Tampilkan postingan dengan label Mercedes-Benz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mercedes-Benz. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Februari 2016

5 Mobil Tercepat Mercedes Benz Sepanjang Masa

Mercedes Benz fokus menciptakan berbagai jenis kendaraan premium yang mengusung performa tinggi.

Stuttgart - Mercedes Benz dikenal sebagai salah satu pabrikan otomotif yang membangun kendaraan dengan perpaduan kemewahan, penggunaan yang praktis, serta memiliki performa mumpuni. Pendiri Mercy yaitu Karl Benz sekaligus menjadi pelopor dengan menciptakan mobil bermesin bensin pertama pada 1886 bernama Benz Patent Motorwagen.
Kini, dibawah naungan perusahaan Daimler AG, Mercedes Benz fokus menciptakan berbagai jenis kendaraan premium dari berbagai tipe dengan mengusung performa tinggi. Dengan menggandeng divisi performa AMG, pabrikan berlogo three pointed stars ini sukses membangun mobil-mobil super cepat dan sebagian diantaranya hanya dipergunakan khusus di ajang balap.
Mobil-mobil ini memiliki performa luar biasa dalam hal akselerasi dan membuat orang-orang berkocek tebal tergiur memboyong salah satu diantaranya ke garasi rumah.
Penasaran seperti apa sosok mobil-mobil tercepat mercy? berikut ini uraian singkatnya seperti dikutip dari Therichest:
5. Mercedes-Benz SLR McLaren Stirling Moss Edition
Ketika melihat mobil ini, sebagian dari Anda pasti berpendapat jika SLR McLaren ini bukanlah mobil supercepat. Namun dengan nama SLR McLaren yang diusung, jadi jaminan sebuah mobil sport berbobot ringan serta racikan mesin luar biasa dari produsen otomotif dengan sejarah yang panjang.
Adapun edisi spesial Stirling Moss ini dibangun tanpa atap dan kaca depan. Mobil ini memiliki bobot lebih ringan sekitar 200 kg.
Di balik kapnya, bersemayam mesin V8 5,5 liter dengan output 640 Tk. Mobil super lansiran 1999 ini sanggup berakselerasi hingga 100 km/jam dalam 3,4 detik.
Mercedes Benz fokus menciptakan berbagai jenis kendaraan premium yang mengusung performa tinggi.
Mercedes Benz fokus menciptakan berbagai jenis kendaraan premium yang mengusung performa tinggi.
4. Mercedes-Benz CLK GTR
Mobil selanjutnya yang masuk ke daftar tercepat sepanjang sejarah Mercy yaitu CLK GTR. Mobil ini dibangun oleh Mercedes-AMG sebagai mobil balap.
Menurut regulasi, Mercy diperbolehkan memproduksi model ini paling sedikit 25 unit versi jalanan. Sementara itu, pabrikan asal Stuttgart, Jerman, ini memproduksi CLK GTR sebanyak 35 unit pada 1999 silam.
Adapun pada versi balapnya, CLK GTR didukung mesin V12 6,0 liter sedangkan versi jalanannya didukung mesin V12 6,9 liter naturally aspirated. Mobil ini sanggup berakselerasi dari 0-100 km/jam dalam 3,3 detik
Mercedes Benz fokus menciptakan berbagai jenis kendaraan premium yang mengusung performa tinggi.
Mercedes Benz fokus menciptakan berbagai jenis kendaraan premium yang mengusung performa tinggi.
3. Mercedes-Benz E63 AMG S
Meskipun hadir dalam sosok mobil sedan, jangan pernah meremehkan performa E63 AMG S ini. Sebab, mobil ini menurut hasil uji coba yang dilakukan oleh berbagai media otomotif terkemuka dunia sanggup berakselerasi dari 1-100 km/jam dalam rentang waktu 3,2-3,3 detik atau lebih cepat dari klaim pabrikan di angka ,5 detik.
Rahasianya, sedan midsize keluaran 2014 ini dipersenjatai mesin V8 5,5 liter twin turbo hasil racikan AMG yang sanggup menyemburkan tenaga hingga 577 Tk. Jika melihat sosoknya sebagai sedan empat pintu, mesin yang diusung E63 AMG S ini tidak begitu buruk untuk urusan performa.

Mercedes Benz fokus menciptakan berbagai jenis kendaraan premium yang mengusung performa tinggi.
Mercedes Benz fokus menciptakan berbagai jenis kendaraan premium yang mengusung performa tinggi.
2. Mercedes-Benz CLS63 AMG S
Lagi-lagi, sedan masuk ke dalam deretan mobil tercepat Mercy sepanjang masa. Adapun kali ini yang masuk ke dalam daftar adalah CLS63 AMG S.
CLS63 AMG S memiliki desain mewah yang lebih cocok untuk mengantarkan para eksekutif ke tempat kerja ketimbang dipacu di sirkuit atau dalam sebuah ajang adu kecepatan. Namun dalam masalah performa, sedan keluaran 2014 ini sanggup berakselerasi hingga 100 km/jam dalam 3,2 detik.
Tak mengherankan, sebab sedan ini diukung mesin yang juga digunakan oleh E63 AMG S yaitu V8 5,5 liter twin turboAMG dengan output 577 Tk.

Mercedes Benz fokus menciptakan berbagai jenis kendaraan premium yang mengusung performa tinggi.
Mercedes Benz fokus menciptakan berbagai jenis kendaraan premium yang mengusung performa tinggi.
1. Mercedes-Benz SLS AMG GT3
Daftar mobil tercepat Mercedes saat ini dipegang oleh SLS AMG GT3. Mobil ini dibangun oleh Mercedes khusus balap GT3 dengan mengacu regulasi FIA.
SLS AMG GT3 dibangun secara handmade dari basis 300 SL gullwing coupe dan diperuntukkan bagi konsumennya yang ingin memacu di trek balap atau sirkuit. Mercedes membangun SLS AMG GT3 dengan sebagian besar material bodi dari serat karbon dan lebih ringan 350 kilogram ketimbang SLS versi jalanan.
Untuk jantung mekanis, SLS AMG GT3 dipersenjatai mesin V8 6,2 liter racikan AMG dengan output lebih dari 600 Tk. Mobil ini mampu melesat hingga 100 km/jam dalam 3,2 detik.

Kamis, 28 Januari 2016

Mercedes-Benz GLC

Mercedes-Benz GLC
Perubahan nomenclature pada Mercedes-Benz menghadirkan satu spesies baru, sebuah SUV berbasis C-Class. Kami mengujinya langsung di tiga negara Eropa.

