Kamis, 28 Januari 2016

All-New Ford Everest

All-New Ford Everest
Tawarkan kendali dinamis yang baik dan kemampuan off-road mumpuni.

Akhir bulan Juli 2015 lalu, PT Ford Motor Indonesia mengundang sejumlah media Indonesia untuk menjajal langsung performa dan ketangguhan All New Ford Everest di Chiang Rai, Thailand, sebelum resmi dipasarkan di Tanah Air. Sebelum memulai perjalanan, pihak Ford memberikan presentasi produk, serta tujuan pengujian yang akan kami lakukan. Pada etape pertama, kami akan mengajak All New Everest ini menuju Canary Natural Resort dengan jarak kurang-lebih 60 km.
Ford Everest 2.2L
Pada kesempatan pertama, kami mendapat kesempatan mencoba All New Everest bermesin 2,2 liter berpenggerak dua roda. Dari tampilan luar hampir tidak tampak perbedaan signifikan dengan varian lainnya, hanya terdapat badge dengan angka 2.2L sebagai pembeda.
Berbekal dimensi 4.882 x 1.862 x 1.837 mm, Everest baru tampil lebih gemuk dan tinggi dibanding pendahulunya, dengan desain yang mencirikan karakter SUV tangguh. Diperhatikan dengan seksama, desain Everest baru memang lebih modern dibanding generasi sebelumnya, dengan grille trapezoidal besar dan bagian depan serta kap mesin yang lebih tinggi dan lekukannya yang tampak kekar, menghasilkan aura lebih tangguh. Desain tersebut sedikit banyak menyerupai sang saudara, Ford New Ranger.
Masuk ke dalam, interiornya berkesan mewah, dan lapang. Ford menawarkan dua pilihan warna interior, warna gelap Basalt dan cerah Flaxen. Keduanya melengkapi kemewahan dan menunjukkan kualitas tinggi dari interior Everest baru. Duduk di bangku pengemudi terasa nyaman, pas, dan dengan visibilitas yang baik ke depan sehingga saya bisa mengetahui ujung depan mobil.

Tekan tombol Start dan mesin mobil menyala dengan halus. Saya langsung menyadari bahwa Everest baru ini menawarkan kesenyapan kabin yang cukup baik. Hal tersebut antara lain berkat penggunaan material kedap suara yang tersebar di penjuru interior serta teknologi Active Noise Cancellation yang menggunakan tiga mikrofon sensitivitas tinggi untuk menangkal bunyi mesin yang masuk ke dalam kabin.
DI kecepatan rendah, bobot kemudi terasa cukup berat. Namun, saat sudah berjalan hal ini justru mendukung pengendalian kemudi yang lebih mantap. Respon kemudi terasa cepat dan presisi, sehingga meningkatkan kepercayaan diri saat mengendarai SUV 7-penumpang bertubuh besar itu secara dinamis. Apalagi, All New Everest kini telah dibekali EPAS (Electric Power Assist Steering) dengan teknologi Pull-Drift Compensation yang menyesuaikan input dari pengemudi dan beradaptasi terhadap kondisi jalan yang berubah-ubah.
Lebih dari 20 mobil berkonvoi menuju Canary Natural Resort. Etape awal ini didominasi jalanan perkotaan, sehingga laju kendaraan kami cukup konstan. Setelah menempuh sekitar 34 km, rombongan berhenti sejenak di Doi Hang Subdistrict Municipality Office untuk rehat dan bertukar pengemudi dan bergantian dengan peserta lain.
Selepas dari Doi Hang Subdistrict Municipality Office, kami disajikan jalanan lokal perkampungan dengan kondisi berbukit, berkelok-kelok, ruas jalan yang tidak terlalu lebar, dan permukaan jalan tak ramah. Saat menemui tikungan yang cukup tajam, saya mencoba sedikit kemampuan Everest dengan tidak mengurangi kecepatan dan hasilnya membuat saya tersenyum karena melebihi ekspektasi saya.
Electronic Stability Control nya bekerja dengan sangat baik menjaga Everest tetap pada lajur yang saya inginkan, bahkan ketika memasuki tikungan dengan kecepatan yang cukup tinggi atau menikung terlalu cepat, Roll Stability Control dan Curve Control dengan sensor deteksi akan mencegah potensi terjadinya understeer ataupun oversteer dengan menerapkan pengereman sekaligus pengurangan limpahan torsi. Peredaman suspensinya juga terasa sangat mantap, cukup empuk sekaligus solid, terasa nyaman ketika melewati jalan tak ramah maupun jalan rusak berlubang

All-New Ford Everest
Ford Everest 3.2L
Setibanya di Canary Natural Resort kami langsung disuguhi medan off-road untuk mengetahui ketangguhan Everest sebenarnya sebagai sebuah SUV. Pada sesi ini kami menggunakan mobil Everest 3.2 L berpenggerak empat roda yang telah dilengkapi dengan Terrain Management System dengan pilihan mode Normal, Snow/Mud/Grass, Sand, dan Rock. Kesempatan pertama saya manfaatkan untuk duduk di kursi penumpang baris kedua selama menuju trek off-road. Menjadi penumpang pada Everest baru juga terasa nyaman, dengan posisi duduk lapang berkat kursi yang dapat disesuaikan.
Tantangan off-road pertama menyambut kami, yakni jalan menanjak dengan permukaan tanah basah dan licin yang diakibatkan hujan lebat yang mengguyur semalaman. Pada kondisi ini kami gunakan mode Mud/Snow/Grass untuk memprioritaskan penjagaan traksi pada permukaan licin. Dan ternyata, kondisi tersebut bukan masalah bagi Everest baru berpenggerak 4x4, kami dapat dengan mudah mencapai puncak tanpa hambatan apapun.
Tantangan berikutnya kami diharuskan menyeberangi sungai dangkal dengan permukaan dasar sungai terisi bebatuan kecil. Beruntung Everest baru memiliki kemampuan Water Wading hingga ketinggian 800 mm dan approach angle 29 derajat. Padankan dengan mengaktifkan mode Mud/Snow/Grass atau langsung menekan Electronic Locking Rear Differential untuk meningkatkan traksi dan mencegah terjadinya slip pada roda belakang. Tantangan tersebut pun dapat kami lalui dengan mudah berkat fitur-fitur dan teknologi pendukung off-road dari Everest baru 3.2L.
Pada sesi off-road, kami juga mencoba fitur Hill Descent Control dengan menuruni jalan yang memiliki permukaan semen. Fitur ini menerapkan pengereman otomatis untuk menjaga kecepatan saat melalui turunan curam tanpa harus menginjak pedal rem. Fitur ini dapat dikombinasikan dengan cruise control sehingga Anda dapat melalui turunan curam dengan kecepatan konstan sesuai dengan yang diinginkan.




DATA FAKTA
Mesin
Instalasi:Duratorq 2.2L. 4-silinder, TDCi, VGT dengan Intercooler/Duratorq 3.2L. 5-silinder

Tenaga:158 hp @ 3.200 rpm/197 hp @ 3.000 rpm

Torsi:385 Nm @ 1.600-2.500 rpm/470 Nm @ 1.700-2.500 rpm
Transmisi
Tipe:6-speed otomatis

Mercedes-Benz GLC

Mercedes-Benz GLC
Perubahan nomenclature pada Mercedes-Benz menghadirkan satu spesies baru, sebuah SUV berbasis C-Class. Kami mengujinya langsung di tiga negara Eropa.

First Drive Mercedes Benz GLC - Pujangga terkenal asal Inggris William Shakespeare pernah menulis, "What's in a name?" Apalah arti sebuah nama? Lalu ada pula yang menyebutkan, nama adalah kekuatan "jiwa" dari benda itu sendiri. Selain menjadi identitas sepanjang hidup, nama konon menyimpan kekuatan misterius. Di Indonesia,  sebuah ritual dilakukan jika seseorang mengubah atau mengganti namanya agar terhindar dari nasib buruk.
Namun apa yang dilakukan oleh Mercedes-Benz dengan mengganti seluruh nomenclature pada keluarga SUV mereka tak perlu ritual apapun. Hanya saja Mercedes-Benz tentu berharap akan ada kesuksesan dibalik penggantian nama tersebut. Setelah GLA-Class yang berbasis pada A-Class dan GLE-Class yang menggantikan ML-Class, kini yang terbaru adalah GLC-Class, SUV berbasis C-Class yang diharapkan dapat mengikuti kesuksesan sedan terlaris pabrikan Jerman ini. Sebenarnya GLC ini merupakan generasi terbaru dari GLK-Class, namun Mercedes-Benz mengganti namanya dengan GLC selain karena berbasis C-Class juga karena kini akan tersedia model setir kanan.
Memang pada generasi pertama GLK, pabrikan Stuttgart ini hanya menyediakan dengan pilihan setir kiri saja, sehingga mobil ini tak pernah ditemui di jalanan Indonesia. Kini, Mercedes mengakui pertumbuhan tren SUV yang kian tinggi di seluruh dunia membuat mereka tersadar dengan melahirkan GLC dengan setir kanan dan kiri. Autocar Indonesia pun diundang oleh Mercedes-Benz Indonesia (MBI) untuk menguji langsung SUV terbaru pabrikan Stuttgart ini. Saya mengujinya dengan menjelajah tiga kota di tiga negara Eropa yaitu Basel di Swiss, Ettenheim, Jerman hingga Strasbourg, Prancis.

