Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Januari 2016

Mercedes-Benz C250 Exclusive

Mercedes-Benz C250 Exclusive
Generasi baru Mercedes-Benz C-Class rakitan lokal berdesain lebih elegan.

Bersamaan dengan perayaan hari jadi Mercedes-Benz di Indonesia yang ke-45 tahun, PT Mercedes-Benz Indonesia dengan bangga meluncurkan beberapa varian baru dari C-Class yang kini telah dirakitan di pabrik Mercedes-Benz Indonesia di Wanaherang. Mercedes-Benz C-Class sendiri merupakan salah satu model yang paling diminati di jajaran mobil yang dipasarkan oleh Mercedes-Benz di Tanah Air.

Di antara tiga varian baru C-Class yang diluncurkan, kali ini kami berkesempatan menguji varian C250 Exclusive. Mobil ini berbagi mesin serupa dengan varian C250 AMG, namun dengan tampilan yang berbeda. Apabila C250 AMG dibekali paket sporty, C250 Exclusive merupakan varian yang mengusung tampilan lebih berkelas, elegan, dan penuh karisma. Meski begitu, mobil ini tetap memiliki sentuhan sporty.

Perhatikan saja paras wajahnya yang sangat berbeda dengan saudaranya, terutama di bagian grille. C250 AMG menggunakan grille sporty dengan dua palang dan logo bintang besar di tengahnya, sementara Mercedes-Benz C250 Exclusive menggunakan desain klasik yang lebih elegan, dengan simbol bintang kembali ditempatkan di ujung kap mesin. Tak hanya itu, sektor velg roda berukuran 17 inci dengan palang banyak juga menguatkan aura klasik nan elegan dari C250 Exclusive.

Satu hal fitur yang menarik adalah kisi-kisi pada grille nya dapat terbuka dan tertutup otomatis. Fitur tersebut merupakan adopsi dari C250 Plug-in Hybrid yang berfungsi sebagai pendingin radiator pada C250 Exclusive. Saat memerlukan pendinginan, kisi-kisi akan terbuka, dan sebaliknya akan tertutup saat tidak diperlukan, yang sekaligus mengurangi hambatan udara. Di bagian belakang C250 Exclusive telah disematkan knalpot kembar dengan trim krom dan terintegrasi langsung dengan bumper, sehingga tetap memberikan kesan yang sporty.

Mercedes-Benz C250 Exclusive
Jarak sumbu roda 2.840 mm menjanjikan C-Class baru ruang kabin yang lebih luas. Namun bagi penumpang belakang yang memiliki tinggi 175 cm ke atas akan merasa kurang leluasa saat duduk di belakang karena ruang kaki yang cukup terbatas. Sementara bangku pengemudi dan penumpang depan bisa diatur sesuai dengan keinginan, serta memiliki fungsi memori untuk penyimpanan posisi duduk.

Sistem audio yang tersedia merupakan lansiran Burmester yang terdiri dari 13 speaker dan pengeras suara dengan DSP 9-channel dan output total hingga 590 watt. Peta navigasi dengan basis data Garmin Map Pilot juga akan menjamin Anda sampai ke lokasi yang diinginkan. Selain itu, masih ada juga tilt sunroof yang memastikan sinar matahari menerangi kabin saat cuaca hangat.

Jantung mekanis 4-silinder 1.991 liter yang disematkan pada kap mesin merupakan mesin yang sama dengan C250 AMG, yang mampu menghasilkan semburan tenaga 211 hp pada 5.500 rpm dan torsi berlimpah 350 Nm yang tersedia pada rentang 1.200 - 4.000 rpm. Sebagai pendistribusi tenaga telah disiapkan transmisi 7-speed otomatis 7G TRONIC PLUS yang menghasilkan perpindahan gear halus tanpa interupsi.

Mercedes-Benz C250 Exclusive
Saat menginjak pedal akselerator, mobil akan merespon dengan baik dan tidak berlebihan. Akselerasinya mantap dan torsi sudah tersedia di putaran rendah. Bobot pedalnya pun terasa sangat pas, bahkan dalam mode ECO sekalipun Anda masih dapat menikmati berkendara dengan C250 Exclusive.

Lain ceritanya ketika Anda memindahkan mode Agility ke Sport dan Sport+ yang mengubah setelan suspensi menjadi sedikit lebih kaku dan rendah sekaligus menjadikan pedal akselerator lebih ringan dan responsif sehingga hanya dengan sedikit injakan mobil akan langsung melesat cepat. Bobot putaran kemudinya pun akan menyesuaikan dengan kecepatan dan kendalinya akan menurut sesuai dengan arah yang Anda inginkan. Tambahkan dengan fungsi paddle shift di balik lingkar kemudi dan Anda siap untuk bersenang-senang.