First Drive Mercedes Benz GLC - Pujangga terkenal asal Inggris William Shakespeare pernah menulis, "What's in a name?" Apalah arti sebuah nama? Lalu ada pula yang menyebutkan, nama adalah kekuatan "jiwa" dari benda itu sendiri. Selain menjadi identitas sepanjang hidup, nama konon menyimpan kekuatan misterius. Di Indonesia,  sebuah ritual dilakukan jika seseorang mengubah atau mengganti namanya agar terhindar dari nasib buruk.
Namun apa yang dilakukan oleh Mercedes-Benz dengan mengganti seluruh nomenclature pada keluarga SUV mereka tak perlu ritual apapun. Hanya saja Mercedes-Benz tentu berharap akan ada kesuksesan dibalik penggantian nama tersebut. Setelah GLA-Class yang berbasis pada A-Class dan GLE-Class yang menggantikan ML-Class, kini yang terbaru adalah GLC-Class, SUV berbasis C-Class yang diharapkan dapat mengikuti kesuksesan sedan terlaris pabrikan Jerman ini. Sebenarnya GLC ini merupakan generasi terbaru dari GLK-Class, namun Mercedes-Benz mengganti namanya dengan GLC selain karena berbasis C-Class juga karena kini akan tersedia model setir kanan.
Memang pada generasi pertama GLK, pabrikan Stuttgart ini hanya menyediakan dengan pilihan setir kiri saja, sehingga mobil ini tak pernah ditemui di jalanan Indonesia. Kini, Mercedes mengakui pertumbuhan tren SUV yang kian tinggi di seluruh dunia membuat mereka tersadar dengan melahirkan GLC dengan setir kanan dan kiri. Autocar Indonesia pun diundang oleh Mercedes-Benz Indonesia (MBI) untuk menguji langsung SUV terbaru pabrikan Stuttgart ini. Saya mengujinya dengan menjelajah tiga kota di tiga negara Eropa yaitu Basel di Swiss, Ettenheim, Jerman hingga Strasbourg, Prancis.

Mercedes-Benz GLC
Paradigma Desain Baru
GLC-Class ini memang mengadopsi platform MRA (Modular Rear Architecture) yang sama dengan C-Class, namun berkat modifikasi yang dilakukan, GLC memiliki jarak sumbu roda lebih panjang 33 mm dari C-Class. Sementara jarak pijaknya juga lebih lebar 31 mm di depan dan 47 mm di belakang. Hal inilah yang membuat kabin GLC ini terasa jauh lebih lega dari saudara dekatnya ini.
Mercedes memang mengakui jika GLC merupakan jawaban untuk BMW X3 dan Audi Q5, sehingga secara dimensi hampir serupa dengan X3 dan Q5. Namun jika dibandingkan dengan pesaing beratnya, GLC ini masih lebih unggul sekitar 1 mm lebih panjang, 9 mm lebih lebar dan 21 mm lebih rendah dibanding X3, yaitu 4.656 x 1.890 x 1.639 mm.
Meskipun secara dimensi GLC ini juga lebih besar dari pendahulunya, Mercedes mengatakan jika GLC ini memiliki bobot yang 80 kg lebih ringan dari GLK. Hal ini didapat dari penggunaan campuran baja berkekuatan tinggi pada struktur bodi dengan alumunium pada sayap depan, bonnet dan atap.
Mercedes mengatakan generasi kedua dari GLK ini memiliki gabungan unsur ketangguhan G-Class dengan aura sporty milik C-Class. Bentuk dan lekuk tubuh dari GLC ini berbeda dari pendahulunya, GLK. Ia tak lagi berbentuk kotak dan kaku seperti GLK dan G-Class. GLC dipahat dengan banyak lekukan yang membuat tubuhnya lebih modern dan indah dipandang. GLC juga didukung tingkat aerodinamika yang baik dengan koefisien hambatan angin yang hanya 0,31 cd.
Tampilan depannya menyiratkan bahasa desain terkini dari Mercedes-Benz. Overhang yang pendek, ringkas dan tinggi dipadukan dengan grille palang ganda mengapit logo bintang Mercedes-Benz. Sekilas memang sama seperti C-Class terbaru, mulai dari bentuk grille, lampu depan termasuk bentuk DRL hingga bentuk bumper dan airdam. Hanya saja, pada GLC bentuk bumpernya bisa menyesuaikan dengan pilihan trim yang Anda pilih. Bergeser ke samping, baru terlihat jelas perbedaannya jika GLC adalah sebuah SUV dengan ground clearance sebesar 181 mm. Selain itu rumah kaca GLC nyaris menyerupai tampilan sebuah coupe. Tampilan belakangnya memiliki karakter SUV yang lebar dan berotot dengan pilihan bumper yang juga bervariasi sama seperti bagian depan.
Berubahnya paradigma desain Mercedes tak hanya untuk tampilan luar saja. GLC baru ini juga mendapat perubahan signifikan di bagian interior. Masuk ke dalam kabinnya, langsung terasa seperti masuk ke dalam kabin C-Class generasi terakhir. Tata letaknya sama persis dengan saudara dekatnya itu. Kunci utama dari desain interior ada pada dashboard dan konsol tengah yang membentuk rangkaian segaris yang mengalir mulai dari ventilasi udara tengah hingga ke armrest. Selain itu, touchpad inovatif khas Mercedes-Benz telah dikembangkan sehingga dapat menginput huruf atau angka dengan gerakan jari, layaknya layar sentuh pada smartphone. Sementara layar penampil media yang terintegrasi dengan touchpad diposisikan di atas konsol tengah.  
Kesan lapang dan lega menyambut saya saat masuk ke dalam kabinnya yang ditunjang dengan adanya panoramic roof. Sebagai sebuah SUV posisi duduk pada GLC lebih tinggi ketimbang saudaranya C-Class. Namun aura mewah dan elegan terpancar dari pemilihan material berkualitas premium, seperti jok berlapis kulit nappa dengan trim kayu serta lubang AC berlabur metallic. Semua ini tersaji demi menyuguhkan kenikmatan berkendara tanpa mengurangi keindahan estetika.


