chassis
Ban:Pirelli P Zero 205/45 R17
Performa(kpj)
0-100:6,8 detik

Mercedes-Benz E 250 Estate Ava

Mercedes-Benz E 250 Estate Ava
Hadirnya model Estate, keluarga E-Class jadi mobil premium terlengkap.

Sebelumnya PT Mercedes-benz Indonesia memang telah menjual model-model Mercedes-Benz estate, baik E-Class Estate ataupun C-Class Estate. Namun semuanya hanya berdasarkan pesanan personal dari para pecinta kendaraan keluarga ini. Dan pabrikan mobil premium asal Jerman ini memang memiliki begitu banyak varian model estate dengan beragam pilihan mesin bensin atau diesel, berpenggerak 2-roda belakang atau all-wheel drive, hingga varian tertinggi AMG-nya sekalipun.
Kehadiran resmi E-Class Estate di Indonesia dalam dua model varian; E 250 Estate Avantgarde seperti yang Anda lihat di halaman ini dan E 400 Estate AMG menjadi pembuka jalan bagi pasar mobil premium model estate ataupun station wagon di Indonesia. Untuk saat ini, BMW belum menghadirkan varian Touring dari model Seri-3 ataupun Seri-5 di tanah air, sementara Audi hanya menawarkan varian tertinggi Audi RS4 Avant saja. Dengan kata lain, dua model estate Mercedes di sini berlari tanpa rival untuk pasar otomotif Indonesia dengan harga jual terdaftar resmi.
Hebatnya lagi, dengan kehadiran model estate ini, PT MBI boleh berbangga hati bahwa model E-Class tipe facelift W212 dan S212 menjadi model mobil premium terlengkap di Indonesia. Model sedan eksekutif 4-pintu, coupe 2-pintu, convertible 2-pintu, serta estate sebagai model teranyar, dikombinasikan dengan beragam pilihan mesin turbo 4-silinder berbahan bakar bensin, turbodiesel 4-silinder, 3,0 liter V6 turbo bensin, hingga mesin “tergila” racikan Affalterbach 5,5 liter biturbo AMG V8 hadir semua untuk memuaskan hasrat pecinta mobil berlogo bintang-tiga ini.
Tempatkan secara sejajar model E-Class sedan dan estate, dan dari sisi depan siapapun tak akan menyangka keduanya adalah spesies yang berbeda. Sama-sama menghadirkan aura elegan dengan tampilan facelift terkininya sejak tahun 2013, sebelum digantikan model yang benar-benar baru di tahun 2016 mendatang. Namun lihat ke sisi samping dan belakangnya, barulah keduanya tampil dengan kekhasannya masing-masing.

Mercedes-Benz E 250 Estate Ava
Model Estate hanya 36mm lebih panjang dibandingkan model Saloon, namun tambahan ruang di bagian ekornya benar-benar menegaskan dimensi panjangnya yang hampir mencapai 5 meter. Mobil ini juga 33mm lebih tinggi daripada model E 250 Avantgarde Saloon. Utamanya dikarenakan bentuk atapnya yang tidak melandai dan ditarik lurus ke belakang, sebelum terpotong drastis pada buritannya.
Ah, buritannya. Ya, inilah daya tarik utama mobil ini. Mungkin bagi sebagian orang sudut kemiringan buritannya terlalu tegak, jauh dari kesan aerodinamis—dan sedikit kurang cantik, sebenarnya. Jika ditambah kemiringannya, tanpa harus terlalu landai seperti konsep shooting-brake, kami percaya E-Class Estate akan tampil lebih menggoda.
Toh bentuk ini justru menghadirkan ruang luar biasa lapang untuk bagian kompartemen belakangnya. Dibandingkan dengan model Saloon yang hanya terbatas pada volume bagasi 540 liter, E-Class Estate jauh lebih superior berkat kapasitas 695 liter, dan masih bisa ditingkatkan lebih mencengangkan lagi, menjadi 1.950 liter ketika jok dilipat. Ingat, kapasitas tersebut masih bisa Anda akses dengan bibir bumper yang rendah khas sedan, tidak setinggi MPV ataupun SUV. Kemudahan juga hadir berkat buka tutup bagasinya yang bisa dilakukan secara elektrik, sehingga jauh dari kata merepotkan.
Mercedes-Benz sebenarnya memberikan fitur “folding bench seat” pada ruang belakang tersebut, namun kami tak terlalu menyukainya. Jok ini terlipat secara pintar ke bagian bawah kompartemen—karena tak memiliki ban cadangan berkat teknologi run-flat tyre—namun ada dua hal yang cukup mengganggu pikiran kami: 1) jok ini luar biasa kecil, dan yang paling aneh 2) menghadap ke arah belakang. Positifnya, jok ini berguna ketika Anda dan keluarga sedang bepergian piknik di taman, dan anak-anak bisa duduk di jok ini menghadap ke arah luar kendaraan. Sisi lainnya, kami lebih memilih untuk membiarkannya terlipat di bagian bawah saja karena sandarannya terlalu tegak, ruang kaki terlalu kecil, dan membutuhkan pose merangkak saat masuk ataupun keluar yang sedikit merepotkan—bahkan bagi anak-anak sekalipun.
Masih berbicara mengenai “buntutnya”, Mercedes juga memberikan jaring penahan di belakang sandaran kepala jok baris kedua dengan sistem lepas-pasang sesuai kebutuhan. Jaring ini seolah menjadi pembatas antara ruang kompartemen dan ruang kabin. Tetapi untuk sisi fungsional, jaring ini bisa memaksimalkan volume bagasi belakang ketika diisi barang sebanyak-banyaknya tanpa khawatir “tumpah” ke kabin 