Urusan keselamatan tak perlu dipertanyakan lagi karena C250 Exclusive dibekali teknologi dan fitur yang lengkap mulai dari Air Bag, Collision Prevention Assist Plus (CPA+)/Bantuan Tambahan untuk Mencegah Tabrakan, Acceleration Skid Control (ASC), ABS, Attention Assist, Electronic Stability Program (ESP®), Brake Assist (BAS), Active Parking Assist, sistem monitoring terhadap tekanan udara ban, dan perlindungan bagian bawah body.

Rentang harga
Ex-showroom price:Rp 769 Juta (Off the Road)
Mesin
Instalasi:4-silinder, 1.991 cc, bensin

Tenaga:211 hp @ 5.500 rpm

Torsi:350 Nm @ 1.200 - 4.000 rpm
Transmisi
Tipe:otomatis 7-speed
Dimensi
Sumbu roda:2.840 mm

Volume bagasi:1.480 mm
Performa(kpj)
0-100:6,8 detik (klaim)

Mercedes-Benz CLA 45 AMG 4MATIC

Mercedes-Benz CLA 45 AMG 4MATIC
Sedan kompak paling bertenaga, patut ditunggu pembenahannya.

Inilah dia, coupe kompak empat-pintu paling bertenaga racikan Affalterbach, Jerman. Mercedes-Benz CLA 45 AMG 4MATIC menjadi jawaban AMG dalam menghadirkan solusi bagi hampir semua kebutuhan pengemudi mobil di seluruh dunia; sedan tampan berpenampilan coupe, berukuran kompak, bertenaga buas, namun tetap efisien dan, diklaim Mercedes, menyandang status sebagai mobil produksi paling aerodinamis di dunia.
Predikat yang disebutkan terakhir, menjadi hal yang cukup mencengangkan, karena dengan nilai koefisien drag hanya 0,23, CLA-Class jauh lebih “licin” menembus angin dibandingkan Tesla Model S (0,24), Toyota Prius (0,25), hingga Nissan Leaf sekalipun (0,28). Bentuknya yang melandai ala coupe ditambah dengan desain khusus pada bagian kolong mobil membuatnya berhasil membawa status tersebut.
Untuk versi AMG-nya ini, tentu sektor aerodinamika jempolan tersebut akan membantu saat pengemudi memacu kencang mesin yang juga dinobatkan predikat superlatif lainnya, yaitu mesin 4-silinder versi produksi massal terkuat di dunia.
Sebelum berlanjut mengomentari mesinnya tersebut, Anda harus mengetahui fakta bahwa ketika kami menguji CLA 45 AMG ini, Mercedes-AMG baru saja menghadirkan model revisi dari versi hatchback A 45 AMG, yang mendapatkan peningkatan tenaga mesin sekaligus ubahan konfigurasi transmisinya. Kemungkinan besar perubahan tersebut akan berpindah pula kepada model CLA 45 dan GLA 45. Walhasil, mengendarai “versi lamanya” ini menjadi bukti bahwa perubahan di kedua sektor tersebut memang menjadi cukup krusial

Mercedes-Benz CLA 45 AMG 4MATIC
Mesin 4-silinder twin-scroll turbo 2,0 liter menghasilkan tenaga masif 360 hp dan torsi maksimum 450 Nm. Bahkan sebelum versi penyempurnaannya hadir, figur tenaga dan torsinya tersebut sudah jauh meninggalkan kedua rival terdekatnya, Audi S3 Saloon 2,0 L TFSI 4-Silinder (290 hp/380 Nm) dan BMW M235i Coupe dengan mesin berkapasitas lebih besar 3,0 L 6-Silinder turbo sekalipun (326 hp/450 Nm). Mesin ini menjadi esensi utama mengapa seseorang membeli CLA 45 AMG. Padatnya ruang mesin menjadi tanda betapa besar “otot” yang disembunyikan sedan berparas cantik dan seksi ini.
Sayangnya tenaga buas tersebut berkomunikasi harmonis dengan transmisi kopling ganda AMG Speedshift 7-Speed. Deru, dengusan, dan suara mesin berpadu indah dengan ledakan dan overrun-crackles dari Sport Exhaust ketika mode berkendara berpindah dari Controlled Efficiency (C) ke Sport. Hal itulah yang menjadi adiktif paling memuaskan ketika memacu produk kreasi Affalterbach. Namun rentang rasio gigi 2, 3, dan 4 terlalu panjang, sehingga walaupun sudah melaju begitu kencang, Anda akan merasa CLA 45 kurang terasa gesit dan bersemangat. Andai rasionya lebih rapat dan respon transmisi dari paddle-shift bisa lebih responsif, sensasi ledakan suara perpindahan gigi akan jauh lebih sering terdengar, dan berkendara akan menjadi lebih menantang adrenalin.
Berpindah kepada pengendalian, harus diakui sistem kemudi elektronik dan sistem penggerak 4MATIC non-permanen (lebih sering berada pada mode front-wheel drive demi efisiensi bahan bakar, dan baru mendistribusikan tenaga 50:50 ke roda depan dan belakang ketika sistem mendeteksi slip) kurang memicu kesenangan berkendara. Jangan salah terka, sistem ini masih membuat mobil berpindah laju secara tajam dan ketika 4MATIC bekerja, traksinya sangat jempolan. Kekurangannya, kemudi elektrik kurang terasa natural dan terasa terlalu ringan di semua keadaan, dan mode berkendara Sport sekalipun tak membantu banyak dalam menghadirkan rasa komunikatif terhadap kinerja roda depannya.
Yang mengherankan, seharusnya lapisan Alcantara di bagian genggaman lingkar kemudi AMG Performance memberikan grip terhadap genggaman tangan. Namun unit mobil yang kami gunakan, dengan odometer masih di bawah 500 km sekalipun, lapisannya sudah terkikis banyak, menjadikannya sedikit licin ketika digenggam.