Mercedes-Benz GLC
Tiga Jantung Mekanis
Mercedes-Benz telah menyediakan tiga pilihan mesin untuk dicicipi oleh para jurnalis. Dua mesin diesel 4-silinder dengan kapasitas 2.1 liter turbo dan satu mesin bensin 4-silinder berkapasitas 2.0 liter turbo. GLC 220d memiliki tenaga sebesar 170 hp dengan torsi 400 Nm, kemudian GLC 250d dengan tenaga maksimal 204 hp dan torsi 500 Nm. Terakhir adalah mesin bensin GLC 250 yang sanggup melontarkan tenaga sebesar 211 hp dan torsi 350 Nm.
Semua varian ini ditawarkan dengan penggerak empat roda (AWD) permanen atau 4MATIC. Untuk menggerakkan keempat roda tersebut, pabrikan asal Stuttgart ini menyematkan transmisi otomatis terbaru, 9G-TRONIC. Transmisi 9-speed ini mereka klaim memiliki efisiensi bahan bakar yang amat baik.
Perjalanan menjelajah tiga negara dimulai dari Bandara EuroAirport di Basel, Swiss. Saya memilih untuk mencoba Mercedes-Benz GLC dengan varian bensin terlebih dahulu. Karena menurut pihak Mercedes-Benz Indonesia (MBI) kemungkinan besar yang akan masuk ke Tanah Air adalah GLC 250. Etape pertama berjarak sekitar 111 km menuju perkebunan anggur Winery Weber di kota Ettenheim, Jerman. Mayoritas kondisi rute yang dilalui merupakan jalan bebas hambatan, dengan beberapa bagian melewati jalan raya pedesaan dengan kontur pegunungan yang penuh tikungan serta tanjakan dan turunan.
Mesin 2.0 liter turbo bensin menyala tanpa menimbulkan suara yang berarti, mobil pun melaju tanpa hentakan berkat transmisi 9-speed terbaru yang menyuguhkan perpindahan gear sangat halus. Untuk berakselerasi, GLC 250 4MATIC yang menjadi unit tes saya terasa cukup responsif. Namun saya tak bisa menggunakan gaya mengemudi di jalanan Jakarta, karena di Eropa sangat ketat dengan banyak petunjuk mengenai batas kecepatan maksimum. Jadi di sini saya lebih banyak mengeksplorasi fitur dan teknologi yang dimiliki oleh GLC.
Merasakan menjadi penumpang di GLC juga sungguh menyenangkan. Anda akan mendapatkan perasaan yang nyaman dan tenang layaknya sebuah mobil premium. Dengan ruang kaki dan bahu serta kepala yang lega, menempuh perjalanan jauh pun tidak terasa melelahkan. Atap panoramic-nya mampu membuai penumpang belakang sehingga menimbulkan kesan yang semakin lapang. Bagasi belakang berkapasitas 550 liter yang bisa diperluas menjadi 1.600 liter jika baris kedua dilipat.

Mercedes-Benz GLC
Kecanggihan Teknologi ala Jerman
Perlu diketahui, GLC yang saya coba ini dilengkapi dengan berbagai teknologi canggih yang membantu pengemudi terutama dalam hal keselamatan berkendara. Mulai dari Air Body Control, ini adalah SUV pertama di segmen ini yang mengadopsi teknologi suspensi udara multi-chamber. Dikombinasikan dengan Adaptive Damping System Plus (ADS Plus) GLC menyuguhkan pengendaraan yang stabil dan kelincahan dengan tingkat kenyamanan yang optimal.
Suspensi udara Air Body Control ini menyuguhkan bekerja beriringan dengan mode pengendaraan Dynamic Select khas Mercedes. Sistem suspensi ini mengatur secara otomatis tingkat kekakuan dan fleksibilitas suspensi sesuai dengan mode berkendara yang Anda pilih. Dynamic Select pada GLC ini menawarkan lima mode berkendara, Eco, Comfort, Sport, Sport+ dan Individual. Hal yang sama juga berlaku bagi ADS Plus, di mana komputer akan memilih karakteristik peredaman terbaik secara otomatis sesuai dengan kontur permukaan jalan.
Saya merasakan sendiri saat berkendara dengan mode Comfort dan sedikit melakukan manuver cepat, karakteristik suspensi dan peredam seketika terkoreksi menjadi lebih kaku sehingga mobil tetap terasa stabil. Begitu juga saat menggunakan mode Sport dan mobil menghajar lubang, namun kali ini karakternya berubah terbalik karena suspensi udara dan peredam akan jauh lebih lembut pada ban yang menghajar lubang tersebut. Efeknya guncangan terasa sangat minim dan di dalam kabin tetap terasa nyaman. Menurut Mercedes, sistem ini bekerja dengan respon hanya sekitar 60 milidetik.
Karakter yang cukup membuat saya terkesan adalah mode Sport+, karena GLC ini memberikan sensasi seperti mengendarai mobil sport karena ketinggian mobil secara otomatis menjadi lebih rendah 15 mm dan ditambah dengan putaran mesin yang lebih tinggi sehingga respon akselerasi menjadi lebih menyenangkan. Terbukti saat melintasi Autobahn untuk menuju Strasbourg, Prancis saya sanggup memacu GLC hingga nyaris menyentuh angka 200 kpj di spidometer.     
Masih banyak kecanggihan teknologi yang dimiliki SUV medium ini. Yang paling menarik perhatian saya adalah sistem Distronic Plus. Awalnya saya mengira ini merupakan sistem cruise control yang sama seperti cruise control lain yang sudah berkali-kali saya jajal. Namun Distronic Plus ini jauh lebih canggih, menurut Rainer Tiefenbacher selaku Development GLC ini sama seperti teknologi Autonomous. Karena sistem ini ditambah dengan Steer Control dan Stop&Go Pilot sehingga tak hanya menjaga kecepatan mobil sesuai dengan keinginan pengemudi saja, namun juga bisa mengikuti kecepatan mobil yang ada di depannya bahkan dalam kondisi lalu lintas yang padat (stop-and-go).
Saya mencobanya sendiri saat berada di jalan tol, dan memang mobil ini secara otomatis mengurangi kecepatannya saat radar mendeteksi jarak kendaraan di depan dalam batas minimum, bahkan sampai pada saat mobil di depan dalam kondisi berhenti. Semua ini dilakukan secara otomatis oleh komputer tanpa ada intervensi dari saya selaku pengemudi. Canggih bukan? Aspek keselamatan standarnya juga didukung teknologi Collision Prevention Assist Plus, Crosswind Assist, Headlamp Assist dan Attention Assist. Lingkar kemudi GLC pun akan bergetar jika Anda berpindah jalur tanpa memberikan signal.