Mercedes-Benz GLC
Paradigma Desain Baru
GLC-Class ini memang mengadopsi platform MRA (Modular Rear Architecture) yang sama dengan C-Class, namun berkat modifikasi yang dilakukan, GLC memiliki jarak sumbu roda lebih panjang 33 mm dari C-Class. Sementara jarak pijaknya juga lebih lebar 31 mm di depan dan 47 mm di belakang. Hal inilah yang membuat kabin GLC ini terasa jauh lebih lega dari saudara dekatnya ini.
Mercedes memang mengakui jika GLC merupakan jawaban untuk BMW X3 dan Audi Q5, sehingga secara dimensi hampir serupa dengan X3 dan Q5. Namun jika dibandingkan dengan pesaing beratnya, GLC ini masih lebih unggul sekitar 1 mm lebih panjang, 9 mm lebih lebar dan 21 mm lebih rendah dibanding X3, yaitu 4.656 x 1.890 x 1.639 mm.
Meskipun secara dimensi GLC ini juga lebih besar dari pendahulunya, Mercedes mengatakan jika GLC ini memiliki bobot yang 80 kg lebih ringan dari GLK. Hal ini didapat dari penggunaan campuran baja berkekuatan tinggi pada struktur bodi dengan alumunium pada sayap depan, bonnet dan atap.
Mercedes mengatakan generasi kedua dari GLK ini memiliki gabungan unsur ketangguhan G-Class dengan aura sporty milik C-Class. Bentuk dan lekuk tubuh dari GLC ini berbeda dari pendahulunya, GLK. Ia tak lagi berbentuk kotak dan kaku seperti GLK dan G-Class. GLC dipahat dengan banyak lekukan yang membuat tubuhnya lebih modern dan indah dipandang. GLC juga didukung tingkat aerodinamika yang baik dengan koefisien hambatan angin yang hanya 0,31 cd.
Tampilan depannya menyiratkan bahasa desain terkini dari Mercedes-Benz. Overhang yang pendek, ringkas dan tinggi dipadukan dengan grille palang ganda mengapit logo bintang Mercedes-Benz. Sekilas memang sama seperti C-Class terbaru, mulai dari bentuk grille, lampu depan termasuk bentuk DRL hingga bentuk bumper dan airdam. Hanya saja, pada GLC bentuk bumpernya bisa menyesuaikan dengan pilihan trim yang Anda pilih. Bergeser ke samping, baru terlihat jelas perbedaannya jika GLC adalah sebuah SUV dengan ground clearance sebesar 181 mm. Selain itu rumah kaca GLC nyaris menyerupai tampilan sebuah coupe. Tampilan belakangnya memiliki karakter SUV yang lebar dan berotot dengan pilihan bumper yang juga bervariasi sama seperti bagian depan.
Berubahnya paradigma desain Mercedes tak hanya untuk tampilan luar saja. GLC baru ini juga mendapat perubahan signifikan di bagian interior. Masuk ke dalam kabinnya, langsung terasa seperti masuk ke dalam kabin C-Class generasi terakhir. Tata letaknya sama persis dengan saudara dekatnya itu. Kunci utama dari desain interior ada pada dashboard dan konsol tengah yang membentuk rangkaian segaris yang mengalir mulai dari ventilasi udara tengah hingga ke armrest. Selain itu, touchpad inovatif khas Mercedes-Benz telah dikembangkan sehingga dapat menginput huruf atau angka dengan gerakan jari, layaknya layar sentuh pada smartphone. Sementara layar penampil media yang terintegrasi dengan touchpad diposisikan di atas konsol tengah.  
Kesan lapang dan lega menyambut saya saat masuk ke dalam kabinnya yang ditunjang dengan adanya panoramic roof. Sebagai sebuah SUV posisi duduk pada GLC lebih tinggi ketimbang saudaranya C-Class. Namun aura mewah dan elegan terpancar dari pemilihan material berkualitas premium, seperti jok berlapis kulit nappa dengan trim kayu serta lubang AC berlabur metallic. Semua ini tersaji demi menyuguhkan kenikmatan berkendara tanpa mengurangi keindahan estetika.


Mercedes-Benz GLC
Tiga Jantung Mekanis
Mercedes-Benz telah menyediakan tiga pilihan mesin untuk dicicipi oleh para jurnalis. Dua mesin diesel 4-silinder dengan kapasitas 2.1 liter turbo dan satu mesin bensin 4-silinder berkapasitas 2.0 liter turbo. GLC 220d memiliki tenaga sebesar 170 hp dengan torsi 400 Nm, kemudian GLC 250d dengan tenaga maksimal 204 hp dan torsi 500 Nm. Terakhir adalah mesin bensin GLC 250 yang sanggup melontarkan tenaga sebesar 211 hp dan torsi 350 Nm.
Semua varian ini ditawarkan dengan penggerak empat roda (AWD) permanen atau 4MATIC. Untuk menggerakkan keempat roda tersebut, pabrikan asal Stuttgart ini menyematkan transmisi otomatis terbaru, 9G-TRONIC. Transmisi 9-speed ini mereka klaim memiliki efisiensi bahan bakar yang amat baik.
Perjalanan menjelajah tiga negara dimulai dari Bandara EuroAirport di Basel, Swiss. Saya memilih untuk mencoba Mercedes-Benz GLC dengan varian bensin terlebih dahulu. Karena menurut pihak Mercedes-Benz Indonesia (MBI) kemungkinan besar yang akan masuk ke Tanah Air adalah GLC 250. Etape pertama berjarak sekitar 111 km menuju perkebunan anggur Winery Weber di kota Ettenheim, Jerman. Mayoritas kondisi rute yang dilalui merupakan jalan bebas hambatan, dengan beberapa bagian melewati jalan raya pedesaan dengan kontur pegunungan yang penuh tikungan serta tanjakan dan turunan.
Mesin 2.0 liter turbo bensin menyala tanpa menimbulkan suara yang berarti, mobil pun melaju tanpa hentakan berkat transmisi 9-speed terbaru yang menyuguhkan perpindahan gear sangat halus. Untuk berakselerasi, GLC 250 4MATIC yang menjadi unit tes saya terasa cukup responsif. Namun saya tak bisa menggunakan gaya mengemudi di jalanan Jakarta, karena di Eropa sangat ketat dengan banyak petunjuk mengenai batas kecepatan maksimum. Jadi di sini saya lebih banyak mengeksplorasi fitur dan teknologi yang dimiliki oleh GLC.
Merasakan menjadi penumpang di GLC juga sungguh menyenangkan. Anda akan mendapatkan perasaan yang nyaman dan tenang layaknya sebuah mobil premium. Dengan ruang kaki dan bahu serta kepala yang lega, menempuh perjalanan jauh pun tidak terasa melelahkan. Atap panoramic-nya mampu membuai penumpang belakang sehingga menimbulkan kesan yang semakin lapang. Bagasi belakang berkapasitas 550 liter yang bisa diperluas menjadi 1.600 liter jika baris kedua dilipat.

Mercedes-Benz GLC
Kecanggihan Teknologi ala Jerman
Perlu diketahui, GLC yang saya coba ini dilengkapi dengan berbagai teknologi canggih yang membantu pengemudi terutama dalam hal keselamatan berkendara. Mulai dari Air Body Control, ini adalah SUV pertama di segmen ini yang mengadopsi teknologi suspensi udara multi-chamber. Dikombinasikan dengan Adaptive Damping System Plus (ADS Plus) GLC menyuguhkan pengendaraan yang stabil dan kelincahan dengan tingkat kenyamanan yang optimal.
Suspensi udara Air Body Control ini menyuguhkan bekerja beriringan dengan mode pengendaraan Dynamic Select khas Mercedes. Sistem suspensi ini mengatur secara otomatis tingkat kekakuan dan fleksibilitas suspensi sesuai dengan mode berkendara yang Anda pilih. Dynamic Select pada GLC ini menawarkan lima mode berkendara, Eco, Comfort, Sport, Sport+ dan Individual. Hal yang sama juga berlaku bagi ADS Plus, di mana komputer akan memilih karakteristik peredaman terbaik secara otomatis sesuai dengan kontur permukaan jalan.
Saya merasakan sendiri saat berkendara dengan mode Comfort dan sedikit melakukan manuver cepat, karakteristik suspensi dan peredam seketika terkoreksi menjadi lebih kaku sehingga mobil tetap terasa stabil. Begitu juga saat menggunakan mode Sport dan mobil menghajar lubang, namun kali ini karakternya berubah terbalik karena suspensi udara dan peredam akan jauh lebih lembut pada ban yang menghajar lubang tersebut. Efeknya guncangan terasa sangat minim dan di dalam kabin tetap terasa nyaman. Menurut Mercedes, sistem ini bekerja dengan respon hanya sekitar 60 milidetik.
Karakter yang cukup membuat saya terkesan adalah mode Sport+, karena GLC ini memberikan sensasi seperti mengendarai mobil sport karena ketinggian mobil secara otomatis menjadi lebih rendah 15 mm dan ditambah dengan putaran mesin yang lebih tinggi sehingga respon akselerasi menjadi lebih menyenangkan. Terbukti saat melintasi Autobahn untuk menuju Strasbourg, Prancis saya sanggup memacu GLC hingga nyaris menyentuh angka 200 kpj di spidometer.     
Masih banyak kecanggihan teknologi yang dimiliki SUV medium ini. Yang paling menarik perhatian saya adalah sistem Distronic Plus. Awalnya saya mengira ini merupakan sistem cruise control yang sama seperti cruise control lain yang sudah berkali-kali saya jajal. Namun Distronic Plus ini jauh lebih canggih, menurut Rainer Tiefenbacher selaku Development GLC ini sama seperti teknologi Autonomous. Karena sistem ini ditambah dengan Steer Control dan Stop&Go Pilot sehingga tak hanya menjaga kecepatan mobil sesuai dengan keinginan pengemudi saja, namun juga bisa mengikuti kecepatan mobil yang ada di depannya bahkan dalam kondisi lalu lintas yang padat (stop-and-go).
Saya mencobanya sendiri saat berada di jalan tol, dan memang mobil ini secara otomatis mengurangi kecepatannya saat radar mendeteksi jarak kendaraan di depan dalam batas minimum, bahkan sampai pada saat mobil di depan dalam kondisi berhenti. Semua ini dilakukan secara otomatis oleh komputer tanpa ada intervensi dari saya selaku pengemudi. Canggih bukan? Aspek keselamatan standarnya juga didukung teknologi Collision Prevention Assist Plus, Crosswind Assist, Headlamp Assist dan Attention Assist. Lingkar kemudi GLC pun akan bergetar jika Anda berpindah jalur tanpa memberikan signal.