Mercedes-Benz CLA 45 AMG 4MATIC
Ajak CLA 45 AMG sebagai mobil sehari-hari, dan Anda akan menyadari betapa hebatnya kapabilitas mobil ini. Tentu, CLA masih memiliki kekurangan terbesar pada interiornya yang meredupkan gairah karena terlihat begitu membosankan dan teknologinya infotainment-nya begitu tertinggal dibandingkan iDrive BMW. Bahkan kami tak melihat sekalipun trim serat karbon pada CLA 45 AMG, yang belakangan sangat erat kaitannya dengan mobil berperforma tinggi.
Beruntung, sebagai pengendara, instrumen meter-cluster khas AMG menjadi penyegar mata bagi para pecinta berkendara. Penempatan lever transmisi kembali di konsol tengah khas AMG juga menjadi ciri spesial semua produk keluaran Affalterbach (kecuali C 63 terbaru yang masih menempatkan transmisi di stalk kanan).
Pindahkan lever tersebut di posisi D, mobil ini melaju dengan santai dan cukup efisien dengan mode berkendara berpindah-pindah dari C, S, dan Manual sekalipun. Dalam rute kombinasi lebih dari 250 km, konsumsi BBM terbaiknya mampu mencapai 7,24 kpl. Bodinya yang kompak membuat manuver di jalanan kota menjadi mudah, dan kamera mundur pun sudah tersedia sebagai standar demi mempermudah manuver parkir. Bantingan suspensi belakang menjadi jauh lebih keras dibandingkan CLA-Class lainnya, namun pergerakannya menjadi lebih terprediksi dan membuat mobil terasa lebih rigid dan tegas.
Ditambah dengan kepraktisan hadirnya pintu belakang frameless yang keren serta ruang bagasi lapang, sebenarnya CLA 45 AMG bisa dengan mudah untuk disukai. Perbaiki sektor transmisi dan desain kabinnya, maka mobil ini akan menjadi jauh lebih berharga dibandingkan apapun yang ada.

Rentang harga
Ex-showroom price:Rp 1,149 miliar (OFR)
Mesin
Instalasi:4-silinder 2,0 liter twin-scroll turbo, bensin

Tenaga:360 hp @ 6.000 rpm

Torsi:450 Nm @ 2.250-5.000 rpm
Transmisi
Tipe:AMG Speedshift DCT 7-Speed
Chassis
Ban:Dunlop Sportmaxx 235/35 ZR19
Performa(kpj)
0-100:4,6 detik (klaim)
Konsumsi bahan bakar
Kota:7,24 kpl (kombinasi, pengujian)

Suzuki Ciaz AT

Suzuki Ciaz AT
Suzuki kembali menantang segmen small saloon dengan Ciaz.

Review Suzuki Ciaz - Anda masih ingat dengan Suzuki Baleno? Small saloon lansiran Suzuki yang sempat menjadi salah satu favorit keluarga di Tanah Air. Lama tidak terdengar, alih-alih dihidupkan kembali, Suzuki kembali memasuki teritori small saloon dengan produk baru bernama Suzuki Ciaz. Sementara, saat artikel ini ditulis, Baleno dikabarkan akan kembali hadir dengan wujud crossover terbaru dari Suzuki.
Suzuki Ciaz sebelumnya sudah melenggang di India dan langsung mendapat respon yang sangat baik. Selain itu, Ciaz juga mengaspal di Cina dengan nama Alivio. Sementara di Indonesia, Ciaz baru diperkenalkan pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show bulan Agustus 2015 kemarin. Di Tanah Air, Ciaz akan berhadapan langsung dengan pesaing-pesaing kuat di segmennya, yakni Toyota Vios dan Honda City.