Mercedes-Benz GLC
Kemampuan Offroad
Puas menguji GLC 250 4MATIC ini pada jalanan mulus dan berliku, saatnya saya menguji kapabilitas off-road dari GLC di trek yang telah dipersiapkan di kawasan perkebunan anggur Winery Weber, Jerman, sepanjang 30 km. Meski mayoritas pembeli GLC saya rasa tak akan membawa SUV ini jauh ke dalam hutan atau ke daerah tanpa jalan aspal, namun Mercedes-Benz tetap menyediakan opsi Off-Road Engineering bagi para pemilik GLC. Untuk itu, Mercedes telah menyulap kawasan perkebunan anggur ini menjadi trek offroad dengan tingkat kesulitan yang cukup menantang dan membuat jantung saya berdetak lebih kencang.
Saya pun masuk ke dalam GLC 250 4MATIC yang telah dilengkapi dengan Offroad Engineering Package ditemani oleh satu orang instruktur dari Mercedes. Mode 'offroad' dipilih sehingga ketinggian mobil naik 50 mm dari standarnya. Oh ya, dalam paket offroad ini terdapat lima mode pengendaraan terpisah dari Dynamic Select, yaitu Slippery, Trailer, Off-road, Incline dan Rocking Assist. Selain itu juga mobil ini mendapat tambahan protektor di bagian bawah untuk melindungi dari medan berbatu. Serta Downhill Speed Regulation (DSR) yang mengatur kecepatan mobil saat turunan tajam, mirip fitur Hill Descent Control.
Tantangan pertama adalah tanjakan tajam di mana saat menanjak yang bisa terlihat hanyalah warna biru dari langit. Di sinilah fungsi kamera 360° yang menampilkan posisi mobil dari segala arah (bird-eye), sang instruktur hanya memberikan arahan untuk melihat kamera tersebut karena ternyata setelah tiba di puncak jalanan harus berbelok patah ke kanan. Dan dengan bantuan kamera ini rintangan tersebut dapat teratasi dengan mudah. Mercedes tidak memberikan low-gear pada paket offroad GLC ini sehingga untuk mendaki Anda harus terus menekan pedal gas secara agresif.
Tantangan berikutnya adalah turunan tajam tanpa menginjak pedal rem, percayakan saja pada DSR dan saya pun meluncur ke bawah dengan aman. Kemudian menuju ke rintangan berikutnya yang menunjukkan kemampuan offorad GLC tidak bisa dipandang sebelah mata. Di sini beberapa kali GLC dipaksa untuk berpijak dengan tiga roda bahkan hanya dua roda, untuk menunjukkan sistem 4ETS (electronic traction system) bekerja dengan baik.
Jika pedal rem dilepas dalam kondisi satu atau dua roda tidak mendapat traksi maka roda tersebut akan terus berputar, namun jika pedal gas diinjak maka roda akan berhenti dan torsi dari roda tersebut akan dialihkan secara otomatis kepada roda lain yang mendapat traksi. Hal ini menunjukkan jika GLC dapat lolos dari lubang berukuran masif tanpa kesulitan berarti. Mungkin di sini lebih baik saya biarkan gambar yang berbicara. Jelas dengan sudut approach dan departure mencapai 30,8° dan 24,8° ditambah dengan sudut breakover 19,7° dan sudut kemiringan hingga 35°, GLC ini masih sanggup untuk melawan Land Rover Discovery terbaru di medan tak ramah.
Saya tidak menyangka jika GLC akan menyuguhkan pengalaman sebaik ini, karena memang generasi GLK sebelumnya tak pernah ada di Indonesia. Namun semua ini saya rasakan dengan spesifikasi tertinggi dari GLC yang akan dipasarkan untuk Eropa. Bagaimana dengan GLC yang akan masuk ke Tanah Air? Sepertinya jika Mercedes tetap mempertahankan segala fitur dan teknologi yang sama dengan GLC yang saya tes ini maka konsekuensinya akan menjadi tanggungan konsumen dengan harga yang tak murah. Pihak MBI sendiri belum mau membocorkan spesifikasi GLC untuk Indonesia.
Kesuksesan Mercedes-Benz dengan penggantian nama dari seluruh line-up SUV mereka tampaknya akan berbuah manis, dimulai dari GLC yang sepertinya akan bisa mengikuti kesuksesan dari saudaranya C-Class. Mungkin tak semua pemilik GLC ini akan menguji mobil mereka dengan cara yang sama seperti ini, namun mengetahui kemampuan sesungguhnya dari GLC ini menghasilkan sebuah simbiosis yang sempurna, sesuai dengan karakteristik dari ketiga negara yang saya jelajahi. Mercedes-Benz GLC memiliki karakter efisien layaknya negara Swiss, sarat dengan teknologi canggih khas Jerman dan membuat Anda menikmati hidup dengan sukacita ala masyarakat Prancis.


Mercedes-Benz E 250 Estate Ava

Mercedes-Benz E 250 Estate Ava
Hadirnya model Estate, keluarga E-Class jadi mobil premium terlengkap.

Sebelumnya PT Mercedes-benz Indonesia memang telah menjual model-model Mercedes-Benz estate, baik E-Class Estate ataupun C-Class Estate. Namun semuanya hanya berdasarkan pesanan personal dari para pecinta kendaraan keluarga ini. Dan pabrikan mobil premium asal Jerman ini memang memiliki begitu banyak varian model estate dengan beragam pilihan mesin bensin atau diesel, berpenggerak 2-roda belakang atau all-wheel drive, hingga varian tertinggi AMG-nya sekalipun.
Kehadiran resmi E-Class Estate di Indonesia dalam dua model varian; E 250 Estate Avantgarde seperti yang Anda lihat di halaman ini dan E 400 Estate AMG menjadi pembuka jalan bagi pasar mobil premium model estate ataupun station wagon di Indonesia. Untuk saat ini, BMW belum menghadirkan varian Touring dari model Seri-3 ataupun Seri-5 di tanah air, sementara Audi hanya menawarkan varian tertinggi Audi RS4 Avant saja. Dengan kata lain, dua model estate Mercedes di sini berlari tanpa rival untuk pasar otomotif Indonesia dengan harga jual terdaftar resmi.
Hebatnya lagi, dengan kehadiran model estate ini, PT MBI boleh berbangga hati bahwa model E-Class tipe facelift W212 dan S212 menjadi model mobil premium terlengkap di Indonesia. Model sedan eksekutif 4-pintu, coupe 2-pintu, convertible 2-pintu, serta estate sebagai model teranyar, dikombinasikan dengan beragam pilihan mesin turbo 4-silinder berbahan bakar bensin, turbodiesel 4-silinder, 3,0 liter V6 turbo bensin, hingga mesin “tergila” racikan Affalterbach 5,5 liter biturbo AMG V8 hadir semua untuk memuaskan hasrat pecinta mobil berlogo bintang-tiga ini.
Tempatkan secara sejajar model E-Class sedan dan estate, dan dari sisi depan siapapun tak akan menyangka keduanya adalah spesies yang berbeda. Sama-sama menghadirkan aura elegan dengan tampilan facelift terkininya sejak tahun 2013, sebelum digantikan model yang benar-benar baru di tahun 2016 mendatang. Namun lihat ke sisi samping dan belakangnya, barulah keduanya tampil dengan kekhasannya masing-masing.

