Tampilkan postingan dengan label SUV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SUV. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Februari 2016

3 Mobil BMW Tercepat Sepanjang Waktu

BMW memiliki produk-produk berkualitas dengan desain yang modis.

Munich - Siapa yang tak mengenal BMW. Selama puluhan tahun, pabrikan yang bermarkas di Munich, Jerman ini telah menciptakan berbagai kendaraan dengan performa yang luar biasa. 

Pabrikan ini menjadi salah satu merek terkemuka dunia yang memiliki produk-produk berkualitas dengan desain yang modis. Hal ini pula yang membentuk reputasi BMW sebagai pabrikan otomotif papan atas.

Lantas, seperti apa mobil-mobil tercepat buatan BMW? Berikut ini uraian singkatnya seperti dilansir dariCarplusautoblog, Rabu (1/4/2015):

1. BMW X5 M

X5 M merupakan mobil berjenis Sport Utility Vehicle (SUV) tercepat dan paling bertenaga yang pernah diciptakan BMW. SUV ini didukung mesin V8 twin turboyang sanggup menyemburkan tenaga hingga 555 horse power (hp).

Berbekal mesin buas tersebut, X5 M sanggup melesat hingga kecepatan 100 km/jam dalam waktu hanya 4,5 detik. Kemampuan yang dimiliki X5 M itu menjadikannya sebagai salah satucrossover terbaik dunia.


BMW memiliki produk-produk berkualitas dengan desain yang modis.
BMW memiliki produk-produk berkualitas dengan desain yang modis.
2. BMW M5 Competition Package

Di daftar mobil tercepat BMW selanjutnya diisi oleh M5. Mobil ini sangat populer beberapa tahun lalu.

Begitu digandrunginya M5 membuat BMW pun merilis varian Competition Packageuntuk mendongkrak performa keseluruhan sedan sport tersebut.

BMW membekali M5 dengan dapur pacu V8 twin turbo yang sanggup menghasilkan tenaga puncak sebesar 567 hp. Mesin monster tersebut sanggup membuat BMW M5 berakselerasi dari 0-100 km/jam dalam 4,1 detik.

Explore

Live Streaming Schedule (7)

Feb05

Finding Ghost

23:00
Feb05

Liputan6.com TV Streaming

23:53
Feb05

PATROLI MALAM TV STREAMING

01:00
Feb06
Lihat Lainnya
BMW memiliki produk-produk berkualitas dengan desain yang modis.
BMW memiliki produk-produk berkualitas dengan desain yang modis.
3. BMW M6 Coupe

Daftar mobil tercepat BMW dipuncaki oleh M6 Coupe. Mobil ini menggabungkan antara desain yang anggun dan performa yang menyalak.

BMW M6 dibekali mesin V8 berkapasitas 4,4 liter yang sanggup menyemburkan tenaga sebesar 560 hp. Coupe dua pintu ini sanggup melesat hingga kecepatan 100 km/jam hanya 4,1 detik dan mencapai kecepatan maksimal yang dibatasi pada 250 km/jam.

Di dalam kabinnya, BMW M6 menawarkan segudang kemewahan khas BMW. Keunggulan inilah yang membuat M6 saat ini mejadi legenda hidup pabrikan Munich tersebut hingga kini.

Kamis, 28 Januari 2016

All-New Ford Everest

All-New Ford Everest
Tawarkan kendali dinamis yang baik dan kemampuan off-road mumpuni.