Impresi pertama dari desain eksterior Ciaz adalah bagian wajahnya yang mirip dengan sang saudara, Suzuki Ertiga, dengan bentuk dan posisi grille yang serupa (hanya berbeda jumlah palang) serta dengan bentuk lampu utama yang sama. Desain tersebut kemudian masih dipermanis dengan fog lamp yang sporty di bawah lampu depan Ciaz. Dari sisi samping, garis pahatan keras di bahu mengalir dari fender depan hingga ke lampu belakang, membentuk siluet yang sporty.

Suzuki Ciaz AT
Dari sekilas pandang memang tak terlihat namun di atas kertas Suzuki Ciaz memiliki dimensi yang lebih lebar dari para kompetitor, ditambah jarak sumbu roda (2.650 mm) yang juga lebih panjang dibanding lawannya (Vios: 2.550 mm, City: 2.600 mm). Tak hanya itu, Suzuki juga memberikan Ciaz ground clearance lebih tinggi dari para pesaingnya, yaitu 160 mm. Berbekal dimensi tersebut, interior Ciaz bisa dibilang cukup lega di kelasnya, baik untuk baris depan maupun penumpang belakang, dan ini merupakan salah satu poin positif dari sebuah small saloon. Saat digunakan mengemudi yang cukup lama, posisi duduk dan bangkunya tidak membuat lelah.

Interiornya didominasi warna hitam yang sporty, dengan sejumlah sentuhan krom di beberapa bagian untuk menciptakan nuansa elegan. Namun, menurut kami desainnya terasa minimalis dan bisa lebih dipoles agar lebih terasa elegan. Begitu juga dengan sistem audio-nya yang terbilang standar, baik secara fungsi dan kualitas suara. Walaupun sudah menyediakan koneksi Bluetooth dan port USB, cukup sulit untuk menghubungkannya dengan perangkat smartphone melalui kedua jalur tersebut. Para kompetitor bahkan sudah menggunakan antarmuka berlayar sentuh yang lebih modern.

Suzuki membekali Ciaz dengan mesin serupa milik Ertiga dan Swift, mesin bensin 1.4 liter yang menghasilkan tenaga 91 hp pada 6.000 rpm dan torsi 130 Nm pada 4.000 rpm dipadankan dengan transmisi otomatis 4-speed. Ciaz berakselerasi cukup baik untuk situasi stop-and-go dalam kota maupun saat melesat kencang di jalan bebas hambatan.


Suzuki Ciaz AT
Ketika melalui jalanan dengan banyak lubang kecil dan tak rata, suspensi Ciaz dapat meredam dengan baik. Begitu pun saat melalui jalanan bergelombang dengan laju sedang hingga kencang tidak menjadi masalah bagi Ciaz. Sayangnya bobot lingkar kemudi yang sangat ringan mengurangi kepercayaan diri dalam mengemudikan Ciaz di kecepatan tinggi.

Sektor keselamatan menjadi salah satu poin utama yang ditawarkan Ciaz dengan Suzuki TECT (Total Effective Control Technology) pada bodi, yakni penggunaan baja ringan dan memiliki fitur struktural bak zona himpit sehingga dapat menyerap energi benturan lebih baik. Tak lupa juga Dual SRS Airbag dan ABS serta EBD sudah tersedia pada Ciaz.

Mesin
Instalasi:K14B 1.4 liter

Tenaga:91 hp @ 6.000 rpm

Torsi:130 Nm @ 4.000 rpm
Transmisi
Tipe:4-speed otomatis
Dimensi
Panjang:4.490 mm

Lebar:1.730 mm

Tinggi:1.475 mm

Sumbu roda:2.650 mm

Ground clearance:160 mm
Suspensi
Depan:MacPherson strut

Belakang:Torsion beam

KIA Sportage CRDi

KIA Sportage CRDi
Dijual terbatas 20 unit tanpa pesaing di kelasnya.

Review Kia Sportage CRDi - PT. Kia Mobil Indonesia (KMI) secara resmi memperkenalkan varian SUV Kia Sportage bermesin diesel pada ajang Indonesia International Motor Show 2015 lalu. Kehadiran varian Sportage bermesin diesel menjadi angin segar di segmen ini, karena menjadi pioneer di kelasnya. Karakteristik mesin diesel dengan torsi yang berlimpah dan konsumsi bahan-bakar yang efisien menjanjikan keunggulan di banding rival-rivalnya. Sayangnya, Kia hanya menyediakan 20 unit Sportage bermesin diesel di Tanah Air.