Mercedes-Benz E 250 Estate Ava
Model Estate hanya 36mm lebih panjang dibandingkan model Saloon, namun tambahan ruang di bagian ekornya benar-benar menegaskan dimensi panjangnya yang hampir mencapai 5 meter. Mobil ini juga 33mm lebih tinggi daripada model E 250 Avantgarde Saloon. Utamanya dikarenakan bentuk atapnya yang tidak melandai dan ditarik lurus ke belakang, sebelum terpotong drastis pada buritannya.
Ah, buritannya. Ya, inilah daya tarik utama mobil ini. Mungkin bagi sebagian orang sudut kemiringan buritannya terlalu tegak, jauh dari kesan aerodinamis—dan sedikit kurang cantik, sebenarnya. Jika ditambah kemiringannya, tanpa harus terlalu landai seperti konsep shooting-brake, kami percaya E-Class Estate akan tampil lebih menggoda.
Toh bentuk ini justru menghadirkan ruang luar biasa lapang untuk bagian kompartemen belakangnya. Dibandingkan dengan model Saloon yang hanya terbatas pada volume bagasi 540 liter, E-Class Estate jauh lebih superior berkat kapasitas 695 liter, dan masih bisa ditingkatkan lebih mencengangkan lagi, menjadi 1.950 liter ketika jok dilipat. Ingat, kapasitas tersebut masih bisa Anda akses dengan bibir bumper yang rendah khas sedan, tidak setinggi MPV ataupun SUV. Kemudahan juga hadir berkat buka tutup bagasinya yang bisa dilakukan secara elektrik, sehingga jauh dari kata merepotkan.
Mercedes-Benz sebenarnya memberikan fitur “folding bench seat” pada ruang belakang tersebut, namun kami tak terlalu menyukainya. Jok ini terlipat secara pintar ke bagian bawah kompartemen—karena tak memiliki ban cadangan berkat teknologi run-flat tyre—namun ada dua hal yang cukup mengganggu pikiran kami: 1) jok ini luar biasa kecil, dan yang paling aneh 2) menghadap ke arah belakang. Positifnya, jok ini berguna ketika Anda dan keluarga sedang bepergian piknik di taman, dan anak-anak bisa duduk di jok ini menghadap ke arah luar kendaraan. Sisi lainnya, kami lebih memilih untuk membiarkannya terlipat di bagian bawah saja karena sandarannya terlalu tegak, ruang kaki terlalu kecil, dan membutuhkan pose merangkak saat masuk ataupun keluar yang sedikit merepotkan—bahkan bagi anak-anak sekalipun.
Masih berbicara mengenai “buntutnya”, Mercedes juga memberikan jaring penahan di belakang sandaran kepala jok baris kedua dengan sistem lepas-pasang sesuai kebutuhan. Jaring ini seolah menjadi pembatas antara ruang kompartemen dan ruang kabin. Tetapi untuk sisi fungsional, jaring ini bisa memaksimalkan volume bagasi belakang ketika diisi barang sebanyak-banyaknya tanpa khawatir “tumpah” ke kabin 


Mercedes-Benz E 250 Estate Ava
Kabinnya sendiri masih khas E-Class; mewah, senyap, dan berkelas—meskipun kami tetap menginginkan adanya perubahan tampilan panel interior dan dasbornya yang mulai ketinggalan zaman. Diperkirakan model W213 dan S213 mendatang akan mendapatkan teknologi dan tampilan dari S-Class model teranyar. Toh dengan tampilan interior S212 ini, kami tetap merasa nyaman dan semua tombolnya menghadirkan fungsionalitas cukup selama berkendara.
Sektor berkendara E 250 Estate Avantgarde juga layak diacungi jempol. Kesan panjang ternyata semakin kuat saat duduk di balik lingkar kemudinya yang begitu nyaman digenggam, terlihat sporty, sekaligus fungsional khas Mercedes berkat tombol-tombol multifungsinya. Lihat ke spion tengah, maka Anda mulai menyadari betapa panjangnya sebenarnya sisa dimensi bodi E-Class dari posisi duduk.
Mesin bensin 4-silinder turbo berkapasitas 2,0 liter bertenaga 211 hp dan torsi maksimum 350 Nm begitu mumpuni memboyong bobot kosong E 250 Estate Avantgarde yang berada di angka 1.785 kg. Angka tersebut lebih berat 105 kg dibandingkan E 250 Avantgarde Saloon, namun dengan unit mesin dan transmisi 7G-Tronic Plus dengan paddle-shift yang sama, mobil ini sama sekali tak menunjukkan karakter laju yang berbeda. Dorongan torsinya yang sudah hadir dari putaran rendah 1.200 rpm bahkan membuatnya terasa begitu bertenaga saat di lalu lintas macet, ataupun di tikungan menanjak. Hampir seperti diesel, namun jauh lebih senyap, dan lebih halus.
Manufaktur memberikan klaim bahwa mobil ini mampu berakselerasi dari 0-100 kpj dalam 7,8 detik, dan kecepatan puncaknya 233 kpj. E 250 Estate tentu mumpuni diajak berlari kencang, tetapi model estate ini begitu nyaman untuk dikendarai dengan laju menengah, sehingga kami sekalipun enggan untuk mengubah mode berkendaranya menjadi Sport. Cukup tempatkan pada mode Controlled Efficiency, transmisi di posisi D, dan nikmati bantingan suspensinya yang bisa membuat Anda sebagai pengemudi sekalipun ingin langsung terlelap.
Lingkar kemudi elektrik membuat manuver begitu mudah karena berbobot sangat ringan—namun tetap terprediksi, cekatan, dan tajam saat mengarahkan moncong mobil. Pergerakan kontrol bodi memang menjadi terbatas karena bobot besar dan jarak sumbu roda 2.874mm, toh di lintasan lurus mobil ini terasa begitu mantap dan nyaman. Pengaturan suspensinya sangat jempolan dalam menyerap getaran sekaligus gelombang.
Kinerja rem dengan fitur Hold juga menambah nilai mobil ini. Responnya linear, dan ketika terjebak di kemacetan Anda tinggal menekan pedal lebih dalam hingga ikon “HOLD” hijau muncul di layar instrumen, dan lepaskan injakan kaki tanpa khawatir mobil meluncur tak terkendali. Pada mode berkendara Controlled Efficiency, fitur ini juga akan mengaktikan auto start/stop, sehingga konsumsi bahan bakar bisa lebih ditekan saat melaju di perkotaan. Kami sempat menguji dalam perjalanan lebih dari 200 km, E 250 Estate hasilkan angka konsumsi bahan bakar kombinasi 9,90 kpl saja.
Sulit untuk tidak menyukai model E 250 Estate Avantgarde ini. Sepertinya semua kata sifat yang lumrah muncul saat mendeskripsikan kendaraan layak melekat di bodinya; mewah, elegan, praktis, mumpuni, sekaligus efisien. Jika Anda menolak paket komplit ini, yang lain sepertinya akan sulit memberikan alternatif lain kepada Anda.