Mercedes-Benz GLC
Kemampuan Offroad
Puas menguji GLC 250 4MATIC ini pada jalanan mulus dan berliku, saatnya saya menguji kapabilitas off-road dari GLC di trek yang telah dipersiapkan di kawasan perkebunan anggur Winery Weber, Jerman, sepanjang 30 km. Meski mayoritas pembeli GLC saya rasa tak akan membawa SUV ini jauh ke dalam hutan atau ke daerah tanpa jalan aspal, namun Mercedes-Benz tetap menyediakan opsi Off-Road Engineering bagi para pemilik GLC. Untuk itu, Mercedes telah menyulap kawasan perkebunan anggur ini menjadi trek offroad dengan tingkat kesulitan yang cukup menantang dan membuat jantung saya berdetak lebih kencang.
Saya pun masuk ke dalam GLC 250 4MATIC yang telah dilengkapi dengan Offroad Engineering Package ditemani oleh satu orang instruktur dari Mercedes. Mode 'offroad' dipilih sehingga ketinggian mobil naik 50 mm dari standarnya. Oh ya, dalam paket offroad ini terdapat lima mode pengendaraan terpisah dari Dynamic Select, yaitu Slippery, Trailer, Off-road, Incline dan Rocking Assist. Selain itu juga mobil ini mendapat tambahan protektor di bagian bawah untuk melindungi dari medan berbatu. Serta Downhill Speed Regulation (DSR) yang mengatur kecepatan mobil saat turunan tajam, mirip fitur Hill Descent Control.
Tantangan pertama adalah tanjakan tajam di mana saat menanjak yang bisa terlihat hanyalah warna biru dari langit. Di sinilah fungsi kamera 360° yang menampilkan posisi mobil dari segala arah (bird-eye), sang instruktur hanya memberikan arahan untuk melihat kamera tersebut karena ternyata setelah tiba di puncak jalanan harus berbelok patah ke kanan. Dan dengan bantuan kamera ini rintangan tersebut dapat teratasi dengan mudah. Mercedes tidak memberikan low-gear pada paket offroad GLC ini sehingga untuk mendaki Anda harus terus menekan pedal gas secara agresif.
Tantangan berikutnya adalah turunan tajam tanpa menginjak pedal rem, percayakan saja pada DSR dan saya pun meluncur ke bawah dengan aman. Kemudian menuju ke rintangan berikutnya yang menunjukkan kemampuan offorad GLC tidak bisa dipandang sebelah mata. Di sini beberapa kali GLC dipaksa untuk berpijak dengan tiga roda bahkan hanya dua roda, untuk menunjukkan sistem 4ETS (electronic traction system) bekerja dengan baik.
Jika pedal rem dilepas dalam kondisi satu atau dua roda tidak mendapat traksi maka roda tersebut akan terus berputar, namun jika pedal gas diinjak maka roda akan berhenti dan torsi dari roda tersebut akan dialihkan secara otomatis kepada roda lain yang mendapat traksi. Hal ini menunjukkan jika GLC dapat lolos dari lubang berukuran masif tanpa kesulitan berarti. Mungkin di sini lebih baik saya biarkan gambar yang berbicara. Jelas dengan sudut approach dan departure mencapai 30,8° dan 24,8° ditambah dengan sudut breakover 19,7° dan sudut kemiringan hingga 35°, GLC ini masih sanggup untuk melawan Land Rover Discovery terbaru di medan tak ramah.
Saya tidak menyangka jika GLC akan menyuguhkan pengalaman sebaik ini, karena memang generasi GLK sebelumnya tak pernah ada di Indonesia. Namun semua ini saya rasakan dengan spesifikasi tertinggi dari GLC yang akan dipasarkan untuk Eropa. Bagaimana dengan GLC yang akan masuk ke Tanah Air? Sepertinya jika Mercedes tetap mempertahankan segala fitur dan teknologi yang sama dengan GLC yang saya tes ini maka konsekuensinya akan menjadi tanggungan konsumen dengan harga yang tak murah. Pihak MBI sendiri belum mau membocorkan spesifikasi GLC untuk Indonesia.
Kesuksesan Mercedes-Benz dengan penggantian nama dari seluruh line-up SUV mereka tampaknya akan berbuah manis, dimulai dari GLC yang sepertinya akan bisa mengikuti kesuksesan dari saudaranya C-Class. Mungkin tak semua pemilik GLC ini akan menguji mobil mereka dengan cara yang sama seperti ini, namun mengetahui kemampuan sesungguhnya dari GLC ini menghasilkan sebuah simbiosis yang sempurna, sesuai dengan karakteristik dari ketiga negara yang saya jelajahi. Mercedes-Benz GLC memiliki karakter efisien layaknya negara Swiss, sarat dengan teknologi canggih khas Jerman dan membuat Anda menikmati hidup dengan sukacita ala masyarakat Prancis.


MINI Cooper S 5-door

MINI Cooper S 5-door



Kepraktisan dan gaya khas MINI Cooper 5-door terinjeksi tenaga mumpuni.

First Drive Mini Cooper S 5-door - Inilah model terkencang MINI Cooper 5-door saat ini. BMW Group global masih belum menentukan apakah varian John Cooper Works (JCW) akan dibuat untuk model lima-pintu, sehingga Cooper S 5-door adalah pilihan teratas dan terkencang selain model Cooper 5-door bermesin 1,5 liter 3-silinder turbo.
Perubahan tampilan yang mencolok dibandingkan varian 3-door tentu saja terletak pada penambahan akses di baris keduanya. Penambahan ini membuat panjang Cooper untuk pertama kalinya menembus angka 4 meter, tepatnya 4.005mm untuk model Cooper S 5-door, atau 155mm lebih panjang dari Cooper S 3-door. Meskipun mendapatkan tambahan jarak sumbu roda sepanjang 72mm menjadi total 2.567mm, tampilan proporsinya masih khas. Dan di bagian dalamnya, penambahan jarak sumbu roda ini memberikan tambahan ruang kaki sebesar 37mm. Kapasitas bagasi normalnya juga bertambah 67 liter dari varian 3-door menjadi 278 liter, hingga 941 liter ketika kursi belakangnya terlipat dalam konfigurasi 60:40.
Satu-satunya pembeda Cooper S 5-door adalah pada desain velg-nya. Velg berpalang 10 tersebut khusus ditujukan untuk dihadirkan pada model ini saja. Warna biru tersebut juga sangat asosiatif dengan mobil ini, karena warna itulah yang digunakan oleh MINI ketika pertama kali memperkenalkan Cooper S 5-door. Ketika berada di dalamnya, segala tampilan funky dengan teknologi nan canggih masih menyapa pengemudi dan penumpangnya

DATA FAKTA
Rentang harga
Ex-showroom price:Rp 719 juta (OFR)
Mesin
Instalasi:Depan, melintang FWD

Tipe:2,0 liter 4-silinder TwinPower Turbo, bensin
Tenaga:192 hp @ 4.700-6.000 rpm
Torsi:280 Nm @ 1.250 rpm
Transmisi
Tipe:Otomatis 6-percepatan
Dimensi
Volume bagasi:1.240 kg
Chassis
Ban:Pirelli P Zero 205/45 R17
Performa(kpj)
0-100:6,8 detik

Mercedes-Benz E 250 Estate Ava

Mercedes-Benz E 250 Estate Ava
Hadirnya model Estate, keluarga E-Class jadi mobil premium terlengkap.

Sebelumnya PT Mercedes-benz Indonesia memang telah menjual model-model Mercedes-Benz estate, baik E-Class Estate ataupun C-Class Estate. Namun semuanya hanya berdasarkan pesanan personal dari para pecinta kendaraan keluarga ini. Dan pabrikan mobil premium asal Jerman ini memang memiliki begitu banyak varian model estate dengan beragam pilihan mesin bensin atau diesel, berpenggerak 2-roda belakang atau all-wheel drive, hingga varian tertinggi AMG-nya sekalipun.
Kehadiran resmi E-Class Estate di Indonesia dalam dua model varian; E 250 Estate Avantgarde seperti yang Anda lihat di halaman ini dan E 400 Estate AMG menjadi pembuka jalan bagi pasar mobil premium model estate ataupun station wagon di Indonesia. Untuk saat ini, BMW belum menghadirkan varian Touring dari model Seri-3 ataupun Seri-5 di tanah air, sementara Audi hanya menawarkan varian tertinggi Audi RS4 Avant saja. Dengan kata lain, dua model estate Mercedes di sini berlari tanpa rival untuk pasar otomotif Indonesia dengan harga jual terdaftar resmi.
Hebatnya lagi, dengan kehadiran model estate ini, PT MBI boleh berbangga hati bahwa model E-Class tipe facelift W212 dan S212 menjadi model mobil premium terlengkap di Indonesia. Model sedan eksekutif 4-pintu, coupe 2-pintu, convertible 2-pintu, serta estate sebagai model teranyar, dikombinasikan dengan beragam pilihan mesin turbo 4-silinder berbahan bakar bensin, turbodiesel 4-silinder, 3,0 liter V6 turbo bensin, hingga mesin “tergila” racikan Affalterbach 5,5 liter biturbo AMG V8 hadir semua untuk memuaskan hasrat pecinta mobil berlogo bintang-tiga ini.
Tempatkan secara sejajar model E-Class sedan dan estate, dan dari sisi depan siapapun tak akan menyangka keduanya adalah spesies yang berbeda. Sama-sama menghadirkan aura elegan dengan tampilan facelift terkininya sejak tahun 2013, sebelum digantikan model yang benar-benar baru di tahun 2016 mendatang. Namun lihat ke sisi samping dan belakangnya, barulah keduanya tampil dengan kekhasannya masing-masing.

Mercedes-Benz E 250 Estate Ava
Model Estate hanya 36mm lebih panjang dibandingkan model Saloon, namun tambahan ruang di bagian ekornya benar-benar menegaskan dimensi panjangnya yang hampir mencapai 5 meter. Mobil ini juga 33mm lebih tinggi daripada model E 250 Avantgarde Saloon. Utamanya dikarenakan bentuk atapnya yang tidak melandai dan ditarik lurus ke belakang, sebelum terpotong drastis pada buritannya.
Ah, buritannya. Ya, inilah daya tarik utama mobil ini. Mungkin bagi sebagian orang sudut kemiringan buritannya terlalu tegak, jauh dari kesan aerodinamis—dan sedikit kurang cantik, sebenarnya. Jika ditambah kemiringannya, tanpa harus terlalu landai seperti konsep shooting-brake, kami percaya E-Class Estate akan tampil lebih menggoda.
Toh bentuk ini justru menghadirkan ruang luar biasa lapang untuk bagian kompartemen belakangnya. Dibandingkan dengan model Saloon yang hanya terbatas pada volume bagasi 540 liter, E-Class Estate jauh lebih superior berkat kapasitas 695 liter, dan masih bisa ditingkatkan lebih mencengangkan lagi, menjadi 1.950 liter ketika jok dilipat. Ingat, kapasitas tersebut masih bisa Anda akses dengan bibir bumper yang rendah khas sedan, tidak setinggi MPV ataupun SUV. Kemudahan juga hadir berkat buka tutup bagasinya yang bisa dilakukan secara elektrik, sehingga jauh dari kata merepotkan.
Mercedes-Benz sebenarnya memberikan fitur “folding bench seat” pada ruang belakang tersebut, namun kami tak terlalu menyukainya. Jok ini terlipat secara pintar ke bagian bawah kompartemen—karena tak memiliki ban cadangan berkat teknologi run-flat tyre—namun ada dua hal yang cukup mengganggu pikiran kami: 1) jok ini luar biasa kecil, dan yang paling aneh 2) menghadap ke arah belakang. Positifnya, jok ini berguna ketika Anda dan keluarga sedang bepergian piknik di taman, dan anak-anak bisa duduk di jok ini menghadap ke arah luar kendaraan. Sisi lainnya, kami lebih memilih untuk membiarkannya terlipat di bagian bawah saja karena sandarannya terlalu tegak, ruang kaki terlalu kecil, dan membutuhkan pose merangkak saat masuk ataupun keluar yang sedikit merepotkan—bahkan bagi anak-anak sekalipun.
Masih berbicara mengenai “buntutnya”, Mercedes juga memberikan jaring penahan di belakang sandaran kepala jok baris kedua dengan sistem lepas-pasang sesuai kebutuhan. Jaring ini seolah menjadi pembatas antara ruang kompartemen dan ruang kabin. Tetapi untuk sisi fungsional, jaring ini bisa memaksimalkan volume bagasi belakang ketika diisi barang sebanyak-banyaknya tanpa khawatir “tumpah” ke kabin 