Dari segi tampilan eksterior, Sportage mengadopsi grille “tiger nose” yang terintegrasi dengan headlamp berisikan lampu LED dengan paduan DRL. Grille diesel ini memiliki sedikit perbedaan karena menggunakan lubang berbentuk sarang tawon, sementara grille tipe bensin punya lubang angin persegi panjang. Bagian buritan mengadopsi lampu kombinasi yang modern.
Di dalam kabin, yang langsung terlihat berbeda adalah head unit terintegrasi dengan layar monokrom. Padahal di versi bensin (Platinum) sudah menggunakan layar monitor. Selain itu, ternyata kontrol AC masih manual padahal di varian bensin sudah menganut teknologi climate control. Jika pada versi bensin jok telah dilengkapi dengan bahan kulit, pada Sportage diesel masih berbahan fabric. Selebihnya tidak ada perbedaan. Kontrol audio turut menghiasi lingkar kemudi dan atap panoramic yang menambah kesan lapang. Sayangnya menurut Kia, Sportage yang dijual di Tanah Air tidak memiliki atap panoramic.
Sportage diesel memiliki dimensi yang identik dengan varian bermesin bensin dengan panjang 4.440 mm, lebar 1.855 mm dan tinggi 1.645 mm. Dengan jarak sumbu 2.645 mm, jarak pijak depan 1.597 mm dan jarak pijak belakang 1.598 mm. Radius putar yang dimiliki sebesar 5.29 meter.

New Sportage Diesel ini mengadopsi mesin diesel CRDi (Common Rail Direct Injection) generasi ketiga berteknologi VGT (Variable Geometry Turbocharger) yang dapat menghasilkan tenaga 177 hp pada 4.000 rpm dengan torsi maksimal 294 Nm pada 1.800-2.500 rpm. Tenaga dari mesin disalurkan kepada roda melalui transmisi otomatis 6-speed. Perpaduan rasio gear yang dimiliki dapat membawa Sportage ini mencapai kecepatan 80 kpj hanya dengan putaran mesin sekitar 1.500 rpm saat berada di gear enam.

Meskipun menggunakan mesin diesel, saat dinyalakan suara mesinnya terbilang tenang. Mesin khas diesel baru terdengar jika Anda menginjak pedal gas dalam-dalam untuk menaikkan putaran mesin. Berkat penggunaan VGT, dorongan mesin sudah terasa agresif dari putaran bawah. Akselerasi yang ditawarkan terbilang mengesankan, jika ingin menikmati mobil secara keseluruhan Anda bisa menggunakan perpindahan manual melalui sequential 6-speed pada tuas transmisi.

Sportage memberikan posisi duduk yang nyaman berkat pengaturan berbagai arah pada kursinya, sayangnya lingkar kemudi hanya mengadopsi pengaturan tilt tanpa teleskopik. Kia menggunakan teknologi MDPS (Motor Driven Power Steering), sistem ini menyesuaikan bobot sesuai dengan kecepatan. Saat kecepatan rendah, lingkar kemudi terasa ringan untuk mempermudah parkir maupun bermanuver kecepatan. Saat Anda menambah kecepatan, lingkar kemudi menambah bobotnya. Hanya saja, tetap terasa ringan bagi saya meski di kecepatan tinggi.


KIA Sportage CRDi
Duduk di belakang terasa cukup memadai untuk diisi oleh tiga orang. Untuk menambah kenyamanan, bangku dapat diatur dengan dua tingkat pengaturan kemiringan. Untuk menambah sisi kepraktisan, kursi belakang dapat dilipat dengan kombinasi 60:40. Sehingga Anda dapat membawa barang yang cukup besar tanpa perlu melipat seluruh kursi belakang.

Sportage mengadopsi suspensi independen McPherson Strut di bagian depan dan Multi Link dengan Coil Spring pada bagian belakang. Kedua suspensi tersebut berpasangan dengan velg  alloy 17 inci dengan ban berukuran 225/60 R17. Kombinasi tersebut mampu meredam jalanan rusak dengan cukup baik meski masih sedikit terasa keras, tanpa memberikan gejala limbung saat berkendara kencang di jalan bebas hambatan.
Dari segi keselamatan, Sportage dilengkapi dengan dual airbag, back sensor, sabuk pengaman tiga titik pada bangku depan maupun belakang, dan sistem ABS serta EBD pada cakram roda depan maupun belakang. Sangat disayangkan harga jual menjadi kelemahan terbesar pada Sportage diesel ini. Namun jika Anda menginginkan sebuah SUV medium yang bertenaga namun tetap irit bahan bakar, Sportage diesel ini patut menjadi pilihan. 

Mesin
Instalasi:1.999 cc,CDRi, VGT
Tenaga:177 hp @ 4.000 rpm
Torsi:294 Nm @4.400 rpm
Transmisi
Tipe:Otomatis 6-speed
Chassis
Ban:255/60 R17

All-New Ford Everest

All-New Ford Everest
Tawarkan kendali dinamis yang baik dan kemampuan off-road mumpuni.