DATA FAKTA
Rentang harga
Ex-showroom price:Rp 1,209 miliar (OFR)
Mesin
Instalasi:4-silinder segaris, 1.991cc, turbocharger, bensin

Tenaga:211 hp @ 5.500 rpm

Torsi:350 Nm @ 1.200-4.000 rpm
Transmisi
Tipe:7G-Tronic Plus 7-percepatan
Dimensi
Panjang:4.905mm

Lebar:1.854mm

Tinggi:1.507mm

Sumbu roda:2.874mm

Volume bagasi:1.785 kg
Performa(kpj)
0-100:7,8 detik (klaim)
Konsumsi bahan bakar
Kota:9,90 kpl (pengujian)

Jumat, 15 Januari 2016

Mercedes-Benz Concept IAA, Mobil Paling Aerodinamis di Dunia

Mercedes-Benz Concept IAA Dengan sistem aerodinamika yang pintar.
Mercedes-Benz Concept IAA, Mobil Paling Aerodinamis di Dunia
Mercedes-Benz Concept IAA (Intelligent Aerodynamic Automobile) merupakan salah satu mobil yang banyak dilirik pada ajang Frankfurt Internationale Automobil-Austellung (IAA) Cars 2015 bulan September silam. Pasalnya mobil konsep ini membawa teknologi sistem aerodinamika ke tingkatan yang lebih jauh dari yang sudah diterapkan pada mobil-mobil saat ini.

Pihak manufaktur menyebut Concept IAA sebagai perpaduan dua mobil dalam satu perwujudan, yakni sebuah coupe empat pintu berdesain menawan dan sebuah mobil yang menjunjung tinggi aerodinamika dengan angka koefisien drag mencapai 0,19. Angka koefisien tersebut menjadikan Concept IAA sebagai mobil paling aerodinamis di dunia. Demi mencapai angka tersebut, Mercedes-Benz Concept IAA dapat bertransformasi bentuk dan dilakukan dengan hanya menekan tombol khusus atau secara otomatis ketika laju mobil menyentuh angka 80 kpj.

Transformasi bentuknya berupa penambahan delapan segmen pada bagian ekor serta flap di bagian wajah dan belakang juga bertambah panjang, masing-masing sejumlah 25 mm dan 20 mm. Velg mobil juga bisa mengembang sekaligus mengempis demi mengurangi koefisien gesek udara. Perubahan dimungkinkan berkat jaringan digital sistematis dengan metode desain algoritma tercanggih yang menangani desain geometri yang rumit. Untuk dimensinya sendiri, Concept IAA memiliki panjang 5.040 mm (5.430 mm dalam mode aerodinamik), lebar 1.995 mm, dan tinggi 1.305 mm.


Bentuk desain luarnya terlihat sangat dinamis dan mendukung aerodinamika tinggi, serta menginterpretasikan proporsi sportscar klasik dalam nadi yang modern. Kap mesin panjang dan mengalir hingga ke bagian windshield, naik keatap dan menurun pada bagian belakang.

Kombinasi rasa sporty penuh gaya dan kemewahan modern diaplikasikan pada sektor interior, yang masih membawa nilai-nilai desain kemewahan dari S-Class sekaligus memberi gambaran tentang seperti apa interior sebuah sedan bisnis di masa mendatang. Berbekal filosofi berbasis sentuhan dengan fungsionalitas tinggi, sektor interior juga dibekali dengan material berkualitas.

Bagian palang kemudi dengan struktur palang terbuka horizontalnya juga dibenamkan teknologi sentuhan yang menawarkan fungsionalitas tinggi nan praktis. Tombol OFN (Optical Finger Navigation) yang ditanamkan pada cluster memungkinkan pengemudi untuk menelusuri menu cluster instrumen, tombol di kiri untuk layar kiri dan kanan untuk layar posisi kanan. Dengan begitu, filosofi mengemudi yang memfokuskan pada ‘tangan pada kemudi, pandangan ke jalan’ dapat terpenuhi.

Sebagai mobil plug-in hybrid, Concept IAA dapat menghasilkan total tenaga sebesar 279 hp, dengan kecepatan puncak yang dibatasi secara elektronik di angka 250 kpj. Berbekal tenaga elektriknya saja, Concept IAA dapat berjalan sejauh 66 km dalam mode aerodinamika atau 62 km dalam mode normal.

Mercedes-Benz belum memiliki agenda untuk menciptakan Concept IAA menjadi mobil versi produksi, namun teknologi yang diembannya menjadi batu loncatan dalam menghadirkan inovasi untuk model coupe empat-pintunya, yaitu CLS-Class. Dipercaya CLS generasi mendatang akan terilhami banyak ide dari model Concept IAA ini.

Mercedes-Benz C250 Exclusive

Mercedes-Benz C250 Exclusive
Generasi baru Mercedes-Benz C-Class rakitan lokal berdesain lebih elegan.