Mercedes-Benz E 250 Estate Ava
Kabinnya sendiri masih khas E-Class; mewah, senyap, dan berkelas—meskipun kami tetap menginginkan adanya perubahan tampilan panel interior dan dasbornya yang mulai ketinggalan zaman. Diperkirakan model W213 dan S213 mendatang akan mendapatkan teknologi dan tampilan dari S-Class model teranyar. Toh dengan tampilan interior S212 ini, kami tetap merasa nyaman dan semua tombolnya menghadirkan fungsionalitas cukup selama berkendara.
Sektor berkendara E 250 Estate Avantgarde juga layak diacungi jempol. Kesan panjang ternyata semakin kuat saat duduk di balik lingkar kemudinya yang begitu nyaman digenggam, terlihat sporty, sekaligus fungsional khas Mercedes berkat tombol-tombol multifungsinya. Lihat ke spion tengah, maka Anda mulai menyadari betapa panjangnya sebenarnya sisa dimensi bodi E-Class dari posisi duduk.
Mesin bensin 4-silinder turbo berkapasitas 2,0 liter bertenaga 211 hp dan torsi maksimum 350 Nm begitu mumpuni memboyong bobot kosong E 250 Estate Avantgarde yang berada di angka 1.785 kg. Angka tersebut lebih berat 105 kg dibandingkan E 250 Avantgarde Saloon, namun dengan unit mesin dan transmisi 7G-Tronic Plus dengan paddle-shift yang sama, mobil ini sama sekali tak menunjukkan karakter laju yang berbeda. Dorongan torsinya yang sudah hadir dari putaran rendah 1.200 rpm bahkan membuatnya terasa begitu bertenaga saat di lalu lintas macet, ataupun di tikungan menanjak. Hampir seperti diesel, namun jauh lebih senyap, dan lebih halus.
Manufaktur memberikan klaim bahwa mobil ini mampu berakselerasi dari 0-100 kpj dalam 7,8 detik, dan kecepatan puncaknya 233 kpj. E 250 Estate tentu mumpuni diajak berlari kencang, tetapi model estate ini begitu nyaman untuk dikendarai dengan laju menengah, sehingga kami sekalipun enggan untuk mengubah mode berkendaranya menjadi Sport. Cukup tempatkan pada mode Controlled Efficiency, transmisi di posisi D, dan nikmati bantingan suspensinya yang bisa membuat Anda sebagai pengemudi sekalipun ingin langsung terlelap.
Lingkar kemudi elektrik membuat manuver begitu mudah karena berbobot sangat ringan—namun tetap terprediksi, cekatan, dan tajam saat mengarahkan moncong mobil. Pergerakan kontrol bodi memang menjadi terbatas karena bobot besar dan jarak sumbu roda 2.874mm, toh di lintasan lurus mobil ini terasa begitu mantap dan nyaman. Pengaturan suspensinya sangat jempolan dalam menyerap getaran sekaligus gelombang.
Kinerja rem dengan fitur Hold juga menambah nilai mobil ini. Responnya linear, dan ketika terjebak di kemacetan Anda tinggal menekan pedal lebih dalam hingga ikon “HOLD” hijau muncul di layar instrumen, dan lepaskan injakan kaki tanpa khawatir mobil meluncur tak terkendali. Pada mode berkendara Controlled Efficiency, fitur ini juga akan mengaktikan auto start/stop, sehingga konsumsi bahan bakar bisa lebih ditekan saat melaju di perkotaan. Kami sempat menguji dalam perjalanan lebih dari 200 km, E 250 Estate hasilkan angka konsumsi bahan bakar kombinasi 9,90 kpl saja.
Sulit untuk tidak menyukai model E 250 Estate Avantgarde ini. Sepertinya semua kata sifat yang lumrah muncul saat mendeskripsikan kendaraan layak melekat di bodinya; mewah, elegan, praktis, mumpuni, sekaligus efisien. Jika Anda menolak paket komplit ini, yang lain sepertinya akan sulit memberikan alternatif lain kepada Anda.


DATA FAKTA
Rentang harga
Ex-showroom price:Rp 1,209 miliar (OFR)
Mesin
Instalasi:4-silinder segaris, 1.991cc, turbocharger, bensin

Tenaga:211 hp @ 5.500 rpm

Torsi:350 Nm @ 1.200-4.000 rpm
Transmisi
Tipe:7G-Tronic Plus 7-percepatan
Dimensi
Panjang:4.905mm

Lebar:1.854mm

Tinggi:1.507mm

Sumbu roda:2.874mm

Volume bagasi:1.785 kg
Performa(kpj)
0-100:7,8 detik (klaim)
Konsumsi bahan bakar
Kota:9,90 kpl (pengujian)

Rabu, 27 Januari 2016

Perbandingan Caterham 270R vs Mazda MX-5 vs Toyota GT86

Menguji mobil performa berpenggerak roda belakang.
Perbandingan Caterham 270R vs Mazda MX-5 vs Toyota GT86
Perbandingan Caterham 270R vs Mazda MX-5 vs Toyota GT86 - Ketika memilih mobil berpenggerak roda belakang, semua setuju jika di tahun ini ada beberapa kontender yang begitu semangat untuk langsung dipilih. Namun, tidak seorang pun sanggup menunjuk salah satu kontender yang paling menggoda.
Salah satu kontender terkuat dari beberapa tersebut adalah Mazda MX-5 berwarna merah yang baru saja diluncurkan. Mesin Skyactiv 2,0 liter bertenaga 158 hp-nya sangat baik. Mazda MX5 terlalu bagus, bahkan berpotensi menjadi rival terberat Toyota GT86, yang kebetulan hanya mendapatkan penyempurnaan di trim serta kemunculan model entry-level terbarunya dengan velg berukuran 16-inci. Sebagai tambahan, beberapa penguji menyarankan Caterham Seven 270R dengan rasio tenaga – bobot yang mengungguli telak rivalnya untuk ikut di dalam kompetisi ini.
Setelah menghabiskan akhir pekan bersama model Caterham Seven paling lemah kedua dari jajaran model-model Seven lainnya, justru saya mempertanyakan saran dari kolega saya tersebut. Secara mekanikal, modelnya adalah bawaan dari model Supersport yang mengagumkan, tapi anehnya, bagian setir terasa lebih ringan dan mengindikasikan ukuran camber lebih kecil (sehingga kontrol hidung lebih mudah terprediksi).

Secara tipikal, setelah beraksi selama 10 menit di Bedford's East Circuit, saya tidak merasa was-was sedikitpun. Caterham 270R tetaplah sebuah pelahap sirkuit yang fenomenal. Jika terasa sedikit gejala understeer, mobil ini mengijinkan saya untuk menginjak pedal gas lebih dalam, dan apa yang dimulai dengan kaki akan berakhir di tangan Anda sepersekian detik kemudian. Dengan lebar telapak ban berukuran 185 pada velg berukuran 13-inci (percayalah ini yang Anda inginkan), Seven tergelincir dengan cepat, tapi kecepatan pergerakan pada kemudi sudut-drifting 45 derajat terasa intuitif, tidak mengancam, dan sangat melibatkan pengemudi.

Daya hidup Caterham membuat yang lain seperti pemanis saja, namun sebenarnya di sinilah desisan mesin Sigma 1,6 liter bertenaga 135 hp mulai kalah jauh dari dorongan 2,0 liter boxer bertenaga 197 hp milik Toyota. Bahkan tanpa kekontrasan tersebut, sebenarnya mudah untuk untuk terdistraksi sejak mengetahui kemudi ringan, suspensi empuk, serta ban ramping nan ekonomis milik GT86.
Masuki kompleks tikungan tajam dengan kondisi jalanan kering dan aspal bergelombang, Anda akan cepat menghargai keindahan Toyota. Lingkar kemudi ringan mempermudah manuver, dan suspensinya menyerap guncangan dengan baik untuk mengoptimalkan distribusi bobot. Bannya tipis dan hanya sedikit lengket demi memastikan Anda sering kehilangan traksi.
Kemampuan GT86 untuk memecah traksi roda sangat luar biasa. Bukan hanya masalah kapabilitas mobil, kemampuan pengemudi pun tidak terlalu dibutuhkan sebenarnya. Saat sedikit lepas kendali, lalu selanjutnya terasa mengalir—mulai dari respon bukaan gas, differensial, sensasi keseimbangan, pengendalian setir, lalu secara perlahan traksi kembali diraih.
Ini adalah perihal bagaimana caranya bersenang-senang paling maksimal, dan faktor terbesar yang membuat kami menyeringai adalah MX-5, musuh terkemuka GT86 kali ini di Bedford. Model terbaru beratap soft-top ini cukup mengejutkan kami; cukup sulit untuk menemukan titik terasyik berkendaranya, dapat melaju lebih cepat dari dugaan, dan kontrol bodinya lebih baik dibandingkan Toyota. Dengan bobot 1.100 kg dan torsi 200 Nm, sedikit lebih kecil daripada milik GT86 dengan torsi 204 Nm, membuat momen sliding MX-5 sedikit berkurang dibanding rivalnya tersebut.
Potongan klasik dari rangka sasis MX-5 dapat terlihat dengan jelas dari bangku pengemudi, sayangnya hal ini mengorbankan sedikit kelincahan mobil. Ukuran kecil, overhang kecil, pengendalian cepat, dan bobot terlampau ringan artinya perubahan arah terjadi lebih cepat. Dibandingkan dengan GT86, mobil tersebut masih tidak memiliki traksi berlimpah. Biarkan mobil diredam oleh damper dan mencari sendiri gripnya. Meskipun demikian, mobil berkomunikasi mengenai batasannya ketika Anda mengajak mobil ini untuk mencapai batasnya.