Akhir bulan Juli 2015 lalu, PT Ford Motor Indonesia mengundang sejumlah media Indonesia untuk menjajal langsung performa dan ketangguhan All New Ford Everest di Chiang Rai, Thailand, sebelum resmi dipasarkan di Tanah Air. Sebelum memulai perjalanan, pihak Ford memberikan presentasi produk, serta tujuan pengujian yang akan kami lakukan. Pada etape pertama, kami akan mengajak All New Everest ini menuju Canary Natural Resort dengan jarak kurang-lebih 60 km.
Ford Everest 2.2L
Pada kesempatan pertama, kami mendapat kesempatan mencoba All New Everest bermesin 2,2 liter berpenggerak dua roda. Dari tampilan luar hampir tidak tampak perbedaan signifikan dengan varian lainnya, hanya terdapat badge dengan angka 2.2L sebagai pembeda.
Berbekal dimensi 4.882 x 1.862 x 1.837 mm, Everest baru tampil lebih gemuk dan tinggi dibanding pendahulunya, dengan desain yang mencirikan karakter SUV tangguh. Diperhatikan dengan seksama, desain Everest baru memang lebih modern dibanding generasi sebelumnya, dengan grille trapezoidal besar dan bagian depan serta kap mesin yang lebih tinggi dan lekukannya yang tampak kekar, menghasilkan aura lebih tangguh. Desain tersebut sedikit banyak menyerupai sang saudara, Ford New Ranger.
Masuk ke dalam, interiornya berkesan mewah, dan lapang. Ford menawarkan dua pilihan warna interior, warna gelap Basalt dan cerah Flaxen. Keduanya melengkapi kemewahan dan menunjukkan kualitas tinggi dari interior Everest baru. Duduk di bangku pengemudi terasa nyaman, pas, dan dengan visibilitas yang baik ke depan sehingga saya bisa mengetahui ujung depan mobil.

Tekan tombol Start dan mesin mobil menyala dengan halus. Saya langsung menyadari bahwa Everest baru ini menawarkan kesenyapan kabin yang cukup baik. Hal tersebut antara lain berkat penggunaan material kedap suara yang tersebar di penjuru interior serta teknologi Active Noise Cancellation yang menggunakan tiga mikrofon sensitivitas tinggi untuk menangkal bunyi mesin yang masuk ke dalam kabin.
DI kecepatan rendah, bobot kemudi terasa cukup berat. Namun, saat sudah berjalan hal ini justru mendukung pengendalian kemudi yang lebih mantap. Respon kemudi terasa cepat dan presisi, sehingga meningkatkan kepercayaan diri saat mengendarai SUV 7-penumpang bertubuh besar itu secara dinamis. Apalagi, All New Everest kini telah dibekali EPAS (Electric Power Assist Steering) dengan teknologi Pull-Drift Compensation yang menyesuaikan input dari pengemudi dan beradaptasi terhadap kondisi jalan yang berubah-ubah.
Lebih dari 20 mobil berkonvoi menuju Canary Natural Resort. Etape awal ini didominasi jalanan perkotaan, sehingga laju kendaraan kami cukup konstan. Setelah menempuh sekitar 34 km, rombongan berhenti sejenak di Doi Hang Subdistrict Municipality Office untuk rehat dan bertukar pengemudi dan bergantian dengan peserta lain.
Selepas dari Doi Hang Subdistrict Municipality Office, kami disajikan jalanan lokal perkampungan dengan kondisi berbukit, berkelok-kelok, ruas jalan yang tidak terlalu lebar, dan permukaan jalan tak ramah. Saat menemui tikungan yang cukup tajam, saya mencoba sedikit kemampuan Everest dengan tidak mengurangi kecepatan dan hasilnya membuat saya tersenyum karena melebihi ekspektasi saya.
Electronic Stability Control nya bekerja dengan sangat baik menjaga Everest tetap pada lajur yang saya inginkan, bahkan ketika memasuki tikungan dengan kecepatan yang cukup tinggi atau menikung terlalu cepat, Roll Stability Control dan Curve Control dengan sensor deteksi akan mencegah potensi terjadinya understeer ataupun oversteer dengan menerapkan pengereman sekaligus pengurangan limpahan torsi. Peredaman suspensinya juga terasa sangat mantap, cukup empuk sekaligus solid, terasa nyaman ketika melewati jalan tak ramah maupun jalan rusak berlubang.