Mercedes-Benz E 250 Estate Ava
Kabinnya sendiri masih khas E-Class; mewah, senyap, dan berkelas—meskipun kami tetap menginginkan adanya perubahan tampilan panel interior dan dasbornya yang mulai ketinggalan zaman. Diperkirakan model W213 dan S213 mendatang akan mendapatkan teknologi dan tampilan dari S-Class model teranyar. Toh dengan tampilan interior S212 ini, kami tetap merasa nyaman dan semua tombolnya menghadirkan fungsionalitas cukup selama berkendara.
Sektor berkendara E 250 Estate Avantgarde juga layak diacungi jempol. Kesan panjang ternyata semakin kuat saat duduk di balik lingkar kemudinya yang begitu nyaman digenggam, terlihat sporty, sekaligus fungsional khas Mercedes berkat tombol-tombol multifungsinya. Lihat ke spion tengah, maka Anda mulai menyadari betapa panjangnya sebenarnya sisa dimensi bodi E-Class dari posisi duduk.
Mesin bensin 4-silinder turbo berkapasitas 2,0 liter bertenaga 211 hp dan torsi maksimum 350 Nm begitu mumpuni memboyong bobot kosong E 250 Estate Avantgarde yang berada di angka 1.785 kg. Angka tersebut lebih berat 105 kg dibandingkan E 250 Avantgarde Saloon, namun dengan unit mesin dan transmisi 7G-Tronic Plus dengan paddle-shift yang sama, mobil ini sama sekali tak menunjukkan karakter laju yang berbeda. Dorongan torsinya yang sudah hadir dari putaran rendah 1.200 rpm bahkan membuatnya terasa begitu bertenaga saat di lalu lintas macet, ataupun di tikungan menanjak. Hampir seperti diesel, namun jauh lebih senyap, dan lebih halus.
Manufaktur memberikan klaim bahwa mobil ini mampu berakselerasi dari 0-100 kpj dalam 7,8 detik, dan kecepatan puncaknya 233 kpj. E 250 Estate tentu mumpuni diajak berlari kencang, tetapi model estate ini begitu nyaman untuk dikendarai dengan laju menengah, sehingga kami sekalipun enggan untuk mengubah mode berkendaranya menjadi Sport. Cukup tempatkan pada mode Controlled Efficiency, transmisi di posisi D, dan nikmati bantingan suspensinya yang bisa membuat Anda sebagai pengemudi sekalipun ingin langsung terlelap.
Lingkar kemudi elektrik membuat manuver begitu mudah karena berbobot sangat ringan—namun tetap terprediksi, cekatan, dan tajam saat mengarahkan moncong mobil. Pergerakan kontrol bodi memang menjadi terbatas karena bobot besar dan jarak sumbu roda 2.874mm, toh di lintasan lurus mobil ini terasa begitu mantap dan nyaman. Pengaturan suspensinya sangat jempolan dalam menyerap getaran sekaligus gelombang.
Kinerja rem dengan fitur Hold juga menambah nilai mobil ini. Responnya linear, dan ketika terjebak di kemacetan Anda tinggal menekan pedal lebih dalam hingga ikon “HOLD” hijau muncul di layar instrumen, dan lepaskan injakan kaki tanpa khawatir mobil meluncur tak terkendali. Pada mode berkendara Controlled Efficiency, fitur ini juga akan mengaktikan auto start/stop, sehingga konsumsi bahan bakar bisa lebih ditekan saat melaju di perkotaan. Kami sempat menguji dalam perjalanan lebih dari 200 km, E 250 Estate hasilkan angka konsumsi bahan bakar kombinasi 9,90 kpl saja.
Sulit untuk tidak menyukai model E 250 Estate Avantgarde ini. Sepertinya semua kata sifat yang lumrah muncul saat mendeskripsikan kendaraan layak melekat di bodinya; mewah, elegan, praktis, mumpuni, sekaligus efisien. Jika Anda menolak paket komplit ini, yang lain sepertinya akan sulit memberikan alternatif lain kepada Anda.


DATA FAKTA
Rentang harga
Ex-showroom price:Rp 1,209 miliar (OFR)
Mesin
Instalasi:4-silinder segaris, 1.991cc, turbocharger, bensin

Tenaga:211 hp @ 5.500 rpm

Torsi:350 Nm @ 1.200-4.000 rpm
Transmisi
Tipe:7G-Tronic Plus 7-percepatan
Dimensi
Panjang:4.905mm

Lebar:1.854mm

Tinggi:1.507mm

Sumbu roda:2.874mm

Volume bagasi:1.785 kg
Performa(kpj)
0-100:7,8 detik (klaim)
Konsumsi bahan bakar
Kota:9,90 kpl (pengujian)