Rahasia utamanya, sudah jelas berada pada respon lingkar kemudinya yang jauh lebih baik. MX-5 memberikan bobot pada kemudi lebih cepat dan konsisten dibandingkan rivalnya. Hal ini tentu dibantu dari segi rangka sasis terbarunya. Suspensi mendistribusikan bobot lebih lembut dibandingkan rivalnya, mendorong sensasi kecepatan dan membuat Anda tidak ragu saat roda belakang hendak bergeser dari apex.
Sebagai hasilnya, bukan karena pengaruh putaran mesin yang tinggi, mesin berkonfigurasi konvensional segaris, dan kebetulan kelimpahan udara segar, Mazda menang telak di jalanan umum meninggalkan GT86. Kemenangan Mazda akan diakui oleh para pehobi sliding sekaligus orang-orang awam sekalipun.
Kembali ke trek, membutuhkan selama dua hari untuk menentukan podium pada kompetisi di grup ini. Dimulai dari urutan terbawah adalah 270R, performanya sangat luar biasa di Bedford. Tapi kami mempertimbangkan anggaran, mobil untuk segala musim, dan Caterham tidak akan pernah bisa. Sudah menjadi tradisi perusahaan tersebut, Seven memberikan tolak ukur yang lebih baik dibandingkan kompetitornya. Setelah setengah abad, perusahaan itu menawarkan mobil sport dengan mesin depan berpenggerak belakang, dan kecakapan pengendalian yang menginspirasi para rivalnya.
Upaya Toyota telah membuat kami terpersona dalam tiga tahun terakhir. GT 86 membuktikan, dalam cara terbaiknya, bahwa perusahaan besar masih memahami keinginan kami para pecinta berkendara. Jawabannya adalah, membuat mobil coupe ringan, tidak terlalu kuat, dapat diatur, tidak pemalas, dan melemparkan kepraktisan serta nilai ekonomis dengan takaran yang pas. Dia berhak menjadi mobil sport terlaris di dunia. Tapi tidak lagi, dan tidak akan pernah lagi.
Karena itu adalah tugas untuk MX-5. Mazda meyakininya dengan memiliki semua keunggulan GT86, termasuk sliding di sirkuit. Mazda MX-5 mungkin masih menjadi pilihan temporer dibandingkan GT86 yang bisa digunakan setiap hari, namun karakter dinamis, roda belakang mudah berasap, serta kencang dan memberikan keterlibatan tinggi terhadap pengemudi membuatnya begitu mudah untuk disukai. Ditambah lagi, Anda bisa membuka atapnya, ambil pilihan mesin 2,0 liter dengan banderol jauh lebih murah dibandingkan yang kami tetapkan, dan lebih murah dalam hal biaya operasional membuat MX-5 menang mutlak sebagai mobil berpenggerak belakang 2015 yang terjangkau.
Isuzu berusaha menggoyang tahta Toyota dan Mitsubishi dengan MU-X, namun apakah produk asal Thailand ini bisa mengusik nama besar Fortuner dan Pajero Sport?
Komparasi Toyota Fortuner vs Mitsubishi Pajero Sport vs Isuzu MU-X
"Ini Panther baru ya? Lebih besar ya, harganya berapa nih?" tegur seorang tetangga yang melihat sosok Isuzu MU-Xterparkir di garasi saya. Ya, nama Isuzu memang sudah terpatri di benak masyarakat Indonesia dengan merek Panther-nya. Maklum saja, rasanya sudah seperti puluhan tahun lalu Isuzu tidak memboyong mobil penumpang baru selain Panther ke Tanah Air. Hingga akhirnya, merek 'Rajanya Diesel' itu menghadirkan mobil tujuh penumpang terbarunya.
Jika dahulu Panther bersaing dengan Toyota Kijang dan Mitsubishi Kuda, kini Isuzu siap mengusik ketenangan Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport. Toyota Fortuner hadir lebih dulu di tahun 2005 dan disusul dengan varian bermesin diesel pada 2007. Mitsubishi kemudian menghadirkan Pajero Sport pada tahun 2009, dan Isuzu MU-X menyusul di pertengahan 2014 lalu. Baca juga komparasi Honda Jazz vs Toyota Yaris vs Mazda2 vs Ford Fiesta.
Meski pendatang baru, tak ada yang menyangsikan durabilitas mesin diesel Isuzu berkat reputasi yang dibawa Panther. Sementara Toyota, predikat sebagai pabrikan mobil no.1 di Indonesia menjamin kualitas yang dimilikinya. Di sektor mobil komersial, reputasi mesin diesel Mitsubishi juga tak perlu diragukan lagi, menjadi DNA yang ditularkan ke Pajero Sport.

Isuzu memang baru menyediakan satu varian untuk MU-X ini sehingga konsumen tidak dapat leluasa menentukan pilihan. Kami membawanya untuk bertarung denganToyota Fortuner TRD AT, dan Mitsubishi Pajero Sport Dakar 4x2. Siapakah yang berhak menyandang mahkota sebagai SUV diesel 7-seater terbaik?


Besar dan Berotot
Sebagai pendatang baru, tampilan MU-X menjadi yang paling segar dari dua kompetitornya. Tak ayal, MU-X cukup menyita perhatian dibanding Fortuner dan Pajero Sport karena tampilannya yang tajam dan kekar. Isuzu membekali tampilan agresif pada MU-X yang diwakili grille berlapis krom dipadu lampu proyektor berdesain seperti tatapan mata yang mengintimidasi.
Sedangkan Toyota Fortuner VNT pun juga memberikan desain eksterior yang menarik, mengadopsi tambahan lubang udara (air scoop) di atas kap mesin membuatnya tampak lebih berperforma dibanding yang lainnya. Apalagi dengan imbuhan body kit TRD Sportivo. Adanya Daytime Running Lights (DRL) pada Fortuner menjadikannya tampil lebih menarik perharian saat ketiganya berjalan beriringan.
Sementara Mitsubishi Pajero, tampil paling konservatif di antara ketiganya. Dengan beberapa lekuk tubuh membulat, membuatnya tampak berotot. Garis bahu tinggi yang memanjang dari depan dan belakang seakan memperkuat karakternya yang mengusung DNA rally khas Mitsubishi.
Dari segi dimensi, ketiganya memiliki sosok yang dapat dibilang tinggi besar dengan kesan berotot yang kekar. Pendatang baru Isuzu MU-X, tercatat sebagai pemilik tubuh terpanjang dengan 4.825 mm diikuti oleh Fortuner (4.705 mm) dan terakhir Pajero Sport (4.695 mm).  Dari ketiganya,  ground clearance Pajero Sport (215 mm) terbilang paling rendah dibanding rivalnya, MU-X 230 mm dan Fortuner 220 mm. Sementara MU-X menjadi yang paling lebar (1.860 mm), diikuti dengan Fortuner (1.840 mm) dan Pajeri Sport (1.815 mm).

Kabin yang Lapang
Dengan dimensinya yang besar, ketiga SUV ini tentu menawarkan ruang kabin yang lapang. Isuzu sebagai pendatang terbaru memiliki tampilan interior yang cukup mewah, terlihat dari panel meter cluster yang canggih dan lebih modern dibanding dua rivalnya. Desain pada instrumen tengah MU-X tampil sederhana, dengan head unit berlayar sentuh dan panel AC membulat berukuran besar yang ergonomis.
Material jok pada MU-X dan Pajero Sport telah dibalut kulit hitam yang membuatnya terlihat mewah. Sedangkan pada Fortuner masih menggunakan bahan fabric dengan warna beige. Satu keunggulan pada MU-X adalah fitur pengaturan jok elektrik yang tidak dimiliki oleh kedua rivalnya. Sementara hanya Pajero Sport yang memiliki fitur sunroof sehingga membuat Fortuner tampil paling sederhana. Untuk fitur hiburan semuanya dibekali dengan layar sentuh berukuran cukup besar, namun hanya Fortuner yang menyediakan roof monitor bagi penumpang belakang. Ketiganya pun telah memiliki fitur pengendali audio dari lingkar kemudi.
Sistem multimedia pada MU-X menjadi yang paling canggih, dengan fitur yang mampu menduplikasi tampilan layar smartphone iPhone dan Android serta telah dilengkapi dengan port HDMI untuk memutar video langsung dari HD Player. Sistem hiburan pada MU-X ini juga telah memiliki fitur Surround Sound yang tidak dimiliki oleh kedua rivalnya. Sementara pada Pajero Sport dan Fortuner memiliki fitur yang cukup serupa dengan konektivitas USB dan juga iPod namun pada Pajero lebih unggul dengan adanya fitur navigasi pada sistem multimedianya.

Bicara mengenai kelapangan kabin, Isuzu MU-X memiliki dimensi yang terbesar sehingga tak ayal ruang kabinnya menjadi yang paling lega. Sebagai SUV 7 penumpang, MU-X juga memiliki ruang baris ketiga yang paling lapang. Luasnya ruang kaki bagi para penumpang rupanya didapat berkat desain lantai yang lebih rendah. Pajero Sport memiliki ruang kaki baris ketiga yang paling sempit mengingat dimensinya juga termasuk yang paling kecil, sementara Fortuner berada di tengah-tengah meskipun baris ketiganya juga cukup sempit bagi ukuran orang dewasa. 
Pada baris kedua, Fortuner memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh Pajero dan MU-X. Kursi baris keduanya selain bisa diatur tingkat kemiringannya juga bisa diatur maju-mundur, sedangkan pada Pajero dan MU-X posisinya fix hanya bisa mengatur tingkat kemiringan saja.
Beranjak ke ruang bagasi yang juga cukup penting pada sebuah SUV. Kali ini Fortuner berada di posisi paling bawah dengan kapasitas bagasi yang paling sempit karena kursi baris ketiganya dilipat ke samping, sehingga cukup mengganggu ruang dan kepraktisan bagasinya. Selain memakan ruang bagasi, cara lipat samping ini tidak mudah dilakukan mengingat bobot kursi yang harus diangkat tidaklah ringan.
Pajero Sport berada di posisi kedua dengan kapasitas bagasi yang cukup luas dan kursi baris ketiga bisa dilipat rata. Namun sayangnya untuk melipat baris ketiga Mitsubishi belum mengaplikasi sistem satu sentuhan saja sehingga kurang praktis. MU-X adalah kontestan dengan bagasi yang terluas ditambah dengan fitur satu sentuhan untuk melipat baris ketiga membuatnya unggul dari dua rivalnya. 


Fitur dan Teknologi
Bicara mengenai fitur apa saja yang terdapat pada sebuah SUV tentunya dengan rentang harga di atas Rp 400 juta Anda mengharapkan banyak fitur canggih yang tersemat di dalamnya. Sebagai kontestan paling muda, Isuzu tentunya telah mempelajarai peta persaingan di level ini. Sehingga tak ayal MU-X memiliki banyak fitur canggih yang tak dimiliki oleh Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport.
Fitur yang disediakan memang juga tidak bisa dianggap remeh, karena MU-X menyematkan smart key termasuk tombol start/stop, electric seat, Electronic Stability Control (ESC) dan cruise control. Semua fitur ini tidak dimiliki oleh rivalnya termasuk pula kontrol traksi guna meredam limpahan torsi di roda belakang.
Pajero Sport hanya memiliki fitur paddle shift dan sunroof. Sedangkan Fortuner sepertinya masih terbuai dengan nama besar Toyota sehingga tak memiliki fitur canggih yang layak diunggulkan. Satu-satunya yang berbeda ialah fitur hiburan, dengan tersedianya roof monitor untuk memanjakan penumpang baris kedua dan ketiga. Untuk lubang ventilasi AC, Pajero Sport tidak memiliki lubang ventilasi ini untuk baris kedua, namun ada di baris ketiga. Sedangkan MU-X dan Fortuner memiliki ventilasi AC di baris kedua dan ketiga.
Untuk fitur keselamatan, lagi-lagi MU-X menjadi yang paling lengkap. Selain dibekali dengan fitur rem cakram di keempat rodanya dengan ABS, ia juga dilengkapi dengan EBD dan BA. Kemudian juga tersedia dual airbag serta fitur Isofix yaitu pengait kursi anak di baris kedua. Pajero Sport juga memiliki fitur dual airbag, ABS, EBD dan BA tapi rem cakram hanya ada pada kedua roda depan saja dengan roda belakang mengandalkan rem tromol. Fortuner berada di posisi ketiga dengan dual airbag dan ABS saja, piranti rem cakram juga hanya terdapat di roda depan.