Bersamaan dengan perayaan hari jadi Mercedes-Benz di Indonesia yang ke-45 tahun, PT Mercedes-Benz Indonesia dengan bangga meluncurkan beberapa varian baru dari C-Class yang kini telah dirakitan di pabrik Mercedes-Benz Indonesia di Wanaherang. Mercedes-Benz C-Class sendiri merupakan salah satu model yang paling diminati di jajaran mobil yang dipasarkan oleh Mercedes-Benz di Tanah Air.

Di antara tiga varian baru C-Class yang diluncurkan, kali ini kami berkesempatan menguji varian C250 Exclusive. Mobil ini berbagi mesin serupa dengan varian C250 AMG, namun dengan tampilan yang berbeda. Apabila C250 AMG dibekali paket sporty, C250 Exclusive merupakan varian yang mengusung tampilan lebih berkelas, elegan, dan penuh karisma. Meski begitu, mobil ini tetap memiliki sentuhan sporty.

Perhatikan saja paras wajahnya yang sangat berbeda dengan saudaranya, terutama di bagian grille. C250 AMG menggunakan grille sporty dengan dua palang dan logo bintang besar di tengahnya, sementara Mercedes-Benz C250 Exclusive menggunakan desain klasik yang lebih elegan, dengan simbol bintang kembali ditempatkan di ujung kap mesin. Tak hanya itu, sektor velg roda berukuran 17 inci dengan palang banyak juga menguatkan aura klasik nan elegan dari C250 Exclusive.

Satu hal fitur yang menarik adalah kisi-kisi pada grille nya dapat terbuka dan tertutup otomatis. Fitur tersebut merupakan adopsi dari C250 Plug-in Hybrid yang berfungsi sebagai pendingin radiator pada C250 Exclusive. Saat memerlukan pendinginan, kisi-kisi akan terbuka, dan sebaliknya akan tertutup saat tidak diperlukan, yang sekaligus mengurangi hambatan udara. Di bagian belakang C250 Exclusive telah disematkan knalpot kembar dengan trim krom dan terintegrasi langsung dengan bumper, sehingga tetap memberikan kesan yang sporty.

Mercedes-Benz C250 Exclusive
Jarak sumbu roda 2.840 mm menjanjikan C-Class baru ruang kabin yang lebih luas. Namun bagi penumpang belakang yang memiliki tinggi 175 cm ke atas akan merasa kurang leluasa saat duduk di belakang karena ruang kaki yang cukup terbatas. Sementara bangku pengemudi dan penumpang depan bisa diatur sesuai dengan keinginan, serta memiliki fungsi memori untuk penyimpanan posisi duduk.

Sistem audio yang tersedia merupakan lansiran Burmester yang terdiri dari 13 speaker dan pengeras suara dengan DSP 9-channel dan output total hingga 590 watt. Peta navigasi dengan basis data Garmin Map Pilot juga akan menjamin Anda sampai ke lokasi yang diinginkan. Selain itu, masih ada juga tilt sunroof yang memastikan sinar matahari menerangi kabin saat cuaca hangat.

Jantung mekanis 4-silinder 1.991 liter yang disematkan pada kap mesin merupakan mesin yang sama dengan C250 AMG, yang mampu menghasilkan semburan tenaga 211 hp pada 5.500 rpm dan torsi berlimpah 350 Nm yang tersedia pada rentang 1.200 - 4.000 rpm. Sebagai pendistribusi tenaga telah disiapkan transmisi 7-speed otomatis 7G TRONIC PLUS yang menghasilkan perpindahan gear halus tanpa interupsi.

Mercedes-Benz C250 Exclusive
Saat menginjak pedal akselerator, mobil akan merespon dengan baik dan tidak berlebihan. Akselerasinya mantap dan torsi sudah tersedia di putaran rendah. Bobot pedalnya pun terasa sangat pas, bahkan dalam mode ECO sekalipun Anda masih dapat menikmati berkendara dengan C250 Exclusive.

Lain ceritanya ketika Anda memindahkan mode Agility ke Sport dan Sport+ yang mengubah setelan suspensi menjadi sedikit lebih kaku dan rendah sekaligus menjadikan pedal akselerator lebih ringan dan responsif sehingga hanya dengan sedikit injakan mobil akan langsung melesat cepat. Bobot putaran kemudinya pun akan menyesuaikan dengan kecepatan dan kendalinya akan menurut sesuai dengan arah yang Anda inginkan. Tambahkan dengan fungsi paddle shift di balik lingkar kemudi dan Anda siap untuk bersenang-senang.

Urusan keselamatan tak perlu dipertanyakan lagi karena C250 Exclusive dibekali teknologi dan fitur yang lengkap mulai dari Air Bag, Collision Prevention Assist Plus (CPA+)/Bantuan Tambahan untuk Mencegah Tabrakan, Acceleration Skid Control (ASC), ABS, Attention Assist, Electronic Stability Program (ESP®), Brake Assist (BAS), Active Parking Assist, sistem monitoring terhadap tekanan udara ban, dan perlindungan bagian bawah body.

Rentang harga
Ex-showroom price:Rp 769 Juta (Off the Road)
Mesin
Instalasi:4-silinder, 1.991 cc, bensin

Tenaga:211 hp @ 5.500 rpm

Torsi:350 Nm @ 1.200 - 4.000 rpm
Transmisi
Tipe:otomatis 7-speed
Dimensi
Sumbu roda:2.840 mm

Volume bagasi:1.480 mm
Performa(kpj)
0-100:6,8 detik (klaim)

Mercedes-Benz CLA 45 AMG 4MATIC

Mercedes-Benz CLA 45 AMG 4MATIC
Sedan kompak paling bertenaga, patut ditunggu pembenahannya.