All-New Ford Everest
Ford Everest 3.2L
Setibanya di Canary Natural Resort kami langsung disuguhi medan off-road untuk mengetahui ketangguhan Everest sebenarnya sebagai sebuah SUV. Pada sesi ini kami menggunakan mobil Everest 3.2 L berpenggerak empat roda yang telah dilengkapi dengan Terrain Management System dengan pilihan mode Normal, Snow/Mud/Grass, Sand, dan Rock. Kesempatan pertama saya manfaatkan untuk duduk di kursi penumpang baris kedua selama menuju trek off-road. Menjadi penumpang pada Everest baru juga terasa nyaman, dengan posisi duduk lapang berkat kursi yang dapat disesuaikan.
Tantangan off-road pertama menyambut kami, yakni jalan menanjak dengan permukaan tanah basah dan licin yang diakibatkan hujan lebat yang mengguyur semalaman. Pada kondisi ini kami gunakan mode Mud/Snow/Grass untuk memprioritaskan penjagaan traksi pada permukaan licin. Dan ternyata, kondisi tersebut bukan masalah bagi Everest baru berpenggerak 4x4, kami dapat dengan mudah mencapai puncak tanpa hambatan apapun.
Tantangan berikutnya kami diharuskan menyeberangi sungai dangkal dengan permukaan dasar sungai terisi bebatuan kecil. Beruntung Everest baru memiliki kemampuan Water Wading hingga ketinggian 800 mm dan approach angle 29 derajat. Padankan dengan mengaktifkan mode Mud/Snow/Grass atau langsung menekan Electronic Locking Rear Differential untuk meningkatkan traksi dan mencegah terjadinya slip pada roda belakang. Tantangan tersebut pun dapat kami lalui dengan mudah berkat fitur-fitur dan teknologi pendukung off-road dari Everest baru 3.2L.
Pada sesi off-road, kami juga mencoba fitur Hill Descent Control dengan menuruni jalan yang memiliki permukaan semen. Fitur ini menerapkan pengereman otomatis untuk menjaga kecepatan saat melalui turunan curam tanpa harus menginjak pedal rem. Fitur ini dapat dikombinasikan dengan cruise control sehingga Anda dapat melalui turunan curam dengan kecepatan konstan sesuai dengan yang diinginkan.

Setelah menguji semua fitur pendukung off-road dan merasakan kehebatan Everest baru berpenggerak empat roda di medan tak ramah, kami pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Canary Natural Resort. Rute yang kami lalui berbeda dengan sebelumnya dan kali ini masih dipenuhi dengan jalanan tanah basah yang licin sebelum akhirnya bertemu dengan jalan aspal. Sekali lagi saya dapat merasakan kehebatan Everest baru yang dilengkapi Torque on Demand yang secara otomatis mentransfer torsi antara roda depan dan belakang untuk menghasilkan traksi dan kendali maksimal saat dibutuhkan.
Dari Canary Natural Resort, kami kembali menuju lokasi penginapan dan kali ini kami melewati jalan bebas hambatan. Sayangnya kami tidak diperbolehkan lepas dari konvoi sehingga tidak bisa memacu penuh akselerasi Everest baru 3.2 L. Namun kami sempat diberi sedikit jarak untuk merasakan akselerasinya yang responsif dan fitur pintar Blind Spot Information System yang mengingatkan ketika ada kendaraan lain yang tak tertangkap kaca spion, serta Lane Keeping System yang menjaga agar mobil tidak keluar lajur dengan membaca marka jalan. Apabila keluar lajur, Lane Departure Warning akan mengingatkan dengan menggetarkan lingkar kemudi dan jika tetap keluar lajur, Lane Keeping System akan secara otomatis mengembalikan posisi mobil.
Semua varian Everest baru dilengkapi dengan pusat infotainment SYNC2 terbaru untuk mendukung hiburan selama perjalanan dan juga dapat dihubungkan langsung dengan perangkat ponsel pintar Anda. Selain itu, untuk menjamin keselamatan, Everest baru telah dilengkapi juga dengan tujuh aribag
Pengujian Everest baru satu hari penuh di Chiang Rai ini berhasil menyuguhkan pembuktian keandalan, ketangguhan, dan kenyamanan yang ditawarkan dari Everest terbaru. Berbekal semua kemampuan tersebut, Everest baru jelas dapat mengusik segmen SUV 7-penumpang yang saat ini tersedia di pasaran. Tak sabar rasanya mencoba langsung Everest terbaru ini di Tanah Air.

Lamborghini Huracan LP 610-4

Lamborghini Huracan LP 610-4
Sebuah supercar yang amat bertenaga, namun sangat nyaman dan menyenangkan untuk diajak 'bermain' di sirkuit balap