Akhir bulan Juli 2015 lalu, PT Ford Motor Indonesia mengundang sejumlah media Indonesia untuk menjajal langsung performa dan ketangguhan All New Ford Everest di Chiang Rai, Thailand, sebelum resmi dipasarkan di Tanah Air. Sebelum memulai perjalanan, pihak Ford memberikan presentasi produk, serta tujuan pengujian yang akan kami lakukan. Pada etape pertama, kami akan mengajak All New Everest ini menuju Canary Natural Resort dengan jarak kurang-lebih 60 km.
Ford Everest 2.2L
Pada kesempatan pertama, kami mendapat kesempatan mencoba All New Everest bermesin 2,2 liter berpenggerak dua roda. Dari tampilan luar hampir tidak tampak perbedaan signifikan dengan varian lainnya, hanya terdapat badge dengan angka 2.2L sebagai pembeda.
Berbekal dimensi 4.882 x 1.862 x 1.837 mm, Everest baru tampil lebih gemuk dan tinggi dibanding pendahulunya, dengan desain yang mencirikan karakter SUV tangguh. Diperhatikan dengan seksama, desain Everest baru memang lebih modern dibanding generasi sebelumnya, dengan grille trapezoidal besar dan bagian depan serta kap mesin yang lebih tinggi dan lekukannya yang tampak kekar, menghasilkan aura lebih tangguh. Desain tersebut sedikit banyak menyerupai sang saudara, Ford New Ranger.
Masuk ke dalam, interiornya berkesan mewah, dan lapang. Ford menawarkan dua pilihan warna interior, warna gelap Basalt dan cerah Flaxen. Keduanya melengkapi kemewahan dan menunjukkan kualitas tinggi dari interior Everest baru. Duduk di bangku pengemudi terasa nyaman, pas, dan dengan visibilitas yang baik ke depan sehingga saya bisa mengetahui ujung depan mobil.

Tekan tombol Start dan mesin mobil menyala dengan halus. Saya langsung menyadari bahwa Everest baru ini menawarkan kesenyapan kabin yang cukup baik. Hal tersebut antara lain berkat penggunaan material kedap suara yang tersebar di penjuru interior serta teknologi Active Noise Cancellation yang menggunakan tiga mikrofon sensitivitas tinggi untuk menangkal bunyi mesin yang masuk ke dalam kabin.
DI kecepatan rendah, bobot kemudi terasa cukup berat. Namun, saat sudah berjalan hal ini justru mendukung pengendalian kemudi yang lebih mantap. Respon kemudi terasa cepat dan presisi, sehingga meningkatkan kepercayaan diri saat mengendarai SUV 7-penumpang bertubuh besar itu secara dinamis. Apalagi, All New Everest kini telah dibekali EPAS (Electric Power Assist Steering) dengan teknologi Pull-Drift Compensation yang menyesuaikan input dari pengemudi dan beradaptasi terhadap kondisi jalan yang berubah-ubah.
Lebih dari 20 mobil berkonvoi menuju Canary Natural Resort. Etape awal ini didominasi jalanan perkotaan, sehingga laju kendaraan kami cukup konstan. Setelah menempuh sekitar 34 km, rombongan berhenti sejenak di Doi Hang Subdistrict Municipality Office untuk rehat dan bertukar pengemudi dan bergantian dengan peserta lain.
Selepas dari Doi Hang Subdistrict Municipality Office, kami disajikan jalanan lokal perkampungan dengan kondisi berbukit, berkelok-kelok, ruas jalan yang tidak terlalu lebar, dan permukaan jalan tak ramah. Saat menemui tikungan yang cukup tajam, saya mencoba sedikit kemampuan Everest dengan tidak mengurangi kecepatan dan hasilnya membuat saya tersenyum karena melebihi ekspektasi saya.
Electronic Stability Control nya bekerja dengan sangat baik menjaga Everest tetap pada lajur yang saya inginkan, bahkan ketika memasuki tikungan dengan kecepatan yang cukup tinggi atau menikung terlalu cepat, Roll Stability Control dan Curve Control dengan sensor deteksi akan mencegah potensi terjadinya understeer ataupun oversteer dengan menerapkan pengereman sekaligus pengurangan limpahan torsi. Peredaman suspensinya juga terasa sangat mantap, cukup empuk sekaligus solid, terasa nyaman ketika melewati jalan tak ramah maupun jalan rusak berlubang