Inilah dia, coupe kompak empat-pintu paling bertenaga racikan Affalterbach, Jerman. Mercedes-Benz CLA 45 AMG 4MATIC menjadi jawaban AMG dalam menghadirkan solusi bagi hampir semua kebutuhan pengemudi mobil di seluruh dunia; sedan tampan berpenampilan coupe, berukuran kompak, bertenaga buas, namun tetap efisien dan, diklaim Mercedes, menyandang status sebagai mobil produksi paling aerodinamis di dunia.
Predikat yang disebutkan terakhir, menjadi hal yang cukup mencengangkan, karena dengan nilai koefisien drag hanya 0,23, CLA-Class jauh lebih “licin” menembus angin dibandingkan Tesla Model S (0,24), Toyota Prius (0,25), hingga Nissan Leaf sekalipun (0,28). Bentuknya yang melandai ala coupe ditambah dengan desain khusus pada bagian kolong mobil membuatnya berhasil membawa status tersebut.
Untuk versi AMG-nya ini, tentu sektor aerodinamika jempolan tersebut akan membantu saat pengemudi memacu kencang mesin yang juga dinobatkan predikat superlatif lainnya, yaitu mesin 4-silinder versi produksi massal terkuat di dunia.
Sebelum berlanjut mengomentari mesinnya tersebut, Anda harus mengetahui fakta bahwa ketika kami menguji CLA 45 AMG ini, Mercedes-AMG baru saja menghadirkan model revisi dari versi hatchback A 45 AMG, yang mendapatkan peningkatan tenaga mesin sekaligus ubahan konfigurasi transmisinya. Kemungkinan besar perubahan tersebut akan berpindah pula kepada model CLA 45 dan GLA 45. Walhasil, mengendarai “versi lamanya” ini menjadi bukti bahwa perubahan di kedua sektor tersebut memang menjadi cukup krusial

Mercedes-Benz CLA 45 AMG 4MATIC
Mesin 4-silinder twin-scroll turbo 2,0 liter menghasilkan tenaga masif 360 hp dan torsi maksimum 450 Nm. Bahkan sebelum versi penyempurnaannya hadir, figur tenaga dan torsinya tersebut sudah jauh meninggalkan kedua rival terdekatnya, Audi S3 Saloon 2,0 L TFSI 4-Silinder (290 hp/380 Nm) dan BMW M235i Coupe dengan mesin berkapasitas lebih besar 3,0 L 6-Silinder turbo sekalipun (326 hp/450 Nm). Mesin ini menjadi esensi utama mengapa seseorang membeli CLA 45 AMG. Padatnya ruang mesin menjadi tanda betapa besar “otot” yang disembunyikan sedan berparas cantik dan seksi ini.
Sayangnya tenaga buas tersebut berkomunikasi harmonis dengan transmisi kopling ganda AMG Speedshift 7-Speed. Deru, dengusan, dan suara mesin berpadu indah dengan ledakan dan overrun-crackles dari Sport Exhaust ketika mode berkendara berpindah dari Controlled Efficiency (C) ke Sport. Hal itulah yang menjadi adiktif paling memuaskan ketika memacu produk kreasi Affalterbach. Namun rentang rasio gigi 2, 3, dan 4 terlalu panjang, sehingga walaupun sudah melaju begitu kencang, Anda akan merasa CLA 45 kurang terasa gesit dan bersemangat. Andai rasionya lebih rapat dan respon transmisi dari paddle-shift bisa lebih responsif, sensasi ledakan suara perpindahan gigi akan jauh lebih sering terdengar, dan berkendara akan menjadi lebih menantang adrenalin.
Berpindah kepada pengendalian, harus diakui sistem kemudi elektronik dan sistem penggerak 4MATIC non-permanen (lebih sering berada pada mode front-wheel drive demi efisiensi bahan bakar, dan baru mendistribusikan tenaga 50:50 ke roda depan dan belakang ketika sistem mendeteksi slip) kurang memicu kesenangan berkendara. Jangan salah terka, sistem ini masih membuat mobil berpindah laju secara tajam dan ketika 4MATIC bekerja, traksinya sangat jempolan. Kekurangannya, kemudi elektrik kurang terasa natural dan terasa terlalu ringan di semua keadaan, dan mode berkendara Sport sekalipun tak membantu banyak dalam menghadirkan rasa komunikatif terhadap kinerja roda depannya.
Yang mengherankan, seharusnya lapisan Alcantara di bagian genggaman lingkar kemudi AMG Performance memberikan grip terhadap genggaman tangan. Namun unit mobil yang kami gunakan, dengan odometer masih di bawah 500 km sekalipun, lapisannya sudah terkikis banyak, menjadikannya sedikit licin ketika digenggam.

Mercedes-Benz CLA 45 AMG 4MATIC
Ajak CLA 45 AMG sebagai mobil sehari-hari, dan Anda akan menyadari betapa hebatnya kapabilitas mobil ini. Tentu, CLA masih memiliki kekurangan terbesar pada interiornya yang meredupkan gairah karena terlihat begitu membosankan dan teknologinya infotainment-nya begitu tertinggal dibandingkan iDrive BMW. Bahkan kami tak melihat sekalipun trim serat karbon pada CLA 45 AMG, yang belakangan sangat erat kaitannya dengan mobil berperforma tinggi.
Beruntung, sebagai pengendara, instrumen meter-cluster khas AMG menjadi penyegar mata bagi para pecinta berkendara. Penempatan lever transmisi kembali di konsol tengah khas AMG juga menjadi ciri spesial semua produk keluaran Affalterbach (kecuali C 63 terbaru yang masih menempatkan transmisi di stalk kanan).
Pindahkan lever tersebut di posisi D, mobil ini melaju dengan santai dan cukup efisien dengan mode berkendara berpindah-pindah dari C, S, dan Manual sekalipun. Dalam rute kombinasi lebih dari 250 km, konsumsi BBM terbaiknya mampu mencapai 7,24 kpl. Bodinya yang kompak membuat manuver di jalanan kota menjadi mudah, dan kamera mundur pun sudah tersedia sebagai standar demi mempermudah manuver parkir. Bantingan suspensi belakang menjadi jauh lebih keras dibandingkan CLA-Class lainnya, namun pergerakannya menjadi lebih terprediksi dan membuat mobil terasa lebih rigid dan tegas.
Ditambah dengan kepraktisan hadirnya pintu belakang frameless yang keren serta ruang bagasi lapang, sebenarnya CLA 45 AMG bisa dengan mudah untuk disukai. Perbaiki sektor transmisi dan desain kabinnya, maka mobil ini akan menjadi jauh lebih berharga dibandingkan apapun yang ada.

Rentang harga
Ex-showroom price:Rp 1,149 miliar (OFR)
Mesin
Instalasi:4-silinder 2,0 liter twin-scroll turbo, bensin

Tenaga:360 hp @ 6.000 rpm

Torsi:450 Nm @ 2.250-5.000 rpm
Transmisi
Tipe:AMG Speedshift DCT 7-Speed
Chassis
Ban:Dunlop Sportmaxx 235/35 ZR19
Performa(kpj)
0-100:4,6 detik (klaim)
Konsumsi bahan bakar
Kota:7,24 kpl (kombinasi, pengujian)