Review Lamborghini Huracan - Acara global bertajuk 'Lamborghini Esperienza' turut diselenggarakan di Sirkuit Sentul, Jawa Barat pada 3-6 September 2015 silam. Acara ini ditujukan untuk calon konsumen dari Indonesia dan beberapa negara tetangga yang ingin menjajal keganasan Lamborghini Aventador dan model terbaru pengganti Gallado, yaitu Huracan. Kami diberi kesempatan tiga lap untuk mencoba menjinakkan Aventador dengan agresivitasnya, dan tiga lap selanjutnya, barulah kami berkenalan dengan Huracan, yang menjadi fokus utama kali ini.
Sebagai penerus model Gallardo, Huracan LP 610-4 dikenalkan di Indonesia pada Sepetember 2014 lalu. Sebagai generasi penerus model paling laris Lamborghini sepanjang masa, Huracan hadir dengan teknologi, desain, dan arsitektur yang benar-benar baru dibandingkan dengan Gallardo.
Lihat saja lampu utamanya kini dengan desain double Y-Shaped sudah mengantongi teknologi full-LED. Begitu pula dengan lampu belakangnya. Hadir lekukan bodi lebih tajam dengan guratan khas Lamborghini Hexagon yang mengedepankan estetika tanpa mengorbankan fungsionalitas dan aerodinamika. Desain air-intake berada di depan, clad-underbody, hingga rear spoiler-lip yang bekerja sama dengan diffuser membuat Lamborghini Huracan tampil atraktif. Jelas, ubahan tersebut menawarkan kesan baru, tidak hadir konservatif.
Huracan sendiri merefleksikan kemewahan mobil di kelas supersportscar melalui penampakan interiornya. Di balik lingkar kemudinya terdapat layar TFT 12,3 inci dengan resolusi tinggi 1.440 x 540 pixel yang menampilkan grafis 3D tajam dan respon ultra cepat dalam menampilkan rev-counter, speedometer, informasi mobil, hingga layar navigasi. Layar ini memiliki tiga mode yaitu Full-Drive Mode, Mixed Mode, dan Full-Navi and Infotainment Mode. Balutan kulit di interior, desain dasbor dan konsol tengah kombinasikan kesan mewah dan sporty ala Lamborghini
Lamborghini Huracan LP 610-4
Sensasi berkendara Huracan terdapat tiga pilihan mode sistem ANIMA (Adaptive Network Intelligent Management), yang berarti “Jiwa” dalam bahasa Italia, yaitu Strada, Sport, dan Corsa. Respon pedal akselerator, transmisi, kemudi, penyaluran tenaga mesin, sound-flap di empat lubang knalpot, suspensi dan damper, sekaligus kontrol stabilitas bisa disesuaikan sesuai kebutuhan mulai dari jalan raya hingga ke lintasan sirkuit.
Huracan menggendong mesin V10 naturally-aspirated berkapasitas 5,2 liter yang telah diatur ulang dari mesin Gallardo sebelumnya, sehingga mampu menghasilkan ledakan tenaga 610 hp pada 8.250 rpm dan torsi maksimum 560 Nm pada 6.500 rpm.
Pada putaran pertama kami menggunakan mode Strada (normal). Mode ini sangat nyaman dan mobil berkarakter tenang ketika Anda menggunakannya di jalan raya. Respon mesin cukup, suara cukup senyap, dan kemudi terasa ringan.
Pada putaran selanjutnya kami mencoba mengubah perilaku Huracan dari tenang menjadi lebih beringas di mode Sport—pihak Lamborghini tidak mengizinkan mode Corsa, sehingga mode Sport dengan semua kontrol stabilitas menyala menjadi satu-satunya pilihan. 'Jiwa' ganas dari Huracan pun bangun tiba-tiba. Ledakan mesin semakin terdengar menderu keras, kondisi kemudi dan sistem suspensi semakin terasa rigid.
Pengendaraannya menjadi semakin asyik dan sedikit ganas. Dari satu apex ke apex lainnya, Huracan hanya membutuhkan sedikit putaran karena kemudinya yang adaptif. Kami menikmati bagaimana Huracan di mode Sport masih bisa sedikit tergelincir mendebarkan di lintasan Sirkuit Sentul dalam mode Sport sekalipun. Adrenalin pun tak terbendung mengalir deras saat Huracan digeber di trek lurus. Sensasi tubuh terdorong kebelakang akibat dorongan tenaganya begitu terasa.
Saat pengujian di trek lurus pada kecepatan di atas 200kpj dan Anda harus melakukan hard-braking, body mobil tetap stabil hingga kecepatan mereda. Salah satu yang membuat pengendaraan nyaman adalah transmisinya. Mobil ini menggunakan sistem Lamborghini Doppia Frizzione (LDP) Dual Clutch 7-Speed, sehingga hentakan saat perpindahan giginya lebih cepat sekaligus lebih “santun” dibandingkan transmisi ISR single-clutch 7-Speed milik Aventador.
Yang tak kalah penting dalam menyokong performa Huracan adalah hybrid-chassis yang terbuat dari campuran antara material serat karbon dan aluminium demi menghasilkan bobot lebih ringan (1.422 kg). Formulasi tersebut menjadikan performanya semakin mantap dan lebih mudah diperbaiki jika terjadi kerusakan.

Mesin
Instalasi:5,2 liter naturally-aspirated V10, bensin

Tenaga:610 hp @ 8.250

Torsi:560 Nm @ 6.500
Transmisi
Tipe:Otomatis 7-percepatan
Dimensi
Volume bagasi:1,422 kg
Suspensi
Depan:Aluminum double-wishbone
Performa(kpj)
0-100:3,2 detik
Konsumsi bahan bakar
Luar kota:8 kpl (kombinasi, klaim)