All-New Ford Everest
Ford Everest 3.2L
Setibanya di Canary Natural Resort kami langsung disuguhi medan off-road untuk mengetahui ketangguhan Everest sebenarnya sebagai sebuah SUV. Pada sesi ini kami menggunakan mobil Everest 3.2 L berpenggerak empat roda yang telah dilengkapi dengan Terrain Management System dengan pilihan mode Normal, Snow/Mud/Grass, Sand, dan Rock. Kesempatan pertama saya manfaatkan untuk duduk di kursi penumpang baris kedua selama menuju trek off-road. Menjadi penumpang pada Everest baru juga terasa nyaman, dengan posisi duduk lapang berkat kursi yang dapat disesuaikan.
Tantangan off-road pertama menyambut kami, yakni jalan menanjak dengan permukaan tanah basah dan licin yang diakibatkan hujan lebat yang mengguyur semalaman. Pada kondisi ini kami gunakan mode Mud/Snow/Grass untuk memprioritaskan penjagaan traksi pada permukaan licin. Dan ternyata, kondisi tersebut bukan masalah bagi Everest baru berpenggerak 4x4, kami dapat dengan mudah mencapai puncak tanpa hambatan apapun.
Tantangan berikutnya kami diharuskan menyeberangi sungai dangkal dengan permukaan dasar sungai terisi bebatuan kecil. Beruntung Everest baru memiliki kemampuan Water Wading hingga ketinggian 800 mm dan approach angle 29 derajat. Padankan dengan mengaktifkan mode Mud/Snow/Grass atau langsung menekan Electronic Locking Rear Differential untuk meningkatkan traksi dan mencegah terjadinya slip pada roda belakang. Tantangan tersebut pun dapat kami lalui dengan mudah berkat fitur-fitur dan teknologi pendukung off-road dari Everest baru 3.2L.
Pada sesi off-road, kami juga mencoba fitur Hill Descent Control dengan menuruni jalan yang memiliki permukaan semen. Fitur ini menerapkan pengereman otomatis untuk menjaga kecepatan saat melalui turunan curam tanpa harus menginjak pedal rem. Fitur ini dapat dikombinasikan dengan cruise control sehingga Anda dapat melalui turunan curam dengan kecepatan konstan sesuai dengan yang diinginkan.




DATA FAKTA
Mesin
Instalasi:Duratorq 2.2L. 4-silinder, TDCi, VGT dengan Intercooler/Duratorq 3.2L. 5-silinder

Tenaga:158 hp @ 3.200 rpm/197 hp @ 3.000 rpm

Torsi:385 Nm @ 1.600-2.500 rpm/470 Nm @ 1.700-2.500 rpm
Transmisi
Tipe:6-speed otomatis

Mercedes-Benz GLC

Mercedes-Benz GLC
Perubahan nomenclature pada Mercedes-Benz menghadirkan satu spesies baru, sebuah SUV berbasis C-Class. Kami mengujinya langsung di tiga negara Eropa.

First Drive Mercedes Benz GLC - Pujangga terkenal asal Inggris William Shakespeare pernah menulis, "What's in a name?" Apalah arti sebuah nama? Lalu ada pula yang menyebutkan, nama adalah kekuatan "jiwa" dari benda itu sendiri. Selain menjadi identitas sepanjang hidup, nama konon menyimpan kekuatan misterius. Di Indonesia,  sebuah ritual dilakukan jika seseorang mengubah atau mengganti namanya agar terhindar dari nasib buruk.
Namun apa yang dilakukan oleh Mercedes-Benz dengan mengganti seluruh nomenclature pada keluarga SUV mereka tak perlu ritual apapun. Hanya saja Mercedes-Benz tentu berharap akan ada kesuksesan dibalik penggantian nama tersebut. Setelah GLA-Class yang berbasis pada A-Class dan GLE-Class yang menggantikan ML-Class, kini yang terbaru adalah GLC-Class, SUV berbasis C-Class yang diharapkan dapat mengikuti kesuksesan sedan terlaris pabrikan Jerman ini. Sebenarnya GLC ini merupakan generasi terbaru dari GLK-Class, namun Mercedes-Benz mengganti namanya dengan GLC selain karena berbasis C-Class juga karena kini akan tersedia model setir kanan.
Memang pada generasi pertama GLK, pabrikan Stuttgart ini hanya menyediakan dengan pilihan setir kiri saja, sehingga mobil ini tak pernah ditemui di jalanan Indonesia. Kini, Mercedes mengakui pertumbuhan tren SUV yang kian tinggi di seluruh dunia membuat mereka tersadar dengan melahirkan GLC dengan setir kanan dan kiri. Autocar Indonesia pun diundang oleh Mercedes-Benz Indonesia (MBI) untuk menguji langsung SUV terbaru pabrikan Stuttgart ini. Saya mengujinya dengan menjelajah tiga kota di tiga negara Eropa yaitu Basel di Swiss, Ettenheim, Jerman hingga Strasbourg, Prancis.