Siapa Paling Cepat
Di atas kertas, semuanya memiliki bekal mesin diesel dengan kapasitas 2.5 liter plus turbo. Isuzu MU-X disenjatai mesin 4-silinder 2.5 liter dengan turbocharger berteknologi Variable Geometry System (VGS), kemudian Pajero Sport Dakar juga dibekali mesin 2.5 liter berimbuh Variable Geometry Turbocharer (VGT) dan terakhir Fortuner dengan mesin 2.5 liter berteknologi Variable Nozzle Turbocharger (VNT).
Semua teknologi yang terkandung di dalam mesin ketiga SUV ini nyaris serupa, namun masing-masing menawarkan keluaran tenaga yang berbeda. Pajero Sport paling unggul dari sisi tenaga puncak yang mencapai 175 hp pada 4.000 rpm dan torsi maksimal 350 Nm pada rentang 1.800 - 3.500 rpm. Fortuner di tempat kedua dengan tenaga 144 hp di 3.400 rpm dengan torsi 350 Nm di antara 1.600  -2.800 rpm. Sementara MU-X memberikan lontaran tenaga 136 hp di 3.600 rpm dan torsi 320 Nm mulai dari 1.800 hingga 2.800 rpm.
Untuk menyalurkan tenaga mesin ke roda belakang, semua SUV bongsor ini menggunakan transmisi otomatis. Bedanya pada MU-X dan Pajero Sport telah mengadopsi transmisi otomatis 5-speed sedangkan Fortuner masih memercayakan kepada transmisi otomatis 4-speed. Pajero menawarkan fitur paddle shift untuk proses perpindahan transmisi, sementara MU-X dengan mode tiptronic-nya.
Dalam uji akselerasi 0 – 100 kpj, Pajero Sport unggul dalam hal akselerasi 0-100 kpj dengan catatan waktu 12,1 detik. Disusul dengan Fortuner ditempat kedua dengan 13,9 detik, sementara MU-X mencatat waktu 14,4 detik. 

Keunggulan performa Pajero Sport tampaknya berdampak terhadap konsumsi bahan bakarnya. Dengan bobot yang nyaris menyentuh angka dua ton, membuatnya menjadi yang paling boros mengkonsumsi bahan bakar. Untuk konsumsi bahan bakar dalam kota, Pajero Sport hanya meraih 7,16 kpl dengan kecepatan rata-rata 12 kpj. Hasil terbaik diraih Fortuner dengan catatan konsumsi bahan bakar 9,12 kpl dengan kecepatan rata-rata 19 kpj. Sedangkan MU-X berada di posisi kedua dengan raihan konsumsi 8,14 kpl pada kecepatan rata-rata 13 kpj.
Hasil yang tidak jauh berbeda juga kami dapatkan saat menguji keluar kota dengan rute Jakarta-Bandung melalui tol Cipularang. Kali ini MU-X terbukti lebih irit dari yang lainnya dengan catatan konsumsi BBM 11,89 kpl dengan kecepatan rata 54 kpj. Fortuner berada di posisi kedua dengan hasil 11,43 kpl pada kecepatan rata-rata 53 kpj, dan Pajero Sport tetap berada di urutan terakhir dengan 10,64 kpl dengan kecepatan rata-rata di angka 56 kpj.
Kami juga melakukan uji pengereman pada ketiga SUV ini dari kecepatan 80 kpj hingga berhenti sempurna. Hasil terbaik diraih oleh MU-X dengan 2,6 detik dan jarak pengereman 28,5 meter. Terbukti piranti keselamatan yang lebih canggih dari dua rivalnya membuat MU-X memiliki jarak pengereman yang paling pendek. Pajero Sport menguntit di belakang MU-X dengan 2,9 detik dan jarak 28,7 meter. Fortuner yang paling minim fitur berada di posisi ketiga dengan waktu 3 detik dan jarak pengereman 29,9 meter. 

Kenikmatan Berkendara
Posisi mengemudi paling nyaman kami akui dimiliki oleh Toyota Fortuner. Tempat duduknya nyaman dan terasa tinggi. Visibilitasnya baik, apalagi di ujung kiri depan bonnet-nya terdapat kaca spion kecil untuk melihat posisi roda depan kiri dan moncong mobil. Sangat membantu memberi keyakinan saat mengemudi.
Saat merasakan menjadi penumpang di kursi baris kedua pun terasa nyaman. Lantai yang cukup tinggi membuat posisi duduk cukup santai. Faktor kenyamanan ini didukung oleh suspensi double wishbone dengan stabilizer di depan dan 4-link lateral rod di belakang yang mampu meredam getaran saat melintasi permukaan jalan yang buruk.
Kesan yang berbeda kami dapatkan saat berpindah ke Pajero Sport, karakter sport terasa kuat pada SUV berlogo tiga berlian ini. Suspensi independen double wishbone dengan stabilizer di roda depan dan 3-link coil spring dengan stabilizer yang menyangga roda belakang menjadi yang paling keras peredamannya saat berhadapan dengan lubang di jalan. Meski begitu hal ini berimbas positif kepada pengendalian Pajero yang terasa sangat mantap terlebih saat bermanuver dengan kecepatan tinggi.
Racikan suspensi MU-X bisa dibilang memiliki tingkat peredaman paling lembut di antara ketiganya. Dengan pasangan McPherson Strut di depan dan multi-link di belakang, MU-X menjadi yang paling nyaman saat melibas jalanan berlubang. Meski begitu, hal ini terasa berpengaruh ketika bermanuver cepat atau melintasi jalanan bergelombang dengan kecepatan tinggi. Pengendaliannya terasa kurang meyakinkan di kecepatan tinggi, namun saat penumpang diisi penuh, pengendaliannya menjadi jauh lebih baik.
Saat kami mengarahkan ketiganya ke Bandung via Tol Cipularang, harus diakui Pajero Sport meyuguhkan keasyikan berkendara yang terbesar berkat aplikasi paddle shift di balik lingkar kemudinya. Apalagi performa mesinnya menjadi yang terkuat di banding MU-X dan Fortuner. Proses perpindahan gear saat menyusul mobil lain dapat dilakukan hanya dengan menjentikkan ujung jari di paddle shift.
Berbeda dengan yang disuguhkan oleh MU-X. Kenikmatan mengemudi mobil ini disuguhkan adanya fitur cruise control yang membuat perjalanan lebih santai. Meski begitu saat dibutuhkan perpindahan gear lebih sigap, fitur tiptronic dengan menggeser tuas transmisi ke kanan dapat dimanfaatkan.
Seperti yang kami sebutkan di atas, keunggulan pengendaraan Fortuner diberikan oleh posisi mengemudi yang paling nyaman diantara ketiganya. Meski tak menawarkan baik paddle shift maupun mode tiptronic pada transmisinya, namun dengan menggeser tuas transmisi ke posisi “3” cukup dapat membantu memberikan dorongan yang cukup untuk mengejar Pajero Sport.

Simulasi Pengendalian
Kami sempat menguji ketiganya dalam sebuah arena slalom untuk mengetahui potensi terbaik dari pengendaliannya. Pada MU-X dengan putaran lingkar kemudi yang terasa paling berat dari kedua rivalnya, memiliki pengendalian yang cukup solid berkat fitur ESC yang mengoreksi gejala selip dan menjaga mobil tetap pada lajurnya. Meski begitu, performa mesin yang paling kecil dan intervensi ESC menjadikan MU-X mencatat waktu paling lambat.
Sementara Toyota Fortuner, kembali diuntungkan dengan visibilitas yang disuguhkan, memberi keyakinan saat mengendalikan mobil ini. Belum lagi, putaran kemudi yang ringan menjadikan mobil ini yang tercepat di antara ketiganya. Pada posisi kedua, Pajero Sport mendapat keuntungan dari performa mesin terbaik yang dimilikinya. Selain suspensi lebih kaku, juga turut menjadikan pengendalian mobil ini cukup solid meski tak ada fitur stabilitas elektronik.
Selain uji slalom, kami juga merasakan seperti apa pengendaraan dan pengendalian mobil 7-penumpang ini dengan kondisi terisi penuh, lima orang di dalam kabin dan tambahan beban karung pasir seberat 130 kg sebagai pengganti bobot dua orang dewasa di baris ketiga. Karakter suspensi MU-X yang lembut kami akui membuat semua penumpang di dalam merasa nyaman di berbagai permukaan jalan. Pengendalian terasa lebih solid, namun performanya juga sedikit menurun karena beban yang digendongnya.
Kenyamanan di dalam Fortuner didapat berkat fleksibilitas bangku baris kedua yang nyaman dan lega. Kenyamanan suspensinya terasa paling kompromi di antara kedua rivalnya, di antara kelembutan MU-X dan kekakuan Pajero Sport. Hal ini juga yang memberikan pengendalian yang cukup meyakinkan dengan kabin yang terisi penuh.
Lain hal dengan Pajero Sport, baris keduanya terasa lebih sempit dibanding kedua rivalnya sehingga mengurangi kenyamanan penumpang. Karakter suspensi yang sporty membuat peredaman yang disuguhkan Pajero terasa keras menghadapi jalanan berlubang dan bergelombang. Namun saat bermanuver, mobil ini sangat solid di berbagai tingkat kecepatan. 

Mana yang Terbaik?
Cukup sulit bagi kami memutuskan mana yang terbaik di antara ketiganya. Masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Tapi selama pengujian dan penjabaran faktor-faktor di atas, kami berusaha untuk menakar mana SUV yang memiliki value for money lebih tinggi dari ketiga kontestan ini.
Toyota Fortuner yang paling “senior” dari kedua rivalnya perlu segera berbenah agar bisa tetap bersaing dengan lawan-lawannya yang lebih muda. Dengan model utama desain yang menarik, Fortuner juga cukup beruntung dengan nama besar Toyota yang membuatnya tetap bertahan di posisi teratas untuk urusan angka penjualan. Hal ini didukung pula dengan banyaknya varian yang ditawarkan oleh Toyota, termasuk Fortuner bermesin bensin atau berpenggerak 4x4.
Mitsubishi Pajero Sport menawarkan sensasi yang berbeda dari kedua rivalnya ini. Bagi konsumen yang lebih menyukai karakter pengendaraan sporty dan agresif Pajero Sport memang layak menjadi pilihan utama. Apalagi Mitsubishi juga menyediakan banyak pilihan varian untuk Pajero Sport ini mulai pilihan bermesin bensin hingga ke varian berpenggerak 4x4.
Sebagai penantang baru di pasar SUV ini, tampak sekali jika Isuzu memang telah menyiapkan MU-X dengan amunisi yang tepat untuk memasuki pasar SUV ini. Fitur berlimpah dan keleluasan kabin menjadi keunggulannya. Apalagi reputasi Isuzu yang terkenal sebagai “Rajanya Diesel” menjamin keunggulan jantung pacunya, meski dari sisi performa bukan yang terunggul.
Dari sisi banderol harga, Toyota Fortuner TRD AT memiliki harga termahal di antara ketiganya (Rp 464,1 juta) namun fitur yang ditawarkan sangat minim. Nilai lebih Fortuner selain nama besar Toyota di baliknya ada pada kenyamanan kabinnya. Dan yang paling utama adalah Fortuner menjadi salah satu yang paling irit konsumsi bahan bakar.