Mercedes-Benz GLC
Paradigma Desain Baru
GLC-Class ini memang mengadopsi platform MRA (Modular Rear Architecture) yang sama dengan C-Class, namun berkat modifikasi yang dilakukan, GLC memiliki jarak sumbu roda lebih panjang 33 mm dari C-Class. Sementara jarak pijaknya juga lebih lebar 31 mm di depan dan 47 mm di belakang. Hal inilah yang membuat kabin GLC ini terasa jauh lebih lega dari saudara dekatnya ini.
Mercedes memang mengakui jika GLC merupakan jawaban untuk BMW X3 dan Audi Q5, sehingga secara dimensi hampir serupa dengan X3 dan Q5. Namun jika dibandingkan dengan pesaing beratnya, GLC ini masih lebih unggul sekitar 1 mm lebih panjang, 9 mm lebih lebar dan 21 mm lebih rendah dibanding X3, yaitu 4.656 x 1.890 x 1.639 mm.
Meskipun secara dimensi GLC ini juga lebih besar dari pendahulunya, Mercedes mengatakan jika GLC ini memiliki bobot yang 80 kg lebih ringan dari GLK. Hal ini didapat dari penggunaan campuran baja berkekuatan tinggi pada struktur bodi dengan alumunium pada sayap depan, bonnet dan atap.
Mercedes mengatakan generasi kedua dari GLK ini memiliki gabungan unsur ketangguhan G-Class dengan aura sporty milik C-Class. Bentuk dan lekuk tubuh dari GLC ini berbeda dari pendahulunya, GLK. Ia tak lagi berbentuk kotak dan kaku seperti GLK dan G-Class. GLC dipahat dengan banyak lekukan yang membuat tubuhnya lebih modern dan indah dipandang. GLC juga didukung tingkat aerodinamika yang baik dengan koefisien hambatan angin yang hanya 0,31 cd.
Tampilan depannya menyiratkan bahasa desain terkini dari Mercedes-Benz. Overhang yang pendek, ringkas dan tinggi dipadukan dengan grille palang ganda mengapit logo bintang Mercedes-Benz. Sekilas memang sama seperti C-Class terbaru, mulai dari bentuk grille, lampu depan termasuk bentuk DRL hingga bentuk bumper dan airdam. Hanya saja, pada GLC bentuk bumpernya bisa menyesuaikan dengan pilihan trim yang Anda pilih. Bergeser ke samping, baru terlihat jelas perbedaannya jika GLC adalah sebuah SUV dengan ground clearance sebesar 181 mm. Selain itu rumah kaca GLC nyaris menyerupai tampilan sebuah coupe. Tampilan belakangnya memiliki karakter SUV yang lebar dan berotot dengan pilihan bumper yang juga bervariasi sama seperti bagian depan.
Berubahnya paradigma desain Mercedes tak hanya untuk tampilan luar saja. GLC baru ini juga mendapat perubahan signifikan di bagian interior. Masuk ke dalam kabinnya, langsung terasa seperti masuk ke dalam kabin C-Class generasi terakhir. Tata letaknya sama persis dengan saudara dekatnya itu. Kunci utama dari desain interior ada pada dashboard dan konsol tengah yang membentuk rangkaian segaris yang mengalir mulai dari ventilasi udara tengah hingga ke armrest. Selain itu, touchpad inovatif khas Mercedes-Benz telah dikembangkan sehingga dapat menginput huruf atau angka dengan gerakan jari, layaknya layar sentuh pada smartphone. Sementara layar penampil media yang terintegrasi dengan touchpad diposisikan di atas konsol tengah.  
Kesan lapang dan lega menyambut saya saat masuk ke dalam kabinnya yang ditunjang dengan adanya panoramic roof. Sebagai sebuah SUV posisi duduk pada GLC lebih tinggi ketimbang saudaranya C-Class. Namun aura mewah dan elegan terpancar dari pemilihan material berkualitas premium, seperti jok berlapis kulit nappa dengan trim kayu serta lubang AC berlabur metallic. Semua ini tersaji demi menyuguhkan kenikmatan berkendara tanpa mengurangi keindahan estetika.


Mercedes-Benz GLC
Tiga Jantung Mekanis
Mercedes-Benz telah menyediakan tiga pilihan mesin untuk dicicipi oleh para jurnalis. Dua mesin diesel 4-silinder dengan kapasitas 2.1 liter turbo dan satu mesin bensin 4-silinder berkapasitas 2.0 liter turbo. GLC 220d memiliki tenaga sebesar 170 hp dengan torsi 400 Nm, kemudian GLC 250d dengan tenaga maksimal 204 hp dan torsi 500 Nm. Terakhir adalah mesin bensin GLC 250 yang sanggup melontarkan tenaga sebesar 211 hp dan torsi 350 Nm.
Semua varian ini ditawarkan dengan penggerak empat roda (AWD) permanen atau 4MATIC. Untuk menggerakkan keempat roda tersebut, pabrikan asal Stuttgart ini menyematkan transmisi otomatis terbaru, 9G-TRONIC. Transmisi 9-speed ini mereka klaim memiliki efisiensi bahan bakar yang amat baik.
Perjalanan menjelajah tiga negara dimulai dari Bandara EuroAirport di Basel, Swiss. Saya memilih untuk mencoba Mercedes-Benz GLC dengan varian bensin terlebih dahulu. Karena menurut pihak Mercedes-Benz Indonesia (MBI) kemungkinan besar yang akan masuk ke Tanah Air adalah GLC 250. Etape pertama berjarak sekitar 111 km menuju perkebunan anggur Winery Weber di kota Ettenheim, Jerman. Mayoritas kondisi rute yang dilalui merupakan jalan bebas hambatan, dengan beberapa bagian melewati jalan raya pedesaan dengan kontur pegunungan yang penuh tikungan serta tanjakan dan turunan.
Mesin 2.0 liter turbo bensin menyala tanpa menimbulkan suara yang berarti, mobil pun melaju tanpa hentakan berkat transmisi 9-speed terbaru yang menyuguhkan perpindahan gear sangat halus. Untuk berakselerasi, GLC 250 4MATIC yang menjadi unit tes saya terasa cukup responsif. Namun saya tak bisa menggunakan gaya mengemudi di jalanan Jakarta, karena di Eropa sangat ketat dengan banyak petunjuk mengenai batas kecepatan maksimum. Jadi di sini saya lebih banyak mengeksplorasi fitur dan teknologi yang dimiliki oleh GLC.
Merasakan menjadi penumpang di GLC juga sungguh menyenangkan. Anda akan mendapatkan perasaan yang nyaman dan tenang layaknya sebuah mobil premium. Dengan ruang kaki dan bahu serta kepala yang lega, menempuh perjalanan jauh pun tidak terasa melelahkan. Atap panoramic-nya mampu membuai penumpang belakang sehingga menimbulkan kesan yang semakin lapang. Bagasi belakang berkapasitas 550 liter yang bisa diperluas menjadi 1.600 liter jika baris kedua dilipat.