Mitsubishi Pajero Sport Dakar berbanderol Rp 458 juta, berada di antara kedua rivalnya. Keunggulan yang diberikan dari performanya menjadi sangat berarti jika Anda gemar mengemudi. Namun, saat bersama keluarga, rasanya hal itu bukanlah  prioritas utama.
Sementara satu-satunya pilihan Isuzu MU-X menjadi yang termurah dengan banderol Rp 442,5 juta. Harga ini bisa menjadi sangat bernilai berkat tawaran fitur-fitur yang dapat dibilang menjadi yang terlengkap. Penampilan paling baru plus konsumsi BBM yang cukup irit, menjadi potensi utama MU-X dan mampu menutupi kelemahannya di sektor tenaga mesin.

ModelIsuzu MU-XMitsubishi Pajero Sport Dakar 4x2 ATToyota Fortuner 2.5 G A/T TRD Diesel
Rating4 bintang3,5 bintang3,5 bintang
PenilaianHarga yang murah dengan fitur-fitur melebihi rivalnyaTenaga terbesar dan gairah berkendara SUV paling sportyEfisiensi dan nyaman menutupi minimnya fitur
Harga (OTR)Rp 442,5 jutaRp 458 jutaRp 464,1juta
0-100 kpj14,4 detik12,1 detik13,9 detik
80-0 kpj2,6 detik2,9 detik3 detik
BBM (kombinasi)10,01 kpl8,90 kpl10,26 kpl
Bobot1.980 kg1.965 kg1.840 kg
Mesin2.499cc 4-silinder
4JK1-TC with Variable Geometry System turbocharger
2,477cc DOHC Commonrail Turbocharged and Intercooled, 4 Cylinder In-line2.494cc 4-silinder 2 KD-FTV VN Turbo Intercooler
InstalasiDepan, melintang, RWDDepan, melintang, RWDDepan, melintang, RWD
Tenaga136 hp @ 3.400 rpm178 hp @ 4.000 rpm144 hp @ 3.400 rpm
Torsi320 Nm @ 1.800 - 2.800 rpm350 Nm @ 1.800 - 3.500 rpm350 Nm @ 1.600 - 2.800 rpm
TransmisiOtomatis 5-speedOtomatis 5-speedOtomatis 4-speed
Panjang4.825 mm4.695 mm4.705 mm
Lebar1.860 mm1.815 mm1.840 mm
Tinggi1.840 mm1.840 mm1.850 mm
Sumbu roda2.845 mm2.800 mm2.750 mm
Ground Clarance230 mm215 mm220 mm
Tangki bensin65 liter70 liter65 liter
Radius Putar5,8 meter5,6 meter5,8 meter
Suspensi depanIndependent MacPherson Strut with Stabilizer BarDouble Independence Wishbone, Coil Spring with StabilizerDouble Wishbone with Stabilizer
Suspensi belakangIndependent Multi-link with Stabilizer Bar3-Link Coil Spring with Stabilizer4-Link Lateral Rod with Coil Spring
RemVentilated disc (d)
Ventilated Disc (b)
Ventilated disc (d)
Drum (b)
Ventilated disc (d)
Drum (b)

Komparasi Mazda6 vs Toyota Camry vs Kia Optima

Meski pasar sedan di Indonesia semakin terkikis, namun beberapa pabrikan tetap menghadirkan pilihan sedan besar yang menjadi flagship-nya di Tanah Air. 
Komparasi Mazda6 vs Toyota Camry vs Kia Optima
Komparasi Mazda6 vs Toyota Camry vs Kia Optima - Lupakan sejenak mobil-mobil yang mampu membukukan angka penjualan fantastis di Indonesia. Sekarang adalah saatnya untuk membayangkan diri Anda sebagai seorang eksekutif muda yang tengah memilih mobil terbaik untuk mendampingi segala aktivitas bisnis Anda.
Lazimnya, seorang eksekutif identik dengan sebuah saloon. Pilihan pertama di kelasnya bukan lagi sebuah small saloon ataupun medium saloon. Selain fungsinya sebagai kendaraan “dinas” sehari-hari, tapi kekuatan sebenarnya berkaitan dengan citra yang dimiliki para pemiliknya. Yang dibutuhkan adalah sebuah paket yang sempurna antara tampilannya yang mewah dengan tingkat kenyamanan, tenaga yang mumpuni dengan efisiensi bahan bakar dengan banderol harga yang wajar.
Kami memiliki cukup banyak pilihan untuk kami bandingkan di segmen large saloon ini. Diantaranya ada sang pemimpin pasar Toyota Camry, pesaing dekatnya Honda Accord, Nissan Teana dan Mazda6. Jangan lupakan juga kompetitor asal Negeri Ginseng yaitu Kia Optima dan Hyundai Sonata. Dari Benua Biru, di segmen yang sedikit lebih mahal ada Mercedes C-Class, BMW Seri-3 dan juga Audi A4. Namun dari semua ini, kami memutuskan hanya membandingkan antara merek Jepang dan Korea saja, dengan mempertimbangkan faktor harga yang bersaing di kisaran Rp 600 jutaan.

Toyota Camry, Mazda6 dan Honda Accord baru saja mendapat penyegaran di tahun ini untuk memanaskan persaingan. Sayangnya kami tidak bisa mendapatkan unit tes dari Honda Accord, begitu juga dengan Nissan Teana. Dari Korea, KIA Optima kami anggap bisa mewakili saudaranya Hyundai Sonata. Jadi dari Toyota Camry 2.5 V, Mazda6 dan KIA Optima, siapa yang mampu menjadi pilihan terbaik bagi para eksekutif di Indonesia?

Tak lagi Tampil 'Kuno'
Berbicara mengenai bahasa desain tentu tak lepas dari subjektivitas pribadi masing-masing. Jika dahulu mobil di kelas ini sangat identik dengan desain yang kaku dan diperuntukkan bagi orang tua, namun kini semua berubah total. Lihat saja perubahan yang dialami oleh ketiga kontestan kali ini. Toyota mengubah total desain sedan medium andalannya dengan bahasa desain global yang kini tampil lebih sporty dengan tampilan 'keen look'.
Dari segi dimensi dan rupa, kami merasa Toyota Camry terbaru ini minim perubahan dari pendahulunya. Bahasa desain keen look hanya bisa diterjemahkan melalui tampilan depan yang lebih menyudut dan tajam. Sayang, lampu utama dengan proyektor LED hanya terdapat pada tipe Camry Hybrid saja. Sementara buritan, sedikit berubah pada desain lampu belakang yang seolah terhubung lis chrome di bagian bagasi. Diffuser pun dibuat lebih melengkung agar sedan premium ini juga bisa terlihat sporty dari belakang.
Hal yang serupa juga dapat dirasakan pada Mazda6 terbaru. Secara tampilan Mazda6 ini masih mengusung tema besar desain KODO yang sangat sporty. Pengaruh desain KODO ini membuat tampilan Mazda6 cukup menonjol jika disandingkan dengan kedua rivalnya terutama dengan warna khas soul red. Perubahan dibanding pendahulunya terdapat pada desain grille penutup radiator dengan 'signature wing' yang kini dapat bersinar saat malam hari. Teknologi LED kini diadopsi pada lampu depan, foglamp serta lampu belakang.
Sebagai penantang dari Korea, Kia Optima memang patut diacungi dua jempol. Desainnya sungguh menyegarkan dengan garis-garis tajam yang sporty dan modern, menjadikannya pusat perhatian di jalan tak kalah dengan Mazda6. Semua itu bisa dibilang merupakan hasil campur tangan Peter Schreyer, yang membuat sedan bongsor asal Negeri Ginseng tersebut bergaya layaknya mobil Eropa. Ditangan Peter seluruh line-up Kia kini punya ciri khas yaitu grille berdesain ‘Tiger Nose’, seperti yang juga terdapat pada Optima.
Kesan mewah diwujudkan melalui Daytime Running Lights (DRL) dan lampu proyektor yang menawan. Sayangnya Optima belum dilengkapi lampu berteknologi HID, masih menggunakan halogen. Foglamp LED empat titik di kedua sisi bumper bagian bawah memberi kesan sporty yang menonjol pada mobil ini. Di bagian belakang LED Combination Rear Lamp yang mengelilingi bagian utama membuatnya tampil beda di tengah kemacetan kota.

Ketiga mobil menyuguhkan desain velg yang sporty untuk menunjang keseluruhan desainnya. Pada Camry, dengan lingkar roda 17 inci – yang paling kecil dibandingkan rivalnya -  memiliki desain yang paling tidak atraktif. Mazda6, dengan velg alumuniumnya yang berbalut nuansa warna gelap beukuran 19 inci, tampil kontras dengan warna soul red di tubuhnya. Sementara Optima mengandalkan velg berukuran 18 inci dengan desain yang keren dan menunjang tampilan sedan Korea ini. Secara tampilan menurut kami Mazda6 dan Optima tampil lebih sporty dan modern jika dibandingkan dengan Camry.
Puas melihat tampilan luar, saatnya melongok masuk ke dalam kabin. Tentu bukan rahasia umum jika pemilik mobil di kelas ini lebih suka disupiri saat bepergian. Sehingga kami mengutamakan sisi kenyamanan kabin terutama pada baris kedua tanpa mengesampingkan sisi pengendaraan dan fitur-fitur canggih yang dimiliki oleh masing-masing merek. Selain suspensi dan kenyamanan, salah satu faktor utama yang membuat pemilik mobil memilih duduk di depan (mengemudi) atau belakang adalah akomodasinya.
Dari sisi ukuran dimensi, Mazda6 termasuk yang paling panjang (4.865x1.840x1.450 mm) dibandingkan dengan dengan Camry (4.850x1.825x1.470 mm) dan Optima (4.845x1.830x 1.455 mm). Sedan di kelas ini memang sudah seharusnya mampu memenuhi kebutuhan akan ruang kabin yang lapang berkat posturnya yang cukup besar. Seharusnya di atas kertas, Mazda6 mampu menyuguhkan ruang kabin yang lebih lapang dari kompetitornya. Namun nyatanya, saat merasakan duduk di baris kedua, justru Mazda6 yang memiliki ruang kaki yang paling sempit. Hal yang sama kami rasakan saat membandingkan Mazda2 dengan 'rekan-rekannya' beberapa bulan sebelumnya.
Ruang kaki pada Mazda6 memang tidak sempit namun jika dibandingkan dengan kompetitornya ia kalah lega. Camry dan Optima memiliki tingkat kenyamanan yang lebih paripurna dari Mazda6. Namun Mazda6 memiliki kelebihan dari Camry dengan adanya sunroof. Optima bahkan lebih canggih lagi karena dibekali dengan atap panoramic yang memungkinkan penumpang belakang menatap ke atas langit dengan sempurna. Hanya Camry yang tak memiliki kaca di bagian atapnya.

Kelengkapan Fitur
Dengan banderol harga di atas Rp 500 juta tentu fitur-fitur yang ditawarkan oleh ketiga sedan ini bukan fitur yang seadanya. Mari kita mulai dari Optima yang memiliki harga jual paling murah dari yang lain. Dashboard Optima didesain mengarah ke pengemudi (driver oriented) yang membuat serasa berada di dalam kokpit pesawat. Kemudian jok berdesain semi bucket dan konsol tengah dashboard yang memiliki sudut 9,6 derajat ke arah pengemudi, sehingga memudahkan pengemudi menjangkau panel instrumen di dashboard.
Lingkar kemudi dengan bagian bawah yang rata juga menjadi salah satu nilai sporty lain di Kia Optima ini. Setir Optima telah dilengkapi dengan remote control pengatur audio, cruise control, bluetooth, dan paddle shift. Yang unik, fitur layar kamera mundur terintegrasi dengan spion tengah. Fitur Optima juga cukup banyak. Seperti smart key yang dilengkapi immobilizer dan engine start/stop. Untuk keselamatan, terdapat kontrol traksi, Hill Start Assist Control, dan 6-airbags menemani piranti rem ABS+EBD+BA.
Sayangnya, nilai lebih fitur kenyamanan tersebut sedikit berkurang akibat pemilihan material dan warna kabin yang terlalu sederhana. Balutan plastik hitam glossy membuatnya tampak murah, apalagi dengan head unit yang terlihat sederhana dengan layar kecil dan panel pengatur kesejukan kabin yang masih menggunakan layar LCD monokrom. Selain itu, meski kursi pengemudi telah dilengkapi pengaturan elektronik yang leluasa, namun bagi penumpang, baik di depan maupun belakang, posisi duduknya terlalu dalam sehingga terkesan tenggelam di balik jendela.
Ketika beralih ke Toyota Camry 2.5 V yang memiliki banderol harga di antara Optima dan Mazda6, Anda akan dihadapkan pada fitur yang memang sudah sepantasnya hadir di mobil para eksekutif mapan ini. Head unit Camry kini diperbarui menggunakan layar sentuh 8 inci dengan fitur koneksi internet, Toyota Move, MirrorLink Technology via MiraCast dan sistem navigasi sebagai kelengkapan standar tipe V. Kualitas suara dari sistem audio juga tampil maksimal. Kehadiran 10 speaker siap memanjakan telinga penumpang selama berada di dalam kabin. Pada lingkar kemudi Camry telah dilengkapi pengaturan tilt and telescopic steering elektrik dan juga dibekali tombol pengatur audio, bluetooth cruise control sampai MID yang juga berfungsi sebagai sarana informasi kendaraan, namun minus paddle shift.
Jok pengemudi kini sudah memliki pengaturan serba elektrik, baik reclining, sliding, dan lumbar support adjustment, semuanya bisa diatur dengan menekan tombol. Bagi penumpang belakang, Toyota menyediakan tombol untuk mengatur jok penumpang depan yang tersedia di samping kanan atas. Fitur keselamatan Camry facelift pun cukup lengkap, seperti 7 airbags, Vehicle Stability Control (VSC), dan ABS+EBD+BA untuk semua tipe. Namun Anda takkan menemukan fitur Hill Start Assist Control (HAC) dan Traction Control karena hanya tersedia pada tipe Hybrid saja.

Interiornya pun juga punya kemewahan yang makin menonjol dengan desain panel  kayu baru, warna kabin beige, jok berlapis kulit dan fitur baru wireless charging. Fitur ini membuat isi ulang baterai menjadi lebih praktis. Pengendara maupun penumpang dapat melakukan isi ulang hanya dengan meletakkan smartphone di konsol tengah.Tapi tetap saja, kami menyayangkan hilangnya fitur pemijat elektrik jok belakang yang menjadi nilai lebih Camry sebelumnya.
Pada Mazda6 semua fitur yang ada pada Optima dan Camry tersedia di sini. Sebut saja jok kulit dengan pengaturan elektrik, cruise control, banyak airbag hingga sistem hiburan dengan layar sentuh. Bahkan bisa dibilang Mazda6 meninggalkan jauh kompetitornya dari segi kelengkapan fitur. Mengapa? Karena Mazda menyediakan lebih banyak fitur canggih seperti Electric Parking Brake, kemudian MZD Connect yang membuatnya seperti sebuah sedan Eropa dengan layar sentuh 7 inci yang mampu menampilkan segala macam informasi mulai dari radio, navigasi, bluetooth, internet dan disandingkan dengan sistem audio lansiran Bose dengan 11 speaker berteknologi surround sound.
Jika Anda sangat peduli terhadap fitur-fitur canggih terutama berhubungan dengan sistem keselamatan aktif maka Mazda6 memiliki fitur yang sangat komplit dari kedua rivalnya. Pertama Mazda yang memakai teknologi Adaptive LED Headlight (ALH). Ini adalah sistem lampu utama otonom dengan 4 buah penghalang LED yang dikontrol secara independen di setiap lampu. Penghalang ini akan memblok LED yang mengenai mobil dari arah depan sedang sisanya akan tetap menerangi jalan.
Fitur baru lainnya adalah Blind Spot Monitoring (BSM) yang mendukung jangkauan Rear Vehicle Monitoring (RVM) dan Rear Cross Traffic Alert (RCTA) akan bertugas memperingati pengemudi bila ada kendaraan lain mendekat saat sedang kondisi mundur. Selanjutnya adalah Lane-keep Assist System (LAS) yang memberikan steering torque assistance untuk mencegah pengemudi melakukan perpindahan jalur tanpa sengaja. LAS akan bekerja sama dengan Lane Departure Warning System (LDWS) yang sudah lebih dulu hadir.
Belum cukup, masih ada Driver Attention Alerts (DAA) di Mazda6. Fitur ini bertugas memonitor kondisi pengemudi dan memberikan rekomendasi untuk istirahat bila sistem mendeteksi ada perubahan perilaku mengemudi. Satu lagi adalah fitur Smart City Brake Support (SCBS) yang dulunya hanya tersedia saat kendaraan melaju ke depan, sekarang juga tersedia saat mobil dalam posisi mundur. Fitur SCBS Reverse ini tersedia saat Anda sedang memundurkan mobil, kemudian ada yang melintas di belakang Anda misalnya, maka mobil secara otomatis akan mengerem mendadak. Sedikit berbeda dengan SCBS depan, saat mundur kecepatan tidak bisa terlalu tinggi.

Siapa Tercepat dan Ternyaman?
Di segmen ini, sebenarnya penting tidak penting untuk menyajikan aspek performa, karena sepertinya para pemilik mobil ini lebih banyak menikmati duduk di baris kedua. Namun kami tetap menyajikan data siapa yang tercepat di komparasi kali ini.
Di atas kertas, memang hanya Camry dan Mazda6 yang dibekali mesin 2.5 liter DOHC, sedangkan Optima menggunakan mesin Theta II 2.4 liter. Namun dari sisi luapan tenaga, Optima dan Camry cukup seimbang dengan 180 hp dan 181 hp pada 6.000 rpm. Mazda6 menjadi yang terkuat dengan 187 hp pada 5.700 rpm.
Untuk penyaluran tenaga mesin terhadap roda depan, semua sedan premium ini menggunakan transmisi otomatis 6-speed. Bedanya pada Optima dan Mazda6 menawarkan pengalaman berkendara yang lebih berkat fitur paddle shift-nya dan juga adanya mode Sport. Saat berada dibalik kemudi, antara Mazda6 dan Camry memang Mazda6 lebih unggul dengan filosofi 'Jinbai Ittai' yang menyelaraskan pengemudi dengan kendaraannya. Sedangkan Camry masih menawarkan rasa mengemudi yang sama seperti sebelumnya dan menurut kami lebih baik Anda duduk di belakang saja. Nah untuk Optima ada satu catatan khusus dari kami, saat berada dibalik kemudi, Anda akan langsung menyadari betapa Korea berusaha keras mengejar ketertinggalannya dari Jepang. Secara mengejutkan ia cukup menyenangkan dikendarai. Posisi duduk ergonomis, kabinnya cukup hening, serta bentuk setir rata di bagian bawah juga memberi keunikan tersendiri.
Namun saat pengujian akselerasi 0-100 kpj, kami mendapat hasil yang cukup mengejutkan. Toyota Camry berhasil mengalahkan Mazda6 dengan catatan waktu 9,7 detik melawan 9,9 detik. Sedangkan Optima meraih hasil 10,1 detik. Pun begitu saat kami membandingkan hasil konsumsi bahan bakar untuk pengujian luar kota. Toyota Camry berhasil meraih konsumsi 15,7 kpl sementara Mazda6 di posisi kedua dengan 15,45 kpl dan Optima di posisi buncit dengan 13,3 kpl.

Hasil untuk pengujian bahan bakar di dalam kota ternyata berbanding terbalik. Kali ini Mazda6 berhasil membuktikan keiritan teknologi SkyActiv mereka dengan mencatat hasil 9,9 kpl. Sedangkan Toyota Camry hanya mencatat hasil 8,6 kpl, lagi-lagi Optima berada di posisi paling bawah dengan mencatat hasil konsumsi 8,4 kpl. Tampaknya menjadi satu-satunya yang memiliki fitur i-Stop yang akan mematikan mesin mobil saat berhenti di kemacetan membuat Mazda6 unggul di penggunaan dalam kota. Sedangkan Camry dan Optima tidak memiliki fitur ini.
Satu hal yang menjadi catatan kami adalah kenyamanan. Mazda6 ternyata sangat berorientasi kepada pengemudi sementara Optima cukup moderat baik bagi pengemudi maupun penumpang. Lain bagi Camry, nampaknya Toyota memang menyediakan mobil ini bagi mereka yang senang menikmati baris kedua. Di Mazda6, meskipun suspensi telah mendapat revisi setingan baru namun kami merasakan jika bantingan dan peredaman pada Mazda6 masih terasa cukup keras dan cukup kurang nyaman terlebih jika dibandingkan dengan Camry yang suspensinya mampu meredam goncangan dalam kabin dengan sangat baik. Sedangkan Optima sedikit lebih keras dari Camry namun masih lebih nyaman dari Mazda6.
Pada akhirnya, semua fitur dan teknologi ini bermuara pada satu hal yaitu harga. Jelas Mazda6 dengan segudang fitur dan teknologi mutakhir jauh mengungguli lawan-lawannya, namun ada kompensasi yang harus dibayar oleh konsumen senilai Rp 600,7 juta. Toyota Camry 2.5 V memiliki selisih harga yang tidak terpaut jauh yaitu Rp 580 juta sedangkan Kia Optima memiliki banderol harga termurah dengan Rp 525 juta. Mazda6 dan Kia Optima hanya tersedia satu varian saja, sedangkan Toyota menyediakan pilihan Camry tipe G, V dan juga Hybrid.
Sekarang sulit untuk menakar mana yang paling baik karena masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan yang berbeda-beda. Jika Anda lebih senang menikmati duduk di belakang tanpa peduli terhadap kenikmatan berkendara tentu pilihan Anda lebih tepat ke Camry. Kia Optima bisa menjadi pilihan jika Anda merupakan orang yang anti-mainstream dan ingin tampil beda. Namun bagi kami yang cukup menghargai kenikmatan berkendara serta fitur dan teknologi canggih terutama fitur keselamatan, Mazda6 menjadi pilihan terbaik.