Mercedes-Benz GLC
Kecanggihan Teknologi ala Jerman
Perlu diketahui, GLC yang saya coba ini dilengkapi dengan berbagai teknologi canggih yang membantu pengemudi terutama dalam hal keselamatan berkendara. Mulai dari Air Body Control, ini adalah SUV pertama di segmen ini yang mengadopsi teknologi suspensi udara multi-chamber. Dikombinasikan dengan Adaptive Damping System Plus (ADS Plus) GLC menyuguhkan pengendaraan yang stabil dan kelincahan dengan tingkat kenyamanan yang optimal.
Suspensi udara Air Body Control ini menyuguhkan bekerja beriringan dengan mode pengendaraan Dynamic Select khas Mercedes. Sistem suspensi ini mengatur secara otomatis tingkat kekakuan dan fleksibilitas suspensi sesuai dengan mode berkendara yang Anda pilih. Dynamic Select pada GLC ini menawarkan lima mode berkendara, Eco, Comfort, Sport, Sport+ dan Individual. Hal yang sama juga berlaku bagi ADS Plus, di mana komputer akan memilih karakteristik peredaman terbaik secara otomatis sesuai dengan kontur permukaan jalan.
Saya merasakan sendiri saat berkendara dengan mode Comfort dan sedikit melakukan manuver cepat, karakteristik suspensi dan peredam seketika terkoreksi menjadi lebih kaku sehingga mobil tetap terasa stabil. Begitu juga saat menggunakan mode Sport dan mobil menghajar lubang, namun kali ini karakternya berubah terbalik karena suspensi udara dan peredam akan jauh lebih lembut pada ban yang menghajar lubang tersebut. Efeknya guncangan terasa sangat minim dan di dalam kabin tetap terasa nyaman. Menurut Mercedes, sistem ini bekerja dengan respon hanya sekitar 60 milidetik.
Karakter yang cukup membuat saya terkesan adalah mode Sport+, karena GLC ini memberikan sensasi seperti mengendarai mobil sport karena ketinggian mobil secara otomatis menjadi lebih rendah 15 mm dan ditambah dengan putaran mesin yang lebih tinggi sehingga respon akselerasi menjadi lebih menyenangkan. Terbukti saat melintasi Autobahn untuk menuju Strasbourg, Prancis saya sanggup memacu GLC hingga nyaris menyentuh angka 200 kpj di spidometer.     
Masih banyak kecanggihan teknologi yang dimiliki SUV medium ini. Yang paling menarik perhatian saya adalah sistem Distronic Plus. Awalnya saya mengira ini merupakan sistem cruise control yang sama seperti cruise control lain yang sudah berkali-kali saya jajal. Namun Distronic Plus ini jauh lebih canggih, menurut Rainer Tiefenbacher selaku Development GLC ini sama seperti teknologi Autonomous. Karena sistem ini ditambah dengan Steer Control dan Stop&Go Pilot sehingga tak hanya menjaga kecepatan mobil sesuai dengan keinginan pengemudi saja, namun juga bisa mengikuti kecepatan mobil yang ada di depannya bahkan dalam kondisi lalu lintas yang padat (stop-and-go).
Saya mencobanya sendiri saat berada di jalan tol, dan memang mobil ini secara otomatis mengurangi kecepatannya saat radar mendeteksi jarak kendaraan di depan dalam batas minimum, bahkan sampai pada saat mobil di depan dalam kondisi berhenti. Semua ini dilakukan secara otomatis oleh komputer tanpa ada intervensi dari saya selaku pengemudi. Canggih bukan? Aspek keselamatan standarnya juga didukung teknologi Collision Prevention Assist Plus, Crosswind Assist, Headlamp Assist dan Attention Assist. Lingkar kemudi GLC pun akan bergetar jika Anda berpindah jalur tanpa memberikan signal.

Mercedes-Benz GLC
Kemampuan Offroad
Puas menguji GLC 250 4MATIC ini pada jalanan mulus dan berliku, saatnya saya menguji kapabilitas off-road dari GLC di trek yang telah dipersiapkan di kawasan perkebunan anggur Winery Weber, Jerman, sepanjang 30 km. Meski mayoritas pembeli GLC saya rasa tak akan membawa SUV ini jauh ke dalam hutan atau ke daerah tanpa jalan aspal, namun Mercedes-Benz tetap menyediakan opsi Off-Road Engineering bagi para pemilik GLC. Untuk itu, Mercedes telah menyulap kawasan perkebunan anggur ini menjadi trek offroad dengan tingkat kesulitan yang cukup menantang dan membuat jantung saya berdetak lebih kencang.
Saya pun masuk ke dalam GLC 250 4MATIC yang telah dilengkapi dengan Offroad Engineering Package ditemani oleh satu orang instruktur dari Mercedes. Mode 'offroad' dipilih sehingga ketinggian mobil naik 50 mm dari standarnya. Oh ya, dalam paket offroad ini terdapat lima mode pengendaraan terpisah dari Dynamic Select, yaitu Slippery, Trailer, Off-road, Incline dan Rocking Assist. Selain itu juga mobil ini mendapat tambahan protektor di bagian bawah untuk melindungi dari medan berbatu. Serta Downhill Speed Regulation (DSR) yang mengatur kecepatan mobil saat turunan tajam, mirip fitur Hill Descent Control.
Tantangan pertama adalah tanjakan tajam di mana saat menanjak yang bisa terlihat hanyalah warna biru dari langit. Di sinilah fungsi kamera 360° yang menampilkan posisi mobil dari segala arah (bird-eye), sang instruktur hanya memberikan arahan untuk melihat kamera tersebut karena ternyata setelah tiba di puncak jalanan harus berbelok patah ke kanan. Dan dengan bantuan kamera ini rintangan tersebut dapat teratasi dengan mudah. Mercedes tidak memberikan low-gear pada paket offroad GLC ini sehingga untuk mendaki Anda harus terus menekan pedal gas secara agresif.
Tantangan berikutnya adalah turunan tajam tanpa menginjak pedal rem, percayakan saja pada DSR dan saya pun meluncur ke bawah dengan aman. Kemudian menuju ke rintangan berikutnya yang menunjukkan kemampuan offorad GLC tidak bisa dipandang sebelah mata. Di sini beberapa kali GLC dipaksa untuk berpijak dengan tiga roda bahkan hanya dua roda, untuk menunjukkan sistem 4ETS (electronic traction system) bekerja dengan baik.
Jika pedal rem dilepas dalam kondisi satu atau dua roda tidak mendapat traksi maka roda tersebut akan terus berputar, namun jika pedal gas diinjak maka roda akan berhenti dan torsi dari roda tersebut akan dialihkan secara otomatis kepada roda lain yang mendapat traksi. Hal ini menunjukkan jika GLC dapat lolos dari lubang berukuran masif tanpa kesulitan berarti. Mungkin di sini lebih baik saya biarkan gambar yang berbicara. Jelas dengan sudut approach dan departure mencapai 30,8° dan 24,8° ditambah dengan sudut breakover 19,7° dan sudut kemiringan hingga 35°, GLC ini masih sanggup untuk melawan Land Rover Discovery terbaru di medan tak ramah.
Saya tidak menyangka jika GLC akan menyuguhkan pengalaman sebaik ini, karena memang generasi GLK sebelumnya tak pernah ada di Indonesia. Namun semua ini saya rasakan dengan spesifikasi tertinggi dari GLC yang akan dipasarkan untuk Eropa. Bagaimana dengan GLC yang akan masuk ke Tanah Air? Sepertinya jika Mercedes tetap mempertahankan segala fitur dan teknologi yang sama dengan GLC yang saya tes ini maka konsekuensinya akan menjadi tanggungan konsumen dengan harga yang tak murah. Pihak MBI sendiri belum mau membocorkan spesifikasi GLC untuk Indonesia.
Kesuksesan Mercedes-Benz dengan penggantian nama dari seluruh line-up SUV mereka tampaknya akan berbuah manis, dimulai dari GLC yang sepertinya akan bisa mengikuti kesuksesan dari saudaranya C-Class. Mungkin tak semua pemilik GLC ini akan menguji mobil mereka dengan cara yang sama seperti ini, namun mengetahui kemampuan sesungguhnya dari GLC ini menghasilkan sebuah simbiosis yang sempurna, sesuai dengan karakteristik dari ketiga negara yang saya jelajahi. Mercedes-Benz GLC memiliki karakter efisien layaknya negara Swiss, sarat dengan teknologi canggih khas Jerman dan membuat Anda menikmati hidup dengan sukacita ala masyarakat Prancis.